Welcome to Indomemo.com Awalnya sederhana sekali. Saya sangat suka membaca, dan menulis review tentang buku yang saya baca, sangat membantu saya untuk mengingat dan memahaminya. Saya tinggal di negri uncle sam, tempat dimana literatur relatif mudah didapat. Lewat website ini, saya ingin sekali berbagi kelimpahan itu. Juga bila anda memiliki usulan subjek literatur atau pertanyaan yang berkaitan dengan materi, silakan klik "leave a comment" atau email saya. Teman-teman net-reader, selamat bersantai sambil menambah info di indomemo, semoga anda juga mendapatkan manfaatnya (Shap).
podjokcoklat.com Cerahkan hari anda, dengan kelezatan cokelat, cake/cookies, & parcel dari podjokcoklat.com. Dengan harga terjangkau, kami memberi anda lebih dari sekadar cokelat bermutu yang dibuat khusus untuk anda.
Pesan sekarang
(021) 701-895-40,
(021) 701-895-35 atau
0816-132-3161
klikmelilea.com Memadukan 3 Fungsi:
Makanan Organik
-Naturopati
-Penyembuhan Alami.
Kesehatan anda, adalah segalanya..
Kirim email ke: klikmelilea@yahoo.com
|
“Buku baru!…”
Dua kata inilah yang pertama kali muncul di kepala saya saat membuka halaman paling depan buku ini yang ditempeli sebuah kartu perpustakaan dengan tulisan “DATE DUE: JUNE 23, 2010.” Dari kondisinya, betapa mengkilatnya, terlihat sekali bahwa buku ini belum pernah tersentuh atau di-”check-out” seseorang, mungkin buku stok. Kartunya juga baru, dan tanggal yang tercantum diatas adalah satu-satunya stempel yang tertera.
Siapakah Anthony Robbins?
Saat menulis buku ini, Anthony Robbins adalah seorang pengusaha, penulis, dan presiden direktur dari Robbins Research International Inc. Di usia 24 tahun, Mr. Robbins telah menjadi seorang milyuner dan mendirikan 9 perusahaan. Beliau juga mendirikan The Anthony Robbins Foundation (Yayasan Anthony Robbins) yang bergerak di bidang pemberdayaan/peningkatan potensi anak-anak muda, orang-orang tua, termasuk para narapidana, untuk menjadi kelompok masyarakat yang mampu memberikan kontribusi tinggi bagi masyarakat sekitarnya. Selain perusahaan-perusahaan dan yayasan tersebut, Anthony Robbins juga telah dikenal sebagai pembimbing handal bagi organisasi-organisasi global, termasuk lembaga marinir dan atlit olimpiade.
Gentar, demikian perasaan yang terbit sesaat saya membaca daftar isi buku ini untuk pertama kalinya.
Alasan saya [ya, alasan..:-)] adalah karena saat saya skimming (membaca awal seliwatan), saya merasa bahwa buku ini mengandung muatan energi kemajuan yang kuat sekali. Otak saya tanpa terkendali berpikir: Apakah saya akan mampu menanggulangi hasil stimulasi buku ini seusai membacanya?…tapi bagaimana saya bisa mensarikan isi buku ini untuk para pembaca saya, bila untuk membacanya saja saya mengkerut..?
Tips bagi seseorang yang baru dengan buku-buku motivasi, semata-mata membaca daftar isi buku ini saja juga dapat dirasakan seperti membaca manual “Teknik-teknik praktis trampil terbang.” Foto Mr. Robbins di depan buku ini dimata saya juga terlihat agak “pop,” bukan semacam foto serius atau penuh wibawa yang ada disampul buku-bukunya yang lain atau buku managemen populer pada umumnya.
Bilakah buku ini “hanya” merupakan salah satu buku dari banyak buku managemen populer yang trendi?
Ya ya ya…awalnya saya memang kecut dan begitu penuh prasangka, tetapi semua pemikiran tersebut akhirnya lumer saat paragraf ini tiba-tiba menarik perhatian saya, yang kalau diterjemahkan kira-kira bunyinya demikian:
“Saya memilih untuk percaya bahwa Sang Pencipta kita itu tidak pilih kasih, bahwa kita semua telah diciptakan secara unik, dengan kesempatan yang sama untuk menjalani hidup sepenuhnya… Saya telah Klik disini untuk membaca selengkapnya Belajar untuk bersikap positif, kuat, dan suka berbagi dari Mr. Tony (Review buku “Awaken The Giant Within” by Anthony Robbins
Pada saat saya mengetik halaman kedua dari review yang sedang anda baca ini, saya baru tersadar kalau sepanjang proses membaca dan menuliskan pemikiran saya tentang buku ini, saya belum pernah menemukan bagian yang menyatakan tujuan dan motivasi sang author untuk menulis buku ini. Sambil setengah heran, saya berhenti mengetik, kembali ke bagian awal dari buku ini, dan menelusurinya kata perkata. Tetap tidak ada kata “this book is written…for…because…why..,” atau kata apa saja yang akan memberi petunjuk dan memudahkan saya untuk mengetahui mengapa buku ini ditulis. Setelah kali ke tiga mata saya menelusuri bagian pembukaan buku ini, akhirnya saya memutuskan kalau buku ini pada dasarnya adalah perwujudan dari perluasan sebuah essay yang telah dibuat sebelumnya, tentang topik terkait…
Kesimpulan itu saya ambil setelah membaca kalimat ini dihalaman acknowledgement:
“I owe a special debt to Stephen Granbard who commissioned an essay on this topic and encouraged me to expand the resulting paper into book form..” (xi).
Okay, saya cukup puas, karena alasan itupun buat saya cukup masuk akal bagi seseorang untuk menulis sebuah buku, apalagi sebuah yang berbobot seperti ini. Paling-paling saya berharap bahwa kata-kata “book” yang disebut dalam kalimat itu memang buku ini, dan Gardner tidak sedang membicarakan buku lain (just kidding!).
Dengan didasari pemikiran ini, saya lanjut mengetik, dalam usaha saya mengajak anda untuk mengintip isi buku bertema pendidikan yang judulnya kedengaran seperti kebalikannya ini.
“Pikiran yang enggak disekolahin!?……”
Kata-kata itulah yang secara polos muncul di kepala saya, saat saya membaca judul buku ini untuk pertama kalinya. Buku ini adalah salah satu dari banyak buku bermutu yang ditulis seorang pakar di dunia psikologi pendidikan, Howard Gardner. Bila anda ingin mengetahui sedikit tentang Gardner, silahkan membaca review buku pertamanya yang berjudul “Frames of Mind,” yang tersedia juga di site ini.
“The Unschooled Mind” adalah buku ke-6 yang ditulis Gardner.
Bab pertama dari buku ini (tentu saja) berjudul Introduction. Bab ini membicarakan konsep belajar secara umum. Termasuk pembahasan tentang konsep dasar “intuitive learning” (pembelajaran alami) dan “scholastic learning” (pembelajaran melalui lembaga pendidikan/terstruktur).
Di bab ini Gardner juga menyebutkan tentang hadirnya suatu fenomena belajar saat sebagian anak yang memiliki kemampuan belajar secara intuitif yang sangat tinggi, menunjukkan kemampuan yang sangat berbeda pada saat dihadapkan pada situasi belajar scholastic.
Situasi kebalikannya adalah saat seorang pelajar yang mampu mendemonstrasikan kemampuan akademik yang sangat tinggi dalam format ujian sekolah, gagal menunjukkan kemampuannya, bahkan untuk pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar, hanya karena bentuk pertanyaan atau lembar soalnya mengalami modifikasi.
Menurut Gardner, di dunia belajar-mengajar juga terdapat perbedaan antara konsep “understanding” (sekedar ngerti, sesuai kondisi yang disituasikan), dengan “genuine understanding” (sungguh-sungguh mengerti, dan Klik disini untuk membaca selengkapnya To School or Not To School…?? (Review buku Howard Gardner’s “The Unschooled Mind”)
Insting saya mengatakan kalau buku ini kemungkinan besar tidak akan ada di tanah air.
Ada beberapa alasan mengapa saya menduga demikian. Yang pertama karena buku ini bukan termasuk tipe buku populer dengan subjek spesifik bisnis, psikologi, komik, politik, fiksi, cerita anak, atau berbagai subjek populer lain yang banyak diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan tersedia di toko-toko buku. Juga jelas sekali kalau buku ini juga bukan jenis buku formal tentang sains, pendidikan, atau subjek-subjek lain yang banyak dipakai disekolah-sekolah.
Yang paling telak, buku ini nyatanya memang banyak mengandung foto-foto Klum sendiri sepanjang karirnya sebagai foto model. Banyak diantara foto-foto tersebut yang terlihat “weleh-weleh…” menurut ukuran budaya ketimuran, beberapa diantaranya secara mengagetkan malah berkategori “halaah!!!…”
Oh ya, saya juga tidak bisa berasumsi kalau semua pembaca review buku ini tahu Heidi Klum bukan? Maka saya akan jelaskan sedikit tentang penulis yang juga merupakan subjek buku ini. Heidi Klum adalah seorang supermodel Amerika kelahiran Jerman yang sudah sangat terkenal di bidang profesinya. Selain menjadi foto model, Klum juga menjalankan banyak bisnis. Bisnisnya banyak yang berhubungan dengan kecantikan, namun beberapa diantaranya tidak secara langsung berhubungan. Ia juga menjadi host sebuah tv reality show yang bernama “Project Runway,” dan merupakan salah satu model utama dari produk pakaian terkenal Victoria Secret.
Sampai disini anda mungkin mulai bertanya:
Kenapa (juga) saya menuliskan review buku ini? Dan apa pula gunanya? Klik disini untuk membaca selengkapnya “Membaca Pikiran” Seorang Supermodel Top di Heidi Klum’s “Body of Knowledge” Book
Anda juga jenius!
Satu hari dibulan Januari, teman saya, seorang guru dari Sumatera Utara mengingatkan saya tentang pentingnya membaca buku yang berkaitan dengan teori Multiple Intelligences/MI. Saat itu kami sedang membicarakan tentang teori kecerdasan yang lain, namun beliau menjelaskan kalau di lingkungan pendidikannya saat ini, teori MI inilah yang lebih banyak dipakai dan populer. Demikianlah, saya cari buku yang “bertanggung jawab” atas pencetusan teori ini, dan syukurlah, saya temukan.
Buku ini ditulis oleh Gardner, untuk memenuhi keinginan dari suatu lembaga yang memiliki semacam proyek yang bertujuan untuk mencari mengklarifikasi melalui penyelidikan yang seksama mengenai konsep “human potential.”
 berkarya
Review buku ini adalah salah satu dari rangkaian review buku perintis/pendobrak ide yang ingin saya sajikan. Pada tahun 1983, penerbitan buku inilah yang menandai peluncuran teori MI oleh pencetusnya. Dunia pendidikan saat itu masih dimonopoli oleh aplikasi teori Intelligence Quotient/IQ, sebagai tolak ukur kecerdasan sejak tahun 1900-an. Review kali ini juga lebih merupakan peletakan pondasi dasar dari review buku-buku yang akan datang. Di masa datang saya ingin membaca buku lebih baru yang berhubungan dengan MI dan berbagi infonya dengan anda, dan review ini dapat menjadi referensi bagi anda yg memerlukan informasi dasar teorinya.
Menurut penulisnya, penulisan buku ini diawali oleh sebab yang tidak biasanya. Buku ini ditulis oleh Gardner, untuk memenuhi keinginan dari suatu lembaga yang memiliki semacam proyek yang bertujuan untuk mencari mengklarifikasi melalui penyelidikan yang seksama mengenai konsep “human potential.” Pada saat itu, Howard Gardner adalah salah satu personel dari Graduate School of Education di Harvard University. (ix)
Buku ini memiliki 14 bab, dan disajikan dalam 3 part:
Part I. Background (Latar Belakang).
Terdiri dari 4 bab. Berisikan tentang seluk beluk yang melatar belakangi pencetusan teori ini. Bagian ini juga menjabarkan misi utama Gardner dalam penulisan buku ini, yaitu:
Ketika teman saya, seorang ibu, menceritakan perasaannya tentang buah hatinya yang dikhawatirkan menunjukkan gejala Sensory Integration Dysfunction, tidak ada kata lain yang bisa saya sampaikan, selain menyatakan kalau saya faham perasaannya. Tidak juga ada yang lebih nyata lagi dalam menggambarkan rasa “faham” itu, selain dengan memutar kembali “kaset sendu” keluarga kami yang terekam beberapa tahun yang lalu. Masih ingat rasanya, persis sesaat sebelum pesawat kami take off ke negeri orang, seorang kerabat kami mengucapkan:
“Sa, kata istriku…anakmu autis..”
 touch
Pencarian saya akan buku-buku yang berhubungan dengan Sensory Integration Dysfunction (untuk mempersingkat, selanjutnya akan saya sebut “SID”), diawali dari internet untuk mencari tahu tentang apa yang saat ini sedang terjadi di dunia spektrum autisme secara umum. Setelah mendapatkan info awal, saya masukkan info tersebut ke katalog online jaringan perpustakaan kota kami dan seluruh wilayah sekitarnya. Buku yang berhubungan muncul banyak, beberapa diantaranya kelihatan cukup berharga untuk diburu, dan tersebar di beberapa kota tetangga. Pencarian kemudian saya akhiri dengan 4 buku ditangan, yang saya anggap paling baik untuk dipelajari.
Pada kesempatan ini, saya akan sajikan ulasan tentang buku yang pertama, berjudul “The Out-of-Sync Child: Recognizing and Coping with Sensory Integration Dysfunction.” Setelah membaca review ini, anda akan tahu mengapa saya memilih untuk menyajikan buku ini sebagai kandidat anjuran baca yang pertama. Di rumah, sebelum saya baca, buku ini saya “skim”selama dua malam, sebagai perkenalan yang pertama. Hasilnya? Sampai pada saat saya menulis kalimat ini, sebenarnya saya belum tahu kata yang paling tepat untuk menggambarkannya, tapi hal ini justru yang mendorong saya untuk terus membacanya.
“Orang tua dan guru sering merasa frustasi dalam menangani seorang anak yang memiliki gejala SID,..bagaimana perasaan anak itu sendiri bila hal itu sampai terjadi?…Sama.” (Kranowitz)
Buku ini luar biasa. Sekilas, buku ini kalah mentereng dari sisi fisiknya dibanding ketiga “temannya” yang memiliki kualitas kertas nomor satu yang berwarna putih cerah sampai terlihat agak kebiruan, dengan ilustrasi atau foto sampul yang berwarna cerah juga. Sedangkan buku ini memiliki kertas yang kalau saya boleh sebut: “semi kertas koran,” walaupun tidak setipis itu. Disampulnya, foto super close-up, wajah seorang anak, dengan warna general peach. Kertas buku ini berwarna agak buram, dan setelah saya cek ke toko buku, cetakan ulang yang terbarunya pun memiliki penampilan yang kira-kira sama. Sang penerbit rupanya tidak meng-upgrade-nya menjadi buku yang lebih “fancy.”
Sekarang, darimana sebaiknya saya memulai?
Saat saya membaca sebuah buku, biasanya saya menemukan kalau dari seluruh isi buku, ada bagian-bagian yang berfungsi sebagai “inti,” dan ada Klik disini untuk membaca selengkapnya “The Out-of-Sync Child” book, Berbicara Tentang Anak-Anak yang Tidak Seirama (Review Buku Spektrum Autisme 1)
 Perpustakaan, tempat yang baik untuk belajar dan mengajar
Diantara teman-teman saya, paling tidak ada tiga keluarga yang memutuskan untuk menyekolahkan sendiri anaknya di rumah. Tanpa terhindar, sewaktu-waktu saya terpikir akan berbagai macam motivasi yang melatar belakangi pengambilan keputusan ini. Termasuk mengapa sampai timbul keperluan bagi sebuah keluarga untuk menyekolahkan putra-putrinya di rumah. Pro dan kontra dari teman-teman yang lainnya juga sangat beragam, baik yang positif maupun negatif. Semua info “was-wis-wus” yang saya dengar, tidak berhasil membuat saya untuk bisa menarik kesimpulan sedikitpun tentang hal ini. Jadi bermodalkan rasa ingin tahu, saya memutuskan untuk mempelajari hal ini lebih jauh dari sumber yang lebih legitimate, buku panduannya.
Para penulis buku ini jelas sadar betul, bahwa setiap orang memiliki tujuan yang berbeda-beda saat membaca buku ini. Untuk itu, buku ini disajikan dengan cara yang menurut saya kreatif, menolong, dan unik, dalam usaha menuntun setiap pembacanya mengeksplorasi isi buku. Cara tersebut dinamakan “Tour.”
Sebelum melanjutkan, saya ingin anda mengetahui bahwa disamping alasan tadi, pada waktu yang sama, saya juga mempunyai misi yang sejalan. Dari interaksi saya dengan teman-teman di tanah air, banyak juga para orangtua di Indonesia yang saat ini berminat untuk mempelajari tentang seluk-beluk home school. Pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan hal ini bermunculan bagaikan jamur dimusim hujan (atau di kebun-kebun jamur di pegunungan). Tentu saja bagi teman pembaca di tanah air, buku ini Klik disini untuk membaca selengkapnya Review buku: “The Home School Manual” of Theodore E. Wade, Jr.
Adalah seorang putri, di negri antah-berantah yang telah kehilangan ibunya dimasa kecil. Ayahnya, sang raja, memilih untuk menikah lagi dengan seorang wanita yang sangat cantik. Sang wanita yang telah dipersunting menjadi ratu tersebut begitu cantiknya, namun kecantikannya rupanya tidak pernah membuatnya merasa “Pe-de.”
Setiap hari sang ratu bertanya pada cermin ajaibnya:
“Hai cermin ajaib…siapakah yang tercantik diseluruh negri..??”
Setiap hari pula sang cermin menjawab dengan jujurnya:
“Engkaulah yang tercantik diseluruh negri, baginda ratu..”
Demikianlah yang selalu berlangsung. Sang putri cilik tumbuh berkembang, hingga suatu hari, saat sang ratu bertanya pada cermin ajaibnya, tanpa disangkanya, sang cermin memberikan jawaban berbeda:
“Punteeen…baginda ratu, sekarang Putri Salju adalah yang tercantik..”
Sang ratu sangat murka, dan menyusun rencana untuk membunuh anak tirinya itu…demikianlah, cerita kemudian berlanjut…
Rupanya saya sedang rindu membaca buku dongeng. Waktu saya masih kecil, saya menyukai semua buku saya, namun secara khusus saya sangat suka membaca buku tentang dongeng tradisional, baik dari dalam maupun luar negri.
Pssstt…ternyata Putri Salju tidak pernah di-sun sang pangeran..!!
 Putri Salju Jerman
Bagi saya, dongeng sangat berbeda dengan buku cerita biasa yang kebanyakan menceritakan tentang kisah sehari-hari, atau cerita sejarah tentang kejadian beberapa waktu yang lalu. Dongeng dapat membawa saya menembus ruang dan waktu sangat jauh, ke dunia yang berbeda, pada masa yang jauh berbeda juga. Pada saat itu, buku dongeng yang saya miliki, sangat terbatas jumlahnya, sehingga cerita-cerita dongeng tersebut saya dengar dan dapatkan dari majalah anak-anak.
Di negara-negara berbahasa Inggris, dongeng disebut juga fairy tales. Lima hari yang lalu, sambil mencarikan buku untuk anak saya, saya juga mencari buku-buku jenis ini. Kebanyakan buku dongeng yang ada saat ini merupakan bentuk-bentuk adaptasi, seringkali telah dimodernisasi dari dongeng aslinya. Kemudian saya menemukan buku ini, Snow White and The Seven Dwarfs.
Di tanah air kita, Snow White dikenal dengan nama “Putri Salju.” Buku yang saya temukan memuat kisah ini adalah; Snow White and The Seven Dwarfs yang bila diterjemahkan perkata akan menjadi “Putih Salju dan Tujuh Kurcaci.” Kata-kata “Putri” tidak pernah ada dijudulnya. Klik disini untuk membaca selengkapnya Membaca Snow White versi asli Jerman, bukan sang putri yang di “orbitkan” oleh Walt Disney. (Dari buku “Snow White And The Seven Dwarfs, A Tale From The Brothers Grimm” by Randall Jarrell)
Di sela membaca buku yang serius-serius, boleh dong sekali-kali saya menikmati buku yang rupa dan judulnya membuat saya membayangkan….duduk di tengah Starbuck Cafe yang nyaman, gangguan-free, diiringi sayup-sayup music jenis easy listening, ditemani laptop dan buku kesayangan, sepotong kue lezat pilihan, dan secangkir kopi hangat…
Coffee house yang pertama?.. The Kaveh Kanes, terletak di sebuah mesjid di kota Mekkah, Saudi Arabia…
Buku itu bernama The Coffee Book. Penulisnya bernama Rosemary Moon. Foto yang dipasang di sampul bukunya terlihat melezatkan sekali. Terpampang hidangan terdiri dari segelas bening tinggi kopi hitam dengan busa halus tebal di puncaknya, secangkir cappucino lengkap dengan krim dan taburan coklat bubuk diatasnya, segelas bening berkaki ukir mocha shake, sepotong cheese cake yang telah disiram sirup rasa kopi, semangkuk mocha mousse, coffee ice cream, dan coffee pastry (yuum….).
 The Coffee Book
Buku ini mencakup segala sesuatu tentang kopi. Secara artistik disajikan bab-bab yang menerangkan apa itu kopi, sejarah tentang kopi, kedai kopi/coffee house, kebun-kebun kopi diseluruh dunia, proses lengkap pengolahan biji kopi, 40 resep makanan dan minuman yang terbuat dari kopi, dan lain-lain, sampai pada cara terbaik menikmatinya. Kualitas gambar di dalam buku ini mengagumkan. Setiap halaman dibagi menjadi 2 kolom yang ditata apik, dan tidak kelihatan berlebihan. Setiap halamannya memberikan pengetahuan tentang kopi dengan tingkat kejelian tinggi.
Sedikit mendetail lagi tentang buku ini?
Bahwa kopi merupakan minuman populer yang sudah dinikmati manusia lebih dari seribu tahun. Kopi berasal dari timur tengah. Kopi banyak sekali ragam jenisnya, dan selalu ada Klik disini untuk membaca selengkapnya “Mencicipi” The Coffee Book of Rosemary Moon
Mengapa saya menulis review buku ini?
Pertama, karena buku ini adalah “mbahnya” dari semua buku tentang teori EQ yang sekarang ini telah luas beredar. Kemudian buat saya, topik ini sangat menarik untuk dipelajari. Teori ini menghembuskan udara optimisme/positif dalam usaha memberikan bekal bagi anak-anak kita. Seperti membuktikan bahwa setiap anak dengan latar belakang pendidikan orangtua apapun memiliki harapan untuk sukses. Saya berencana untuk secara bertahap membaca dan memberikan review dari buku-buku yang berhubungan dengan teori ini, oleh karena itu adalah penting bagi saya untuk meletakkan pondasinya bagi artikel-artikel terkait yang akan datang.
Daniel Goleman Ph.D., adalah seorang psikolog, penulis buku, dan jurnalis dibidang sains. Goleman dilahirkan di Stockton, California pada tahun 1946. Saat ini beliau menetap di negara bagian Massachusetts. Goleman mengajar dan mendapatkan gelar Ph.D. dari Harvard University. Sang profesor juga merupakan penulis tetap dari artikel-artikel sains tentang otak dan perilaku di harian The New York Times. Selain itu, beliau juga pernah menjabat sebagai Senior Editor pada majalah Psychology Today.
Seperti telah kita ketahui, dunia psikologi sekarang ini seperti menemukan “mainan baru.” Mainan baru tersebut dikenal dengan nama teori Emotional Intelligence/Kecerdasan Emosi. Istilah ini diperkenalkan oleh Daniel Goleman salah satunya dengan meluncurkan buku ini pada tahun 1995. Sebelum istilah Emotional Intelligence (atau Emotional Quotient/ EQ) muncul, dunia pengukuran kecerdasan manusia dimonopoli oleh istilah Intelligence Quotient /IQ, yang mengukur kecerdasan manusia berdasarkan rangkaian tes dari aspek verbal, working memory, visual-spatial, dll.
Sampai saat ini, saya belum punya cukup informasi cukup tentang seberapa jauh pengetahuan dan pemahaman masyarakat kita tentang EQ ini. Namun saya yakin bahwa pemahaman yang baik tentang EQ akan sangat membantu dunia pendidikan dan masyarakat pada umumnya dimasa depan.

- bermain bersama
Menurut Goleman, EQ mencakup 5 area sebagai berikut…
Ciri-ciri pribadi dengan IQ dan EQ tinggi berbeda-beda pada pria dan wanita, ciri-ciri…
Buku ini telah ditulis berdasarkan terobosan baru dalam penelitian-penelitian tentang otak dan perilaku manusia. Di dalam buku ini Goleman menekankan bahwa Intelligence Quotient/IQ bukan akhir dari takdir yang akan menentukan masa depan seseorang. Hal ini karena di dunia nyata terlihat bahwa orang-orang yang ber-IQ tinggi tidak semuanya menunjukkan prestasi tinggi. Demikian pula sebaliknya, ada orang-orang yang ber-IQ biasa-biasa saja, mencapai sukses yang sangat signifikan. Jadi jelaslah bahwa ada faktor-faktor lain yang ikut “bermain” dalam menentukan tingkat keberhasilan seseorang.
Adalah fakta, bahwa saat badai emosi menguasai seseorang, Klik disini untuk membaca selengkapnya Demam High IQ versus High EQ..? Kembali pada buku yang mengawali semuanya. (Dari buku “Emotional Intelligence, Why It Can Matter More Than IQ.” by Daniel Goleman)
Tema buku ini simply terlalu menarik bagi saya untuk tidak dibuat reviewnya, hehehe….
Carole Hyatt sebelumnya adalah salah satu pemilik Hyatt/Esserman Research Assoc. dan memiliki banyak klien perusahaan dari jajaran Fortune 500, sebelum partner usahanya tiba-tiba meninggal karena serangan jantung, dan menghancurkan kesuksesannya. Linda Goettlieb dikenal sebagai seseorang yang sangat percaya diri dan agresif sebagai senior vice-president Highgate Pictures (perusahaan tv dan film pendidikan), prestasinya sangat mengagumkan boss perusahaan yang dia sendiri ikut “membidani” kelahiran dan kejayaannya. Goettlieb tidak pernah mengalami kegagalan, sampai suatu hari, perusahaan yang menjadi ladang emas prestasi baginya, memecatnya. Setelah menulis buku ini, Carole Hyatt menjalani karir sebagai penulis buku, motivator, dan career dev. consultant yang bereputasi internasional dengan perusahaan bernama Carole Hyatt & Assoc. Linda Gottlieb telah menerima 5 nominasi untuk Daytime Emmy Awards, memenangkan 3 Outstanding Drama Series.
 Bagaikan layangan nyangkut ??
Ih serem banget judulnya…
Yup, kenapa? Karena judul buku ini mengandung suatu kata yang paling kita takuti, yaitu “Fail” alias “Gagal”.
Tapi tahukah anda sesuatu yang unik dari kata (yang kadang menyebutkannya saja) dapat mempengaruhi emosi kita ini?
Yaitu, semua orang tidak menyukai kata ini, tapi semua orang pasti pernah mengalaminya. Kita bisa berusaha menghindari pemakaian kata ini dalam kehidupan sehari-hari,tapi kita tidak akan bisa menghindarinya saat karena suatu sebab yang kita ketahui atau tidak, kita harus mengalami kegagalan.
Jadi tidak perduli umur, jenis kelamin, warna kulit, kedudukan, dan keadaan saat ini, semua manusia pasti pernah mengalami kegagalan. Jadi sia-sialah jika anda berusaha untuk mencari seseorang yang benar-benar tidak pernah gagal, bayi merah saja pernah gagal (saat tersedak mencoba minum pertama kali? ini contoh konyol bukan?). Jadi kenapa ada orang yang disebut sukses, dan ada orang yang disebut gagal? Terus kenapa ada orang yang kelihatannya sukses terus alias bergelimang kesuksesan, dan ada orang yang bergelimang kegagalan?
Sekilas kata lain yang digaris bawahi adalah “pinter/cerdas”. Saya yakin anda sudah pernah mendengar bahwa standar kecerdasan tunggal IQ (Intelligence Quotience) yang digaung-gaungkan orang dulu, kini sudah menjelang “basi”. Prinsip kecerdasan manusia yang sekarang populer adalah kecerdasan multi aspek yang dikenal dengan istilah MI (Multiple Intelligent). Prinsip MI lebih membuka banyak potensi untuk mengeksplorasi dan mengoptimalkan berbagai kemampuan yang dimiliki manusia. Selain itu muncul juga jenis kecerdasan lain yaitu EQ (Emotion Quotience) yang sama penting pengaruhnya dalam kehidupan seseorang.
Saya pikir bagus sekali bagi kita untuk belajar untuk bangkit dari setiap kegagalan, karena pada dasarnya selama ini kita semua pernah mengalami, akan tetapi kita hanya diajarkan hanya untuk mengalami sukses. Bagaimana dengan ilmu untuk bangkit dari kegagalan untuk menjadi sukses?
…….saat hasil usaha kita tidak secara ajaib langsung jadi (bagaikan minta pada lampu aladdin), maka secara prematur kita langsung berpikir; “Ini suatu kesalahan..mari langsung mundur”. Padahal sekali lagi, yang sukses diantara kita semua itu bukan yang tidak pernah gagal, tapi mereka adalah orang-orang yang melihat kegagalan “sebagai salah satu tahapan saja”, dan memilih untuk tidak berhenti di posisi itu..
Balik ke kata pertama, kalau kata “Gagal” itu begitu menakutkan, kenapa (juga) kita bicarakan?
Nah dari sini Klik disini untuk membaca selengkapnya “Waktu Si Pinter Gagal” dari buku “When Smart People Fail,” by Carole Hyatt & Linda Gottlieb
Teman pembaca, seperti yang telah saya singgung pada artikel tentang mata sebelumnya, buku ini adalah buku kedua yang saya baca dalam rangka mencari informasi tentang penyakit katarak. Buku ini ditulis oleh David F. Chang, M.D dan Howard Gimbel , M.D. MPH. Dr. Chang, adalah seorang dokter mata yang lulus dengan gelar summa cum laude dari Harvard Medical School. Beliau menerima banyak sekali penghargaan yang terkait dengan keahliannya dan diakui sebagai pakar katarak di dunia internasional. Dr. Chang telah menulis banyak buku, jurnal, maupun bentuk-bentuk publikasi lain dibidang opthalmology. Dr. Gimbel, adalah pendiri, direktur, dan ahli bedah senior klinik Gimbel Eye Centres, di Calgary dan Edmonton, negara bagian Alberta, Canada. Karena komitmennya dalam dunia kedokteran mata, Dr. Gimbel telah berhasil mengembalikan pengelihatan sebanyak 75.000 orang lebih.
 sunglass/UV blocker, dapat membantu mencegah katarak
Alangkah mulianya tujuan penulisan buku ini. Dr. Chang dan Dr. Gimbel menujukan karyanya bagi siapa saja yang mengalami gangguan dalam pengelihatannya dan menduga gangguan tersebut sebagai gejala penyakit katarak. Kedua dokter ini berharap agar bukunya dapat membantu para pasien tersebut untuk mempersiapkan diri dalam menjalani perawatan medis terkait. Dengan kata lain, buku ini ditulis sebagai bekal bagi para pasien tersebut untuk berkomunikasi dengan para dokter dan memahami seluk beluk penyakit ini dengan benar. Diharapkan, dengan pemahaman yang benar, maka tindakan terbaik akan dapat dilaksanakan demi memulihkan pengelihatan pasien.
Penyakit katarak menurut Dr. Chang & Dr. Gimbel & bilakah katarak diobati?
Katarak adalah pengeruhan lensa mata yang berlangsung secara bertahap. Sekali katarak terbentuk, tidak ada obat, tetes mata, olahraga, kacamata, suplemen, atau asupan herbal apapun yang dapat menghilangkannya. Katarak hanya bisa dihilangkan dengan prosedur operasi. Penyakit katarak yang telah diangkat, tidak akan pernah kembali lagi. Katarak dapat diangkat kapan saja, dan tidak perlu menunggu sampai “matang” seperti kepercayaan banyak orang.(8,21, & 35)
Apakah operasi atau prosedur pengangkatan katarak itu?
Prosedur pengangkatan katarak adalah suatu jenis operasi mata yang dilakukan dengan mengambil lensa mata yang telah mengeruh karena katarak, dan menggantikannya dengan penanaman lensa buatan yang bersifat permanen. Dengan diangkatnya lensa yang telah terkena katarak, akan mengembalikan pengelihatan pasien. (35)
Dapatkah “lapisan” kekeruhannya saja yang diangkat?
Tidak. Hal inilah yang sering menjadi sumber salah paham. Klik disini untuk membaca selengkapnya Katarak, Panduan Perawatan Pasien, dari Dr. Chang & Dr. Gimbel’s Book: “Cataract, A Patient’s Guide to Treatment”
“Besok ibu rencananya dioperasi katarak…mudah-mudahan lancar ya…” Demikian satu baris email yang saya terima dari kakak saya tentang keadaan ibu saya hari ini.
“Minggu depan Papah akan dioperasi katarak…” Pesan dari adik ipar saya, sekitar sepuluh harian yang lalu.
Dan terakhir, dua minggu lalu, teman saya kirim pesan melalui facebook: “Fulan temen kita, inget gak?.., abis dioperasi katarak…do’ain yah..dia sekarang malah gak bisa liat katanya…lagi menggalang bantuan untuk dia neeh..”
 sunglass/UV blocker membantu mencegah penyakit katarak
Membedah perpustakaan untuk mencari buku yang berhubungan dengan penyakit katarak, hari ini saya telah memilih 2 buku yang berhubungan dengan penyakit mata. Buku pertama yang saya pilih adalah buku dari Robert Abel Jr., M.D., yang berjudul The Eye Care Revolution. Buku yang kedua adalah Cataracts, A Patient Guide To Treatment oleh David F. Chang M.D. dan Howard Gimbel M.D. Setelah membaca isinya, saya menilai kalau dua buku ini membawa dua misi yang berbeda. Pada kesempatan ini, saya akan mengajak anda untuk ikut belajar dari buku yang pertama.
Dr. Robert Abel, Jr., adalah lulusan Wesleyan University dan Jefferson Medical College. Bersama dengan dokter lainnya, Dr. Abel menciptakan alternative medicine curriculum untuk Thomas Jefferson University. Beliau juga ikut membantu pendirian bank-bank mata, memegang hak paten dalam pembuatan artificial corneas, serta menerima penghargaan dari American Academy of Opthalmology. Praktisi Tai Chi Ch’uan ini memiliki misi untuk membawa dunia kesehatan mata abad 21 kepada sistem pengobatan menyeluruh/mind-body medicine. (444)
Saya tidak mengira kalau saya akan betah membaca buku ini. Sampul luar buku ini buat saya sangat tidak menarik. Hanya buku berwarna putih polos dengan sebidang hitam dan merah seperti pita melintang vertikal dan horisontal, serta tebal seperti bantal pula. Saya ambil buku ini dari rak, pada awalnya, karena sampulnya mengandung tulisan “pengobatan”, “pencegahan”, dan “katarak”. Namun segera saya temukan bahwa buku ini bukan buku pengobatan kedokteran biasa.
Duapuluh tip kesehatan tubuh dan pengelihatan anda menurut Dr. Abel: 1. Mendekat ke alam, temukan harmoni antara kehidupan anda, alam, dan segala sesuatu yang ada disekitar anda,…, 5. Bernafas yang panjang dan dalam, 7. Lindungi hati/liver anda..
Kata pembuka buku ini diberikan oleh Mehmet Oz, M.D. Dr. Mehmet adalah seorang dokter senior yang sekarang ini sudah sangat populer dengan kemunculannya yang berkala di Oprah Winfrey TV Show. Kini Dr. Oz telah memiliki acara tv sendiri bernama The Dr. Oz Show. Di kedua acara tv ini, Dr. Mehmet Oz selalu memberikan anjuran-anjuran tentang kesehatan yang paling diperlukan masyarakat Amerika.
Kembali ke Dr. Abel, beliau adalah seorang dokter Zen* yang telah matang dibidangnya. Kehidupan profesionalnya dia dedikasikan sebagai pemelihara pengelihatan. Di dalam buku ini Dr. Abel menunjukkan bahwa mata merupakan cermin yang dapat menyingkapkan “rahasia” Klik disini untuk membaca selengkapnya Dari Dr. Abel’s “The Eye Care Revolution” Book: Beberapa hal penting dalam menjaga kesehatan mata/pengelihatan (Part I)
|
Best Words Ever Spoken Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah ia tidak akan bertemu dengan kemajuan selangkah pun.(Ir.Sukarno)
I have never met a stupid child, though I've met plenty of children whom adults insist on calling “stupid” when the children don't perform in a way that conform to adult expectations. (Hillary Clinton)
---Saya belum pernah bertemu dengan seorang anak yang bodoh, walaupun saya banyak bertemu dengan orangtua yang "ngotot" untuk menyebut anaknya "bodoh", disaat anaknya tidak tampil sesuai dengan cara yang diinginkannya.---
Success is a lousy teacher. It seduces smart people into thinking they can't lose.
(Bill Gates)
The future belongs to the people who believe the beauty of their dreams.
(Eleanor Roosevelt)
Reputasi anda (selalu) ada ditangan orang lain.
Itulah reputasi.
Anda tidak akan bisa mengontrolnya.
Yang bisa anda kontrol adalah karakter anda sendiri.
(Dr. W. Dyer)
Semakin banyak saya membaca, semakin "haus" saya merasa.
(Shap)
Anda bisa berbagi karya di indomemo & email contact Indomemo.com bersedia memuat karya anda terpilih secara sukarela. Kirimkan karya anda ke redaksiindomemo@yahoo.com. Penulis akan diberitahu bila karyanya dimuat.
|
Input & Opini