Welcome to Indomemo.com Awalnya sederhana sekali. Saya sangat suka membaca, dan menulis review tentang buku yang saya baca, sangat membantu saya untuk mengingat dan memahaminya. Saya tinggal di negri uncle sam, tempat dimana literatur relatif mudah didapat. Lewat website ini, saya ingin sekali berbagi kelimpahan itu. Juga bila anda memiliki usulan subjek literatur atau pertanyaan yang berkaitan dengan materi, silakan klik "leave a comment" atau email saya. Teman-teman net-reader, selamat bersantai sambil menambah info di indomemo, semoga anda juga mendapatkan manfaatnya (Shap).
podjokcoklat.com Cerahkan hari anda, dengan kelezatan cokelat, cake/cookies, & parcel dari podjokcoklat.com. Dengan harga terjangkau, kami memberi anda lebih dari sekadar cokelat bermutu yang dibuat khusus untuk anda.
Pesan sekarang
(021) 701-895-40,
(021) 701-895-35 atau
0816-132-3161
klikmelilea.com Memadukan 3 Fungsi:
Makanan Organik
-Naturopati
-Penyembuhan Alami.
Kesehatan anda, adalah segalanya..
Kirim email ke: klikmelilea@yahoo.com
|
“Buku baru!…”
Dua kata inilah yang pertama kali muncul di kepala saya saat membuka halaman paling depan buku ini yang ditempeli sebuah kartu perpustakaan dengan tulisan “DATE DUE: JUNE 23, 2010.” Dari kondisinya, betapa mengkilatnya, terlihat sekali bahwa buku ini belum pernah tersentuh atau di-”check-out” seseorang, mungkin buku stok. Kartunya juga baru, dan tanggal yang tercantum diatas adalah satu-satunya stempel yang tertera.
Siapakah Anthony Robbins?
Saat menulis buku ini, Anthony Robbins adalah seorang pengusaha, penulis, dan presiden direktur dari Robbins Research International Inc. Di usia 24 tahun, Mr. Robbins telah menjadi seorang milyuner dan mendirikan 9 perusahaan. Beliau juga mendirikan The Anthony Robbins Foundation (Yayasan Anthony Robbins) yang bergerak di bidang pemberdayaan/peningkatan potensi anak-anak muda, orang-orang tua, termasuk para narapidana, untuk menjadi kelompok masyarakat yang mampu memberikan kontribusi tinggi bagi masyarakat sekitarnya. Selain perusahaan-perusahaan dan yayasan tersebut, Anthony Robbins juga telah dikenal sebagai pembimbing handal bagi organisasi-organisasi global, termasuk lembaga marinir dan atlit olimpiade.
Gentar, demikian perasaan yang terbit sesaat saya membaca daftar isi buku ini untuk pertama kalinya.
Alasan saya [ya, alasan..:-)] adalah karena saat saya skimming (membaca awal seliwatan), saya merasa bahwa buku ini mengandung muatan energi kemajuan yang kuat sekali. Otak saya tanpa terkendali berpikir: Apakah saya akan mampu menanggulangi hasil stimulasi buku ini seusai membacanya?…tapi bagaimana saya bisa mensarikan isi buku ini untuk para pembaca saya, bila untuk membacanya saja saya mengkerut..?
Tips bagi seseorang yang baru dengan buku-buku motivasi, semata-mata membaca daftar isi buku ini saja juga dapat dirasakan seperti membaca manual “Teknik-teknik praktis trampil terbang.” Foto Mr. Robbins di depan buku ini dimata saya juga terlihat agak “pop,” bukan semacam foto serius atau penuh wibawa yang ada disampul buku-bukunya yang lain atau buku managemen populer pada umumnya.
Bilakah buku ini “hanya” merupakan salah satu buku dari banyak buku managemen populer yang trendi?
Ya ya ya…awalnya saya memang kecut dan begitu penuh prasangka, tetapi semua pemikiran tersebut akhirnya lumer saat paragraf ini tiba-tiba menarik perhatian saya, yang kalau diterjemahkan kira-kira bunyinya demikian:
“Saya memilih untuk percaya bahwa Sang Pencipta kita itu tidak pilih kasih, bahwa kita semua telah diciptakan secara unik, dengan kesempatan yang sama untuk menjalani hidup sepenuhnya… Saya telah Klik disini untuk membaca selengkapnya Belajar untuk bersikap positif, kuat, dan suka berbagi dari Mr. Tony (Review buku “Awaken The Giant Within” by Anthony Robbins
Pada saat saya mengetik halaman kedua dari review yang sedang anda baca ini, saya baru tersadar kalau sepanjang proses membaca dan menuliskan pemikiran saya tentang buku ini, saya belum pernah menemukan bagian yang menyatakan tujuan dan motivasi sang author untuk menulis buku ini. Sambil setengah heran, saya berhenti mengetik, kembali ke bagian awal dari buku ini, dan menelusurinya kata perkata. Tetap tidak ada kata “this book is written…for…because…why..,” atau kata apa saja yang akan memberi petunjuk dan memudahkan saya untuk mengetahui mengapa buku ini ditulis. Setelah kali ke tiga mata saya menelusuri bagian pembukaan buku ini, akhirnya saya memutuskan kalau buku ini pada dasarnya adalah perwujudan dari perluasan sebuah essay yang telah dibuat sebelumnya, tentang topik terkait…
Kesimpulan itu saya ambil setelah membaca kalimat ini dihalaman acknowledgement:
“I owe a special debt to Stephen Granbard who commissioned an essay on this topic and encouraged me to expand the resulting paper into book form..” (xi).
Okay, saya cukup puas, karena alasan itupun buat saya cukup masuk akal bagi seseorang untuk menulis sebuah buku, apalagi sebuah yang berbobot seperti ini. Paling-paling saya berharap bahwa kata-kata “book” yang disebut dalam kalimat itu memang buku ini, dan Gardner tidak sedang membicarakan buku lain (just kidding!).
Dengan didasari pemikiran ini, saya lanjut mengetik, dalam usaha saya mengajak anda untuk mengintip isi buku bertema pendidikan yang judulnya kedengaran seperti kebalikannya ini.
“Pikiran yang enggak disekolahin!?……”
Kata-kata itulah yang secara polos muncul di kepala saya, saat saya membaca judul buku ini untuk pertama kalinya. Buku ini adalah salah satu dari banyak buku bermutu yang ditulis seorang pakar di dunia psikologi pendidikan, Howard Gardner. Bila anda ingin mengetahui sedikit tentang Gardner, silahkan membaca review buku pertamanya yang berjudul “Frames of Mind,” yang tersedia juga di site ini.
“The Unschooled Mind” adalah buku ke-6 yang ditulis Gardner.
Bab pertama dari buku ini (tentu saja) berjudul Introduction. Bab ini membicarakan konsep belajar secara umum. Termasuk pembahasan tentang konsep dasar “intuitive learning” (pembelajaran alami) dan “scholastic learning” (pembelajaran melalui lembaga pendidikan/terstruktur).
Di bab ini Gardner juga menyebutkan tentang hadirnya suatu fenomena belajar saat sebagian anak yang memiliki kemampuan belajar secara intuitif yang sangat tinggi, menunjukkan kemampuan yang sangat berbeda pada saat dihadapkan pada situasi belajar scholastic.
Situasi kebalikannya adalah saat seorang pelajar yang mampu mendemonstrasikan kemampuan akademik yang sangat tinggi dalam format ujian sekolah, gagal menunjukkan kemampuannya, bahkan untuk pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar, hanya karena bentuk pertanyaan atau lembar soalnya mengalami modifikasi.
Menurut Gardner, di dunia belajar-mengajar juga terdapat perbedaan antara konsep “understanding” (sekedar ngerti, sesuai kondisi yang disituasikan), dengan “genuine understanding” (sungguh-sungguh mengerti, dan Klik disini untuk membaca selengkapnya To School or Not To School…?? (Review buku Howard Gardner’s “The Unschooled Mind”)
Anda juga jenius!
Satu hari dibulan Januari, teman saya, seorang guru dari Sumatera Utara mengingatkan saya tentang pentingnya membaca buku yang berkaitan dengan teori Multiple Intelligences/MI. Saat itu kami sedang membicarakan tentang teori kecerdasan yang lain, namun beliau menjelaskan kalau di lingkungan pendidikannya saat ini, teori MI inilah yang lebih banyak dipakai dan populer. Demikianlah, saya cari buku yang “bertanggung jawab” atas pencetusan teori ini, dan syukurlah, saya temukan.
Buku ini ditulis oleh Gardner, untuk memenuhi keinginan dari suatu lembaga yang memiliki semacam proyek yang bertujuan untuk mencari mengklarifikasi melalui penyelidikan yang seksama mengenai konsep “human potential.”
 berkarya
Review buku ini adalah salah satu dari rangkaian review buku perintis/pendobrak ide yang ingin saya sajikan. Pada tahun 1983, penerbitan buku inilah yang menandai peluncuran teori MI oleh pencetusnya. Dunia pendidikan saat itu masih dimonopoli oleh aplikasi teori Intelligence Quotient/IQ, sebagai tolak ukur kecerdasan sejak tahun 1900-an. Review kali ini juga lebih merupakan peletakan pondasi dasar dari review buku-buku yang akan datang. Di masa datang saya ingin membaca buku lebih baru yang berhubungan dengan MI dan berbagi infonya dengan anda, dan review ini dapat menjadi referensi bagi anda yg memerlukan informasi dasar teorinya.
Menurut penulisnya, penulisan buku ini diawali oleh sebab yang tidak biasanya. Buku ini ditulis oleh Gardner, untuk memenuhi keinginan dari suatu lembaga yang memiliki semacam proyek yang bertujuan untuk mencari mengklarifikasi melalui penyelidikan yang seksama mengenai konsep “human potential.” Pada saat itu, Howard Gardner adalah salah satu personel dari Graduate School of Education di Harvard University. (ix)
Buku ini memiliki 14 bab, dan disajikan dalam 3 part:
Part I. Background (Latar Belakang).
Terdiri dari 4 bab. Berisikan tentang seluk beluk yang melatar belakangi pencetusan teori ini. Bagian ini juga menjabarkan misi utama Gardner dalam penulisan buku ini, yaitu:
Ketika teman saya, seorang ibu, menceritakan perasaannya tentang buah hatinya yang dikhawatirkan menunjukkan gejala Sensory Integration Dysfunction, tidak ada kata lain yang bisa saya sampaikan, selain menyatakan kalau saya faham perasaannya. Tidak juga ada yang lebih nyata lagi dalam menggambarkan rasa “faham” itu, selain dengan memutar kembali “kaset sendu” keluarga kami yang terekam beberapa tahun yang lalu. Masih ingat rasanya, persis sesaat sebelum pesawat kami take off ke negeri orang, seorang kerabat kami mengucapkan:
“Sa, kata istriku…anakmu autis..”
 touch
Pencarian saya akan buku-buku yang berhubungan dengan Sensory Integration Dysfunction (untuk mempersingkat, selanjutnya akan saya sebut “SID”), diawali dari internet untuk mencari tahu tentang apa yang saat ini sedang terjadi di dunia spektrum autisme secara umum. Setelah mendapatkan info awal, saya masukkan info tersebut ke katalog online jaringan perpustakaan kota kami dan seluruh wilayah sekitarnya. Buku yang berhubungan muncul banyak, beberapa diantaranya kelihatan cukup berharga untuk diburu, dan tersebar di beberapa kota tetangga. Pencarian kemudian saya akhiri dengan 4 buku ditangan, yang saya anggap paling baik untuk dipelajari.
Pada kesempatan ini, saya akan sajikan ulasan tentang buku yang pertama, berjudul “The Out-of-Sync Child: Recognizing and Coping with Sensory Integration Dysfunction.” Setelah membaca review ini, anda akan tahu mengapa saya memilih untuk menyajikan buku ini sebagai kandidat anjuran baca yang pertama. Di rumah, sebelum saya baca, buku ini saya “skim”selama dua malam, sebagai perkenalan yang pertama. Hasilnya? Sampai pada saat saya menulis kalimat ini, sebenarnya saya belum tahu kata yang paling tepat untuk menggambarkannya, tapi hal ini justru yang mendorong saya untuk terus membacanya.
“Orang tua dan guru sering merasa frustasi dalam menangani seorang anak yang memiliki gejala SID,..bagaimana perasaan anak itu sendiri bila hal itu sampai terjadi?…Sama.” (Kranowitz)
Buku ini luar biasa. Sekilas, buku ini kalah mentereng dari sisi fisiknya dibanding ketiga “temannya” yang memiliki kualitas kertas nomor satu yang berwarna putih cerah sampai terlihat agak kebiruan, dengan ilustrasi atau foto sampul yang berwarna cerah juga. Sedangkan buku ini memiliki kertas yang kalau saya boleh sebut: “semi kertas koran,” walaupun tidak setipis itu. Disampulnya, foto super close-up, wajah seorang anak, dengan warna general peach. Kertas buku ini berwarna agak buram, dan setelah saya cek ke toko buku, cetakan ulang yang terbarunya pun memiliki penampilan yang kira-kira sama. Sang penerbit rupanya tidak meng-upgrade-nya menjadi buku yang lebih “fancy.”
Sekarang, darimana sebaiknya saya memulai?
Saat saya membaca sebuah buku, biasanya saya menemukan kalau dari seluruh isi buku, ada bagian-bagian yang berfungsi sebagai “inti,” dan ada Klik disini untuk membaca selengkapnya “The Out-of-Sync Child” book, Berbicara Tentang Anak-Anak yang Tidak Seirama (Review Buku Spektrum Autisme 1)
 Perpustakaan, tempat yang baik untuk belajar dan mengajar
Diantara teman-teman saya, paling tidak ada tiga keluarga yang memutuskan untuk menyekolahkan sendiri anaknya di rumah. Tanpa terhindar, sewaktu-waktu saya terpikir akan berbagai macam motivasi yang melatar belakangi pengambilan keputusan ini. Termasuk mengapa sampai timbul keperluan bagi sebuah keluarga untuk menyekolahkan putra-putrinya di rumah. Pro dan kontra dari teman-teman yang lainnya juga sangat beragam, baik yang positif maupun negatif. Semua info “was-wis-wus” yang saya dengar, tidak berhasil membuat saya untuk bisa menarik kesimpulan sedikitpun tentang hal ini. Jadi bermodalkan rasa ingin tahu, saya memutuskan untuk mempelajari hal ini lebih jauh dari sumber yang lebih legitimate, buku panduannya.
Para penulis buku ini jelas sadar betul, bahwa setiap orang memiliki tujuan yang berbeda-beda saat membaca buku ini. Untuk itu, buku ini disajikan dengan cara yang menurut saya kreatif, menolong, dan unik, dalam usaha menuntun setiap pembacanya mengeksplorasi isi buku. Cara tersebut dinamakan “Tour.”
Sebelum melanjutkan, saya ingin anda mengetahui bahwa disamping alasan tadi, pada waktu yang sama, saya juga mempunyai misi yang sejalan. Dari interaksi saya dengan teman-teman di tanah air, banyak juga para orangtua di Indonesia yang saat ini berminat untuk mempelajari tentang seluk-beluk home school. Pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan hal ini bermunculan bagaikan jamur dimusim hujan (atau di kebun-kebun jamur di pegunungan). Tentu saja bagi teman pembaca di tanah air, buku ini Klik disini untuk membaca selengkapnya Review buku: “The Home School Manual” of Theodore E. Wade, Jr.
Mengapa saya menulis review buku ini?
Pertama, karena buku ini adalah “mbahnya” dari semua buku tentang teori EQ yang sekarang ini telah luas beredar. Kemudian buat saya, topik ini sangat menarik untuk dipelajari. Teori ini menghembuskan udara optimisme/positif dalam usaha memberikan bekal bagi anak-anak kita. Seperti membuktikan bahwa setiap anak dengan latar belakang pendidikan orangtua apapun memiliki harapan untuk sukses. Saya berencana untuk secara bertahap membaca dan memberikan review dari buku-buku yang berhubungan dengan teori ini, oleh karena itu adalah penting bagi saya untuk meletakkan pondasinya bagi artikel-artikel terkait yang akan datang.
Daniel Goleman Ph.D., adalah seorang psikolog, penulis buku, dan jurnalis dibidang sains. Goleman dilahirkan di Stockton, California pada tahun 1946. Saat ini beliau menetap di negara bagian Massachusetts. Goleman mengajar dan mendapatkan gelar Ph.D. dari Harvard University. Sang profesor juga merupakan penulis tetap dari artikel-artikel sains tentang otak dan perilaku di harian The New York Times. Selain itu, beliau juga pernah menjabat sebagai Senior Editor pada majalah Psychology Today.
Seperti telah kita ketahui, dunia psikologi sekarang ini seperti menemukan “mainan baru.” Mainan baru tersebut dikenal dengan nama teori Emotional Intelligence/Kecerdasan Emosi. Istilah ini diperkenalkan oleh Daniel Goleman salah satunya dengan meluncurkan buku ini pada tahun 1995. Sebelum istilah Emotional Intelligence (atau Emotional Quotient/ EQ) muncul, dunia pengukuran kecerdasan manusia dimonopoli oleh istilah Intelligence Quotient /IQ, yang mengukur kecerdasan manusia berdasarkan rangkaian tes dari aspek verbal, working memory, visual-spatial, dll.
Sampai saat ini, saya belum punya cukup informasi cukup tentang seberapa jauh pengetahuan dan pemahaman masyarakat kita tentang EQ ini. Namun saya yakin bahwa pemahaman yang baik tentang EQ akan sangat membantu dunia pendidikan dan masyarakat pada umumnya dimasa depan.

- bermain bersama
Menurut Goleman, EQ mencakup 5 area sebagai berikut…
Ciri-ciri pribadi dengan IQ dan EQ tinggi berbeda-beda pada pria dan wanita, ciri-ciri…
Buku ini telah ditulis berdasarkan terobosan baru dalam penelitian-penelitian tentang otak dan perilaku manusia. Di dalam buku ini Goleman menekankan bahwa Intelligence Quotient/IQ bukan akhir dari takdir yang akan menentukan masa depan seseorang. Hal ini karena di dunia nyata terlihat bahwa orang-orang yang ber-IQ tinggi tidak semuanya menunjukkan prestasi tinggi. Demikian pula sebaliknya, ada orang-orang yang ber-IQ biasa-biasa saja, mencapai sukses yang sangat signifikan. Jadi jelaslah bahwa ada faktor-faktor lain yang ikut “bermain” dalam menentukan tingkat keberhasilan seseorang.
Adalah fakta, bahwa saat badai emosi menguasai seseorang, Klik disini untuk membaca selengkapnya Demam High IQ versus High EQ..? Kembali pada buku yang mengawali semuanya. (Dari buku “Emotional Intelligence, Why It Can Matter More Than IQ.” by Daniel Goleman)
Tema buku ini simply terlalu menarik bagi saya untuk tidak dibuat reviewnya, hehehe….
Carole Hyatt sebelumnya adalah salah satu pemilik Hyatt/Esserman Research Assoc. dan memiliki banyak klien perusahaan dari jajaran Fortune 500, sebelum partner usahanya tiba-tiba meninggal karena serangan jantung, dan menghancurkan kesuksesannya. Linda Goettlieb dikenal sebagai seseorang yang sangat percaya diri dan agresif sebagai senior vice-president Highgate Pictures (perusahaan tv dan film pendidikan), prestasinya sangat mengagumkan boss perusahaan yang dia sendiri ikut “membidani” kelahiran dan kejayaannya. Goettlieb tidak pernah mengalami kegagalan, sampai suatu hari, perusahaan yang menjadi ladang emas prestasi baginya, memecatnya. Setelah menulis buku ini, Carole Hyatt menjalani karir sebagai penulis buku, motivator, dan career dev. consultant yang bereputasi internasional dengan perusahaan bernama Carole Hyatt & Assoc. Linda Gottlieb telah menerima 5 nominasi untuk Daytime Emmy Awards, memenangkan 3 Outstanding Drama Series.
 Bagaikan layangan nyangkut ??
Ih serem banget judulnya…
Yup, kenapa? Karena judul buku ini mengandung suatu kata yang paling kita takuti, yaitu “Fail” alias “Gagal”.
Tapi tahukah anda sesuatu yang unik dari kata (yang kadang menyebutkannya saja) dapat mempengaruhi emosi kita ini?
Yaitu, semua orang tidak menyukai kata ini, tapi semua orang pasti pernah mengalaminya. Kita bisa berusaha menghindari pemakaian kata ini dalam kehidupan sehari-hari,tapi kita tidak akan bisa menghindarinya saat karena suatu sebab yang kita ketahui atau tidak, kita harus mengalami kegagalan.
Jadi tidak perduli umur, jenis kelamin, warna kulit, kedudukan, dan keadaan saat ini, semua manusia pasti pernah mengalami kegagalan. Jadi sia-sialah jika anda berusaha untuk mencari seseorang yang benar-benar tidak pernah gagal, bayi merah saja pernah gagal (saat tersedak mencoba minum pertama kali? ini contoh konyol bukan?). Jadi kenapa ada orang yang disebut sukses, dan ada orang yang disebut gagal? Terus kenapa ada orang yang kelihatannya sukses terus alias bergelimang kesuksesan, dan ada orang yang bergelimang kegagalan?
Sekilas kata lain yang digaris bawahi adalah “pinter/cerdas”. Saya yakin anda sudah pernah mendengar bahwa standar kecerdasan tunggal IQ (Intelligence Quotience) yang digaung-gaungkan orang dulu, kini sudah menjelang “basi”. Prinsip kecerdasan manusia yang sekarang populer adalah kecerdasan multi aspek yang dikenal dengan istilah MI (Multiple Intelligent). Prinsip MI lebih membuka banyak potensi untuk mengeksplorasi dan mengoptimalkan berbagai kemampuan yang dimiliki manusia. Selain itu muncul juga jenis kecerdasan lain yaitu EQ (Emotion Quotience) yang sama penting pengaruhnya dalam kehidupan seseorang.
Saya pikir bagus sekali bagi kita untuk belajar untuk bangkit dari setiap kegagalan, karena pada dasarnya selama ini kita semua pernah mengalami, akan tetapi kita hanya diajarkan hanya untuk mengalami sukses. Bagaimana dengan ilmu untuk bangkit dari kegagalan untuk menjadi sukses?
…….saat hasil usaha kita tidak secara ajaib langsung jadi (bagaikan minta pada lampu aladdin), maka secara prematur kita langsung berpikir; “Ini suatu kesalahan..mari langsung mundur”. Padahal sekali lagi, yang sukses diantara kita semua itu bukan yang tidak pernah gagal, tapi mereka adalah orang-orang yang melihat kegagalan “sebagai salah satu tahapan saja”, dan memilih untuk tidak berhenti di posisi itu..
Balik ke kata pertama, kalau kata “Gagal” itu begitu menakutkan, kenapa (juga) kita bicarakan?
Nah dari sini Klik disini untuk membaca selengkapnya “Waktu Si Pinter Gagal” dari buku “When Smart People Fail,” by Carole Hyatt & Linda Gottlieb
….pada dasarnya dengan melayani ego setiap individu, kita dapat mendapatkan “kunci” menuju hati seseorang. Namun, tidak layaklah bagi kita secara moral untuk menggunakan “titik-titik kemanusiaan” tersebut untuk mendapatkan apa yang kita inginkan secara sepihak. Hal lain juga yaitu standar moral kejujuran kita sendiri, karena buku ini juga mengisyaratkan bahwa kalau kita mau, kita dapat/sah-sah saja untuk “membelokkan” kebenaran….
 personal, do not enter?
Pribadi yang merasa nyaman dengan lingkungan sekitarnya, pada dasarnya adalah pribadi-pribadi yang merasa nyaman dan menerima diri sendiri apa adanya. Pribadi yang merasa nyaman dengan dirinya sendiri pada dasarnya adalah pribadi-pribadi yang memiliki keseimbangan psikologis antara rasa penerimaan diri sendiri dan kesadaran yang mendalam akan realita kehidupan. Perpaduan yang harmonis dari dua hal ini menghasilkan perasaan kontrol diri yang baik, sementara tetap mampu menikmati dan mengoptimalkan kehidupan yang berlangsung, seperti apa adanya.
Sewaktu-waktu, saya menilai diri saya sendiri sebagai seseorang yang kurang percaya diri, namun pada waktu yang sama, saya juga berpikir bahwa masalah rasa kurang percaya diri saya ini bukan merupakan suatu kunci mati. Saya yakin setiap orang dalam derajat tertentu, pada suatu waktu dalam hidupnya, pasti pernah merasakannya. Jadi jelas bahwa saya tidak sendiri. Karena kebiasaan saya “mojok” dengan buku, maka untuk mengatasi berbagai hambatan yang berhubungan dengan interaksi dengan pribadi yang lain, saya juga “pake buku”, yaitu buku-buku tentang seni hubungan antar manusia. Walaupun kedengarannya teoritis, tapi buat saya cara ini membantu.
Dalam pencarian buku yang berisi tuntunan seni interaksi antar manusia inilah, suatu hari di perpustakaan, mata saya tertumbuk pada sebuah buku yang judulnya kelihatan seperti naif, seperti sebuah teori yang hanya ada di dalam khayalan. Klik disini untuk membaca selengkapnya Bilakah saya belajar berdamai dengan siapa saja..??? Dari buku “Make Peace With Anyone” by D.J. Lieberman

…bercakap-cakap dengan anak perihal namanya, dan huruf-huruf yang termasuk di dalamnya. Cantumkan nama anak anda sedapat mungkin, pada gambar atau foto-foto anak anda…
Halo pembaca, demikian ini akan saya sajikan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Selamat membaca, semoga membawa manfaat.
Persiapan anak untuk memasuki kindergarten/taman kanak-kanak di Amerika Serikat, menurut “Connecticut State Department of Education”:
II. Aspek Membaca dan Menulis.
Sebelum memasuki sekolah taman kanak-kanak, anak sebaiknya sudah mampu untuk:
-
Menunjukkan ketertarikan pada kegiatan membaca
-
Memilih buku yang disukai dan mengutarakan mengapa ia menyukainya. Menceritakan kembali cerita yang disukai.
-
Menangani buku dengan wajar.
-
Mengenali beberapa huruf.
-
Mengenali dan menuliskan nama panggilannya (kata pertama namanya).
-
Menggunakan pensil, spidol, dan krayon untuk menggambar dan menulis.
Yang dapat dilakukan orangtua untuk mempersiapkan kemampuan ini: Klik disini untuk membaca selengkapnya Persiapan Anak Untuk Memasuki Sekolah Kindergarten/ Taman Kanak-Kanak di Amerika Serikat (Part 2. Aspek Membaca, Menulis, & Kecakapan Fisik)
Pengantar Redaksi: Jean Wyrick adalah seorang “Professor Emerita of English at Colorado State University”. Beliau adalah kepala bagian penulisan selama 11 tahun. Wyrick telah mengajar selama 25 tahun dan menjadi sangat berpengalaman di bidangnya. Selain “Steps to Writing Well”, buku-buku beliau yang lain antara lain adalah “The Rinehart Reader” dan “Discovering Ideas”. (barnesandnobles).

Halo teman pembaca, seperti yang telah saya singgung pada artikel sebelumnya, dan sebagai lanjutan Serial Cara Menulis 1, kali ini saya akan menyajikan tahap ke dua dari langkah penulisan, yaitu; Menetapkan Subjek/Topik Tulisan dan (bagaimana anda akan) Mulai Menulis(kannya). Untuk anda yang sedang dalam tahap untuk menulis yang pertama kali, saya harapkan anda telah membaca artikel yang pertama mengenai cara Menetapkan Pemikiran Awal.
Dari sebuah buku yang baik dan sangat mencakup tentang menulis, yang telah direferensikan dosen saya selama menyelesaikan kelas menulis di sebuah kampus di Worcester, Massachusetts. Mari bersama menjejakkan kaki kita, ke dunia menulis.
Rekan Pembaca, Jean Wyrick di dalam bukunya “Steps to Writing Well” menyarankan, bahwa setelah anda memutuskan untuk menjadikan tulisan sebagai suatu alat berkomunikasi anda, dan siap untuk memilih subjek tulisan, maka beberapa hal berikut ini akan banyak membantu proses tersebut.
…Bila ide anda tersebut belum cukup spesifik pada kesempatan penulisan pertama, jangan kuatir, tetaplah menulis. Setelah tulisan anda menjadi lebih “dalam” maka anda berkesempatan untuk menemukan sesuatu yang sangat khusus dari subjek tersebut dan mengkonsentrasikan ke hal tersebut. [Pada proses revisi, anda dapat memilah-milah “isi” tulisan anda. Bagian mana yang akan anda pertahankan karena menunjang keutuhan ide tulisan, dan bagian mana yang anda putuskan untuk tidak tercakup dalam tulisan, karena tidak menunjang kemampuan “berbicara” tulisan anda sebagai sesuatu yang terarah dan jelas]…
Beberapa Hal yang Akan Membantu Proses Penulisan
Mulailah menulis seawal mungkin, dan sediakan waktu yang cukup. Hal tersebut adalah penting, karena sepanjang proses penulisan, anda perlu waktu yang cukup untuk mencari/menemukan, mengolah ide, mengorganisasikan pemikiran, merevisi, dan memoles tulisan anda.
Patokan dasar penting: selalu sediakan waktu dua kali lipat lebih banyak dibanding waktu yang anda perkirakan cukup untuk menyelesaikan tulisan anda. Sistem yang terkenal sebagai “Sistem Kejar Kredit Semalam” bukan pilihan yang baik dalam menyelesaikan suatu tulisan, disamping akan menciptakan kepanikan.
Pelajari Klik disini untuk membaca selengkapnya Serial Cara Menulis 2. Anda Sebagai Penulis, Bagaimana Memilih Subjek/Topik Tulisan dan Mulai Menuliskannya

….kelompok orangtua ini mengkhawatirkan akan kesiapan anak secara mental untuk menerima beban akademis yang melimpah. Sementara pada waktu yang sama pembentukan karakter anak, yang merupakan salah satu faktor terpenting dalam hidup anak tersebut, sedang terjadi.
Anak TK Tahun “2000-something”
Teringat pembicaraan saya dengan seorang teman yang tinggal di Jakarta beberapa minggu yang lalu. Ibu S, teman saya tersebut, bercerita bahwa baginya persyaratan masuk Taman Kanak-Kanak/TK jaman sekarang sudah sangat “ajaib”. Pelajarannya kadangkala juga dirasakan “seperti mengejar setoran”. Putrinya sampai pernah mogok dan tidak mau ke sekolah karena pelajarannya dirasakan membingungkan.
Orangtua dari anak-anak usia sekolah sekarang, telah mengenal Taman Kanak-Kanak/TK yang mereka kenal dahulu, sebagai tempat untuk belajar berorganisasi, bersosialisasi, berperilaku, dan lain-lain. Hal-hal tersebut dipelajari anak dalam suasana bermain karena sifatnya yang semata-mata untuk mempersiapkan atau membiasakan anak-anak tersebut menghadapi dunia sekolah yang “sebenarnya” yaitu Sekolah Dasar/SD. Pada masa itu, TK lebih bersifat suka rela. Bukan hal yang aneh di masa itu, bagi anak-anak untuk masuk SD tanpa pernah memiliki ijasah TK.
Seperti halnya reformasi politik yang berlangsung lebih dari 1 dekade yang lalu, mungkin saat ini dunia pendidikan Indonesia telah melalui suatu era reformasi tersendiri. Saat ini, sebagian lembaga pendidikan taman kanak-kanak memberikan “daftar kriteria” kemampuan yang Klik disini untuk membaca selengkapnya Persiapan Anak Untuk Memasuki Sekolah Kindergarten/ Taman Kanak-Kanak di Amerika Serikat (Part 1. Aspek Berbicara & Mendengar)
Halo-halo teman pembaca, pernahkah anda berharap bisa bicara suatu bahasa asing?
Memang mungkin di sekolah sudah diajarkan bahasa Inggris? That’s very good.. (kata bu guru).
Tapi pernahkah anda bermimpi bisa mengenal bahasa lain? Tidak semua sekolah mengajarkan bahasa asing selain bahasa inggris, seperti bahasa Jerman, Spanyol, Portugis, Jepang, bahkan Yunani, dan lain-lainnya lagi dari seluruh dunia.
Kita semua tahu bahwa mengenal bahasa dunia akan membuka cakrawala baru, lebih banyak pintu akan terbuka, teman-teman baru, termasuk dari belahan dunia lain, sampai-sampai untuk membantu mendapatkan pekerjaan. Apapun motivasinya, it’s personal and it’s there, and you know it.
Bagaimana caranya? Klik disini untuk membaca selengkapnya Mendapatkan kursus bahasa asing gratis online untuk pemula
|
Best Words Ever Spoken Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah ia tidak akan bertemu dengan kemajuan selangkah pun.(Ir.Sukarno)
I have never met a stupid child, though I've met plenty of children whom adults insist on calling “stupid” when the children don't perform in a way that conform to adult expectations. (Hillary Clinton)
---Saya belum pernah bertemu dengan seorang anak yang bodoh, walaupun saya banyak bertemu dengan orangtua yang "ngotot" untuk menyebut anaknya "bodoh", disaat anaknya tidak tampil sesuai dengan cara yang diinginkannya.---
Success is a lousy teacher. It seduces smart people into thinking they can't lose.
(Bill Gates)
The future belongs to the people who believe the beauty of their dreams.
(Eleanor Roosevelt)
Reputasi anda (selalu) ada ditangan orang lain.
Itulah reputasi.
Anda tidak akan bisa mengontrolnya.
Yang bisa anda kontrol adalah karakter anda sendiri.
(Dr. W. Dyer)
Semakin banyak saya membaca, semakin "haus" saya merasa.
(Shap)
Anda bisa berbagi karya di indomemo & email contact Indomemo.com bersedia memuat karya anda terpilih secara sukarela. Kirimkan karya anda ke redaksiindomemo@yahoo.com. Penulis akan diberitahu bila karyanya dimuat.
|
Input & Opini