Welcome to Indomemo.com Awalnya sederhana sekali. Saya sangat suka membaca, dan menulis review tentang buku yang saya baca, sangat membantu saya untuk mengingat dan memahaminya. Saya tinggal di negri uncle sam, tempat dimana literatur relatif mudah didapat. Lewat website ini, saya ingin sekali berbagi kelimpahan itu. Juga bila anda memiliki usulan subjek literatur atau pertanyaan yang berkaitan dengan materi, silakan klik "leave a comment" atau email saya. Teman-teman net-reader, selamat bersantai sambil menambah info di indomemo, semoga anda juga mendapatkan manfaatnya (Shap).
podjokcoklat.com Cerahkan hari anda, dengan kelezatan cokelat, cake/cookies, & parcel dari podjokcoklat.com. Dengan harga terjangkau, kami memberi anda lebih dari sekadar cokelat bermutu yang dibuat khusus untuk anda.
Pesan sekarang
(021) 701-895-40,
(021) 701-895-35 atau
0816-132-3161
klikmelilea.com Memadukan 3 Fungsi:
Makanan Organik
-Naturopati
-Penyembuhan Alami.
Kesehatan anda, adalah segalanya..
Kirim email ke: klikmelilea@yahoo.com
|
“Buku baru!…”
Dua kata inilah yang pertama kali muncul di kepala saya saat membuka halaman paling depan buku ini yang ditempeli sebuah kartu perpustakaan dengan tulisan “DATE DUE: JUNE 23, 2010.” Dari kondisinya, betapa mengkilatnya, terlihat sekali bahwa buku ini belum pernah tersentuh atau di-”check-out” seseorang, mungkin buku stok. Kartunya juga baru, dan tanggal yang tercantum diatas adalah satu-satunya stempel yang tertera.
Siapakah Anthony Robbins?
Saat menulis buku ini, Anthony Robbins adalah seorang pengusaha, penulis, dan presiden direktur dari Robbins Research International Inc. Di usia 24 tahun, Mr. Robbins telah menjadi seorang milyuner dan mendirikan 9 perusahaan. Beliau juga mendirikan The Anthony Robbins Foundation (Yayasan Anthony Robbins) yang bergerak di bidang pemberdayaan/peningkatan potensi anak-anak muda, orang-orang tua, termasuk para narapidana, untuk menjadi kelompok masyarakat yang mampu memberikan kontribusi tinggi bagi masyarakat sekitarnya. Selain perusahaan-perusahaan dan yayasan tersebut, Anthony Robbins juga telah dikenal sebagai pembimbing handal bagi organisasi-organisasi global, termasuk lembaga marinir dan atlit olimpiade.
Gentar, demikian perasaan yang terbit sesaat saya membaca daftar isi buku ini untuk pertama kalinya.
Alasan saya [ya, alasan..:-)] adalah karena saat saya skimming (membaca awal seliwatan), saya merasa bahwa buku ini mengandung muatan energi kemajuan yang kuat sekali. Otak saya tanpa terkendali berpikir: Apakah saya akan mampu menanggulangi hasil stimulasi buku ini seusai membacanya?…tapi bagaimana saya bisa mensarikan isi buku ini untuk para pembaca saya, bila untuk membacanya saja saya mengkerut..?
Tips bagi seseorang yang baru dengan buku-buku motivasi, semata-mata membaca daftar isi buku ini saja juga dapat dirasakan seperti membaca manual “Teknik-teknik praktis trampil terbang.” Foto Mr. Robbins di depan buku ini dimata saya juga terlihat agak “pop,” bukan semacam foto serius atau penuh wibawa yang ada disampul buku-bukunya yang lain atau buku managemen populer pada umumnya.
Bilakah buku ini “hanya” merupakan salah satu buku dari banyak buku managemen populer yang trendi?
Ya ya ya…awalnya saya memang kecut dan begitu penuh prasangka, tetapi semua pemikiran tersebut akhirnya lumer saat paragraf ini tiba-tiba menarik perhatian saya, yang kalau diterjemahkan kira-kira bunyinya demikian:
“Saya memilih untuk percaya bahwa Sang Pencipta kita itu tidak pilih kasih, bahwa kita semua telah diciptakan secara unik, dengan kesempatan yang sama untuk menjalani hidup sepenuhnya… Saya telah Klik disini untuk membaca selengkapnya Belajar untuk bersikap positif, kuat, dan suka berbagi dari Mr. Tony (Review buku “Awaken The Giant Within” by Anthony Robbins
Pada saat saya mengetik halaman kedua dari review yang sedang anda baca ini, saya baru tersadar kalau sepanjang proses membaca dan menuliskan pemikiran saya tentang buku ini, saya belum pernah menemukan bagian yang menyatakan tujuan dan motivasi sang author untuk menulis buku ini. Sambil setengah heran, saya berhenti mengetik, kembali ke bagian awal dari buku ini, dan menelusurinya kata perkata. Tetap tidak ada kata “this book is written…for…because…why..,” atau kata apa saja yang akan memberi petunjuk dan memudahkan saya untuk mengetahui mengapa buku ini ditulis. Setelah kali ke tiga mata saya menelusuri bagian pembukaan buku ini, akhirnya saya memutuskan kalau buku ini pada dasarnya adalah perwujudan dari perluasan sebuah essay yang telah dibuat sebelumnya, tentang topik terkait…
Kesimpulan itu saya ambil setelah membaca kalimat ini dihalaman acknowledgement:
“I owe a special debt to Stephen Granbard who commissioned an essay on this topic and encouraged me to expand the resulting paper into book form..” (xi).
Okay, saya cukup puas, karena alasan itupun buat saya cukup masuk akal bagi seseorang untuk menulis sebuah buku, apalagi sebuah yang berbobot seperti ini. Paling-paling saya berharap bahwa kata-kata “book” yang disebut dalam kalimat itu memang buku ini, dan Gardner tidak sedang membicarakan buku lain (just kidding!).
Dengan didasari pemikiran ini, saya lanjut mengetik, dalam usaha saya mengajak anda untuk mengintip isi buku bertema pendidikan yang judulnya kedengaran seperti kebalikannya ini.
“Pikiran yang enggak disekolahin!?……”
Kata-kata itulah yang secara polos muncul di kepala saya, saat saya membaca judul buku ini untuk pertama kalinya. Buku ini adalah salah satu dari banyak buku bermutu yang ditulis seorang pakar di dunia psikologi pendidikan, Howard Gardner. Bila anda ingin mengetahui sedikit tentang Gardner, silahkan membaca review buku pertamanya yang berjudul “Frames of Mind,” yang tersedia juga di site ini.
“The Unschooled Mind” adalah buku ke-6 yang ditulis Gardner.
Bab pertama dari buku ini (tentu saja) berjudul Introduction. Bab ini membicarakan konsep belajar secara umum. Termasuk pembahasan tentang konsep dasar “intuitive learning” (pembelajaran alami) dan “scholastic learning” (pembelajaran melalui lembaga pendidikan/terstruktur).
Di bab ini Gardner juga menyebutkan tentang hadirnya suatu fenomena belajar saat sebagian anak yang memiliki kemampuan belajar secara intuitif yang sangat tinggi, menunjukkan kemampuan yang sangat berbeda pada saat dihadapkan pada situasi belajar scholastic.
Situasi kebalikannya adalah saat seorang pelajar yang mampu mendemonstrasikan kemampuan akademik yang sangat tinggi dalam format ujian sekolah, gagal menunjukkan kemampuannya, bahkan untuk pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar, hanya karena bentuk pertanyaan atau lembar soalnya mengalami modifikasi.
Menurut Gardner, di dunia belajar-mengajar juga terdapat perbedaan antara konsep “understanding” (sekedar ngerti, sesuai kondisi yang disituasikan), dengan “genuine understanding” (sungguh-sungguh mengerti, dan Klik disini untuk membaca selengkapnya To School or Not To School…?? (Review buku Howard Gardner’s “The Unschooled Mind”)
Adalah seorang putri, di negri antah-berantah yang telah kehilangan ibunya dimasa kecil. Ayahnya, sang raja, memilih untuk menikah lagi dengan seorang wanita yang sangat cantik. Sang wanita yang telah dipersunting menjadi ratu tersebut begitu cantiknya, namun kecantikannya rupanya tidak pernah membuatnya merasa “Pe-de.”
Setiap hari sang ratu bertanya pada cermin ajaibnya:
“Hai cermin ajaib…siapakah yang tercantik diseluruh negri..??”
Setiap hari pula sang cermin menjawab dengan jujurnya:
“Engkaulah yang tercantik diseluruh negri, baginda ratu..”
Demikianlah yang selalu berlangsung. Sang putri cilik tumbuh berkembang, hingga suatu hari, saat sang ratu bertanya pada cermin ajaibnya, tanpa disangkanya, sang cermin memberikan jawaban berbeda:
“Punteeen…baginda ratu, sekarang Putri Salju adalah yang tercantik..”
Sang ratu sangat murka, dan menyusun rencana untuk membunuh anak tirinya itu…demikianlah, cerita kemudian berlanjut…
Rupanya saya sedang rindu membaca buku dongeng. Waktu saya masih kecil, saya menyukai semua buku saya, namun secara khusus saya sangat suka membaca buku tentang dongeng tradisional, baik dari dalam maupun luar negri.
Pssstt…ternyata Putri Salju tidak pernah di-sun sang pangeran..!!
 Putri Salju Jerman
Bagi saya, dongeng sangat berbeda dengan buku cerita biasa yang kebanyakan menceritakan tentang kisah sehari-hari, atau cerita sejarah tentang kejadian beberapa waktu yang lalu. Dongeng dapat membawa saya menembus ruang dan waktu sangat jauh, ke dunia yang berbeda, pada masa yang jauh berbeda juga. Pada saat itu, buku dongeng yang saya miliki, sangat terbatas jumlahnya, sehingga cerita-cerita dongeng tersebut saya dengar dan dapatkan dari majalah anak-anak.
Di negara-negara berbahasa Inggris, dongeng disebut juga fairy tales. Lima hari yang lalu, sambil mencarikan buku untuk anak saya, saya juga mencari buku-buku jenis ini. Kebanyakan buku dongeng yang ada saat ini merupakan bentuk-bentuk adaptasi, seringkali telah dimodernisasi dari dongeng aslinya. Kemudian saya menemukan buku ini, Snow White and The Seven Dwarfs.
Di tanah air kita, Snow White dikenal dengan nama “Putri Salju.” Buku yang saya temukan memuat kisah ini adalah; Snow White and The Seven Dwarfs yang bila diterjemahkan perkata akan menjadi “Putih Salju dan Tujuh Kurcaci.” Kata-kata “Putri” tidak pernah ada dijudulnya. Klik disini untuk membaca selengkapnya Membaca Snow White versi asli Jerman, bukan sang putri yang di “orbitkan” oleh Walt Disney. (Dari buku “Snow White And The Seven Dwarfs, A Tale From The Brothers Grimm” by Randall Jarrell)
Mengapa saya menulis review buku ini?
Pertama, karena buku ini adalah “mbahnya” dari semua buku tentang teori EQ yang sekarang ini telah luas beredar. Kemudian buat saya, topik ini sangat menarik untuk dipelajari. Teori ini menghembuskan udara optimisme/positif dalam usaha memberikan bekal bagi anak-anak kita. Seperti membuktikan bahwa setiap anak dengan latar belakang pendidikan orangtua apapun memiliki harapan untuk sukses. Saya berencana untuk secara bertahap membaca dan memberikan review dari buku-buku yang berhubungan dengan teori ini, oleh karena itu adalah penting bagi saya untuk meletakkan pondasinya bagi artikel-artikel terkait yang akan datang.
Daniel Goleman Ph.D., adalah seorang psikolog, penulis buku, dan jurnalis dibidang sains. Goleman dilahirkan di Stockton, California pada tahun 1946. Saat ini beliau menetap di negara bagian Massachusetts. Goleman mengajar dan mendapatkan gelar Ph.D. dari Harvard University. Sang profesor juga merupakan penulis tetap dari artikel-artikel sains tentang otak dan perilaku di harian The New York Times. Selain itu, beliau juga pernah menjabat sebagai Senior Editor pada majalah Psychology Today.
Seperti telah kita ketahui, dunia psikologi sekarang ini seperti menemukan “mainan baru.” Mainan baru tersebut dikenal dengan nama teori Emotional Intelligence/Kecerdasan Emosi. Istilah ini diperkenalkan oleh Daniel Goleman salah satunya dengan meluncurkan buku ini pada tahun 1995. Sebelum istilah Emotional Intelligence (atau Emotional Quotient/ EQ) muncul, dunia pengukuran kecerdasan manusia dimonopoli oleh istilah Intelligence Quotient /IQ, yang mengukur kecerdasan manusia berdasarkan rangkaian tes dari aspek verbal, working memory, visual-spatial, dll.
Sampai saat ini, saya belum punya cukup informasi cukup tentang seberapa jauh pengetahuan dan pemahaman masyarakat kita tentang EQ ini. Namun saya yakin bahwa pemahaman yang baik tentang EQ akan sangat membantu dunia pendidikan dan masyarakat pada umumnya dimasa depan.

- bermain bersama
Menurut Goleman, EQ mencakup 5 area sebagai berikut…
Ciri-ciri pribadi dengan IQ dan EQ tinggi berbeda-beda pada pria dan wanita, ciri-ciri…
Buku ini telah ditulis berdasarkan terobosan baru dalam penelitian-penelitian tentang otak dan perilaku manusia. Di dalam buku ini Goleman menekankan bahwa Intelligence Quotient/IQ bukan akhir dari takdir yang akan menentukan masa depan seseorang. Hal ini karena di dunia nyata terlihat bahwa orang-orang yang ber-IQ tinggi tidak semuanya menunjukkan prestasi tinggi. Demikian pula sebaliknya, ada orang-orang yang ber-IQ biasa-biasa saja, mencapai sukses yang sangat signifikan. Jadi jelaslah bahwa ada faktor-faktor lain yang ikut “bermain” dalam menentukan tingkat keberhasilan seseorang.
Adalah fakta, bahwa saat badai emosi menguasai seseorang, Klik disini untuk membaca selengkapnya Demam High IQ versus High EQ..? Kembali pada buku yang mengawali semuanya. (Dari buku “Emotional Intelligence, Why It Can Matter More Than IQ.” by Daniel Goleman)
|
Best Words Ever Spoken Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah ia tidak akan bertemu dengan kemajuan selangkah pun.(Ir.Sukarno)
I have never met a stupid child, though I've met plenty of children whom adults insist on calling “stupid” when the children don't perform in a way that conform to adult expectations. (Hillary Clinton)
---Saya belum pernah bertemu dengan seorang anak yang bodoh, walaupun saya banyak bertemu dengan orangtua yang "ngotot" untuk menyebut anaknya "bodoh", disaat anaknya tidak tampil sesuai dengan cara yang diinginkannya.---
Success is a lousy teacher. It seduces smart people into thinking they can't lose.
(Bill Gates)
The future belongs to the people who believe the beauty of their dreams.
(Eleanor Roosevelt)
Reputasi anda (selalu) ada ditangan orang lain.
Itulah reputasi.
Anda tidak akan bisa mengontrolnya.
Yang bisa anda kontrol adalah karakter anda sendiri.
(Dr. W. Dyer)
Semakin banyak saya membaca, semakin "haus" saya merasa.
(Shap)
Anda bisa berbagi karya di indomemo & email contact Indomemo.com bersedia memuat karya anda terpilih secara sukarela. Kirimkan karya anda ke redaksiindomemo@yahoo.com. Penulis akan diberitahu bila karyanya dimuat.
|
Input & Opini