<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Indomemo</title>
	<atom:link href="http://indomemo.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indomemo.com</link>
	<description>Lets read and get better, together..</description>
	<pubDate>Mon, 05 Jul 2010 01:09:12 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Belajar untuk bersikap positif, kuat, dan suka berbagi dari Mr. Tony (Review buku “Awaken The Giant Within” by Anthony Robbins</title>
		<link>http://indomemo.com/?p=1402</link>
		<comments>http://indomemo.com/?p=1402#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jul 2010 00:41:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendidikan, Psikologi, Self-help]]></category>

		<category><![CDATA[Pustaka dan plus, sebagai pendobrak ide]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indomemo.com/?p=1402</guid>
		<description><![CDATA[“Buku baru!&#8230;”
Dua kata inilah yang pertama kali muncul di kepala saya saat membuka halaman paling depan buku ini yang ditempeli sebuah kartu perpustakaan dengan tulisan “DATE DUE: JUNE 23, 2010.” Dari kondisinya, betapa mengkilatnya, terlihat sekali bahwa buku ini belum pernah tersentuh atau di-”check-out” seseorang, mungkin buku stok. Kartunya juga baru, dan tanggal yang tercantum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Buku baru!&#8230;”<br />
Dua kata inilah yang pertama kali muncul di kepala saya saat membuka halaman paling depan buku ini yang ditempeli sebuah kartu perpustakaan dengan tulisan “DATE DUE: JUNE 23, 2010.” Dari kondisinya, betapa mengkilatnya, terlihat sekali bahwa buku ini belum pernah tersentuh atau di-”check-out” seseorang, mungkin buku stok. Kartunya juga baru, dan tanggal yang tercantum diatas adalah satu-satunya stempel yang tertera.</p>
<p>Siapakah Anthony Robbins?<br />
Saat menulis buku ini, Anthony Robbins adalah seorang pengusaha, penulis, dan presiden direktur dari Robbins Research International Inc. Di usia 24 tahun, Mr. Robbins telah menjadi seorang milyuner dan mendirikan 9 perusahaan. Beliau juga mendirikan The Anthony Robbins Foundation (Yayasan Anthony Robbins) yang bergerak di bidang pemberdayaan/peningkatan potensi anak-anak muda, orang-orang tua, termasuk para narapidana, untuk menjadi kelompok masyarakat yang mampu memberikan kontribusi tinggi bagi masyarakat sekitarnya. Selain perusahaan-perusahaan dan yayasan tersebut, Anthony Robbins juga telah dikenal sebagai pembimbing handal bagi organisasi-organisasi global, termasuk lembaga marinir dan atlit olimpiade.</p>
<p>Gentar, demikian perasaan yang terbit sesaat saya membaca daftar isi buku ini untuk pertama kalinya.<br />
Alasan saya [ya, alasan..:-)] adalah karena saat saya skimming (membaca awal seliwatan), saya merasa bahwa buku ini mengandung muatan energi kemajuan yang kuat sekali. Otak saya tanpa terkendali berpikir: Apakah saya akan mampu menanggulangi hasil stimulasi buku ini seusai membacanya?&#8230;tapi bagaimana saya bisa mensarikan isi buku ini untuk para pembaca saya, bila untuk membacanya saja saya mengkerut..?<br />
Tips bagi seseorang yang baru dengan buku-buku motivasi, semata-mata membaca daftar isi buku ini saja juga dapat dirasakan seperti membaca manual “Teknik-teknik praktis trampil terbang.” Foto Mr. Robbins di depan buku ini dimata saya juga terlihat agak “pop,” bukan semacam foto serius atau penuh wibawa yang ada disampul buku-bukunya yang lain atau buku managemen populer pada umumnya.<br />
Bilakah buku ini “hanya” merupakan salah satu buku dari banyak buku managemen populer yang trendi?<br />
Ya ya ya&#8230;awalnya saya memang kecut dan begitu penuh prasangka, tetapi semua pemikiran tersebut akhirnya lumer saat paragraf ini tiba-tiba menarik perhatian saya, yang kalau diterjemahkan kira-kira bunyinya demikian:</p>
<p><strong>“Saya memilih untuk percaya bahwa Sang Pencipta kita itu tidak pilih kasih, bahwa kita semua telah diciptakan secara unik, dengan kesempatan yang sama untuk menjalani hidup sepenuhnya&#8230; Saya telah <span id="more-1402"></span>memutuskan untuk memberikan kontribusi dengan suatu cara tertentu yang akan tetap “hidup” jauh setelah saya tiada.” (hal 22) </strong></p>
<p>Ok now, sebelum saya benar-benar menumpahkan seluruh isi buku ini ke internet dan meminta anda untuk membacanya sendiri (just kidding!), maka sesuai “ikrar” saya, saya akan memberi petunjuk pada anda secara garis besar sekilas tentang komponen dari isi buku ini.</p>
<p>Buku ini terdiri dari 4 bagian/part:</p>
<p><strong>Part One: Melepaskan (belenggu) kekuatan anda.</strong><br />
Terdiri dari 13 bab, demikian beberapa diantaranya:<br />
Bab 1. Mimpi tentang takdir.<br />
Bab 2. Jalan menuju kekuatan.<br />
Bab 3. Dorongan yang membentuk hidup anda.<br />
Bab 4. Sistem keyakinan: Kekuatan untuk berkreasi dan kekuatan untuk menghancurkan.<br />
Bab 5. Dapatkah perubahan terjadi secara instan?<br />
Bab 9. Vocabulary kesuksesan.<br />
Dan 7 bab lain.</p>
<p><strong>Part Two: Mengambil kendali-The master system</strong><br />
Bab 14. Untimate influence: You master system.<br />
*pemahaman elemen-elemen pengenalan diri sendiri, yang akan menunjukkan esensi/karakter anda sebagai pribadi<br />
Bab 15. Nilai-nilai hidup: Kompas hidup anda.<br />
Dan 3 bab lain.</p>
<p><strong>Part Three: Tujuh hari yang dapat membentuk hidup anda</strong><br />
Bab 19. Hari pertama. Emotional Destiny: Kesuksesan yang sesungguhnya (keinginan atas kesuksesan emosi membuat anda melakukan apa yang anda lakukan).<br />
Bab 20. Hari kedua. Physical Destiny.<br />
Bab 21. Hari ketiga. Relationship Destiny: Tempat untuk saling berbagi dan menjaga.<br />
Dan 4 bab lain.</p>
<p>Part Four: A lesson in destiny (pelajaran yang terkandung dalam takdir)<br />
Bab 26. The ultimate challenge: What one person can do.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Beberapa cuplikan isi buku ini</span></p>
<p><strong>“Rahasia kesuksesan adalah mempelajari bagaimana menggunakan rasa susah/sakit dan senang, bukannya membiarkan diri dikendalikan olehnya. Bila anda mampu melakukannya, anda menjadi lebih terkontrol. Bila tidak, maka hiduplah yang akan mengontrol anda.” (hal 56)</p>
<p>“Betapa sering orang yang datang dari latar belakang permulaan yang begitu sederhana dan tragis dapat me-manage hidupnya (walau apa yang telah terjadi), dan pada akhirnya menjadi seseorang yang begitu menginspirasi hidup kita.” (hal 22)</p>
<p>“Banyak orang secara begitu saja menilai pahlawan (atau orang-orang yang berpengaruh lainnya), terlahir demikian. &#8216;Pahlawan&#8217; adalah orang (biasa) yang dengan berani dan tanpa egois tetap berkontribusi walaupun berada ditengah situasi yang sangat sulit, perempuan dan laki-laki yang tetap melakukan apa yang mereka percaya benar.” (hal 506-507) </strong></p>
<p>Tiga keputusan yang akan (ikut) menentukan takdir anda:<br />
1.Keputusan mengenai apa yang anda fokuskan dalam hidup anda.<br />
2.Keputusan mengenai arti segala sesuatu (dalam hidup ini) bagi anda.<br />
3.Keputusan mengenai apa yang akan dilakukan untuk memperoleh hasil yang diinginkan.<br />
(hal 41)</p>
<p>6 Cara memperkokoh kekuatan pengambilan keputusan:<br />
1.Mengingat kekuatan sesungguhnya dari hasil sebuah proses pengambilan keputusan.<br />
2.Menyadari bahwa langkah terberat dari sebuah usaha adalah membuat komitmen (bentuk nyata keputusan).<br />
3.Sering-seringlah mengambil keputusan.<br />
4.Belajar dari keputusan anda.<br />
5.Tetap berkomitmen pada keputusan anda, namun fleksibel dalam pelaksanaannya.<br />
6.Nikmatilah proses pengambilan keputusan.<br />
(hal 52)</p>
<p><strong>“Mengetahui bahwa keputusan anda, dan bukan kondisi anda, yang akan menentukan takdir anda&#8230;” (Anthony Robbins, hal 52)</strong></p>
<p>Saya kagum pada keluasan cara pikir dan pengetahuan Mr. Robbins yang mengaku hanya lulusan sekolah menengah atas ini. Mr. Robbins dengan fasih menjabarkan secara terperinci topik bukunya ini mulai dari sistem emosi, hubungannya dengan syaraf, kondisi tubuh, sampai kepada literatur dan hasil-hasil riset yang berhubungan.<br />
Sampai sekarang, Anthony Robbins yang seringnya dipanggil dengan panggilan Tony Robbins, masih terus menjalankan proyeknya kepositifannya ini. Beliau menyebarkan semangat maju dan saling menolong sesama, dari ruang kelas sampai ruang tahanan.</p>
<p>Anda dapat mengikuti kegiatannya di:<br />
<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;b1969ML9ohVgHVzqXd0VQuF_qTA&quot;, event);" rel="nofollow" href="http://www.tonyrobbins.com/" target="_blank"><span style="color: #3b5998;"><span>http://www.tonyrobbins.com</span></span>/</a><br />
<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;b1969HtUom92Uptr-HG2eXpGJ_w&quot;, event);" rel="nofollow" href="http://www.tonyrobbinsblog.com/" target="_blank"><span>http://www.tonyrobbinsblog</span>.com/</a><br />
<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;b1969aQDGMcD3jLAScnuXnH2sLA&quot;, event);" rel="nofollow" href="http://www.experientialtraining.com/" target="_blank"><span>http://www.experientialtra</span>ining.com/</a></p>
<p><span style="color: #333333;">Teman pembaca, saya beranggapan bahwa buku ini adalah jenis buku yang esensinya berada di keseluruhan isinya. Bisa dikatakan hampir tidak ada bagian yang sudah cukup memadai bila hanya dibaca dengan selewat saja (misalnya karena cuma berisikan informasi tambahan saja, sementara ada bagian-bagian lainnya ada yang lebih penting dan terkonsentrasi). Buku ini sendiri tebalnya 539 halaman, setiap “nasehatnya” terasa menarik dan penting. Saya mengaku, saat saya menulis kalimat ini, saya belum selesai membaca setiap kalimat dari seluruh halaman itu. Biasanya dalam proses membaca dan menyelesaikan sebuah buku, saya juga akan mampu menggarisbawahi bagian-bagian tertentu, dan menyajikannya sebagai “bagian pilihan saya” atas buku tersebut. Namun untuk buku ini, bila saya mengambil sebuah cuplikan bagian, hal tersebut bukan karena yang lain kurang penting, tapi lebih kepada karena detail bagian inilah yang telah selesai saya baca, dan saya ingin sajikan sebagai contoh isi. Bab-bab dalam buku ini juga dapat dibaca secara tidak berurutan, tergantung pada bagian mana yang lebih menarik perhatian anda saat itu, dan bobotnya tidak akan menjadi berkurang.</p>
<p>Buku managemen trendi atau tidak, saya ingin sekali memahami setiap halaman dari buku ini (secara jujur, bila melihat isinya, saya bisa faham mengapa buku ini menjadi bestseller). Hal ini pasti membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang dibanding saat saya membaca buku lainnya, namun saya memiliki perasaan kuat kalau buku ini akan banyak membawa manfaat. Kapan selesainya? Saya belum tahu, dan saya tidak terburu-buru.<br />
By the way, pada saat saya selesai melakukannya, siapa tahu hasilnya akan menjadi review buku ini yang ke-2..</p>
<p></span></p>
<div class="photo photo_left">
<div class="photo_img"><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=6276738&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=418519636720&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=418519636720&amp;id=285345906067"><span style="color: #333333;"><img class="img" src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs037.snc4/34227_444211071067_285345906067_6276738_709115_a.jpg" alt="" /></span></a></div>
</div>
<p>Referensi:<br />
Robbins, Anthony. Awaken The Giant Within: How to take immediate control of your mental, emotional, physical, &amp; financial destiny!. 1991. Summit Books: New York: New York. 539 hlm.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indomemo.com/?feed=rss2&amp;p=1402</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>To School or Not To School&#8230;?? (Review buku Howard Gardner&#8217;s &#8220;The Unschooled Mind&#8221;)</title>
		<link>http://indomemo.com/?p=1397</link>
		<comments>http://indomemo.com/?p=1397#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 14:21:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendidikan, Psikologi, Self-help]]></category>

		<category><![CDATA[Pustaka dan plus, sebagai pendobrak ide]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indomemo.com/?p=1397</guid>
		<description><![CDATA[Pada saat saya mengetik halaman kedua dari review yang sedang anda baca ini, saya baru tersadar kalau sepanjang proses membaca dan menuliskan pemikiran saya tentang buku ini, saya belum pernah menemukan bagian yang menyatakan tujuan dan motivasi sang author untuk menulis buku ini. Sambil setengah heran, saya berhenti mengetik, kembali ke bagian awal dari buku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><img class="alignright size-full wp-image-1400" title="images" src="http://indomemo.com/wp-content/uploads/2010/06/images.jpg" alt="images" width="62" height="93" />Pada saat saya mengetik halaman kedua dari review yang sedang anda baca ini, saya baru tersadar kalau sepanjang proses membaca dan menuliskan pemikiran saya tentang buku ini, saya belum pernah menemukan bagian yang menyatakan tujuan dan motivasi sang author untuk menulis buku ini. Sambil setengah heran, saya berhenti mengetik, kembali ke bagian awal dari buku ini, dan menelusurinya kata perkata. Tetap tidak ada kata &#8220;this book is written&#8230;for&#8230;because&#8230;why..,&#8221; atau kata apa saja yang akan memberi petunjuk dan memudahkan saya untuk mengetahui mengapa buku ini ditulis. Setelah kali ke tiga mata saya menelusuri bagian pembukaan buku ini, akhirnya saya memutuskan kalau buku ini pada dasarnya adalah perwujudan dari perluasan sebuah essay yang telah dibuat sebelumnya, tentang topik terkait&#8230;</p>
<p>Kesimpulan itu saya ambil setelah membaca kalimat ini dihalaman acknowledgement:<br />
&#8220;I owe a special debt to Stephen Granbard who commissioned an essay on this topic and encouraged me to expand the resulting paper into book form..&#8221; (xi).<br />
Okay, saya cukup puas, karena alasan itupun buat saya cukup masuk akal bagi seseorang untuk menulis sebuah buku, apalagi sebuah yang berbobot seperti ini. Paling-paling saya berharap bahwa kata-kata &#8220;book&#8221; yang disebut dalam kalimat itu memang buku ini, dan Gardner tidak sedang membicarakan buku lain (just kidding!).<br />
Dengan didasari pemikiran ini, saya lanjut mengetik, dalam usaha saya mengajak anda untuk mengintip isi buku bertema pendidikan yang judulnya kedengaran seperti kebalikannya ini. </p></blockquote>
<p></strong></p>
<p>&#8220;Pikiran yang enggak disekolahin!?&#8230;&#8230;&#8221;<br />
Kata-kata itulah yang secara polos muncul di kepala saya, saat saya membaca judul buku ini untuk pertama kalinya. Buku ini adalah salah satu dari banyak buku bermutu yang ditulis seorang pakar di dunia psikologi pendidikan, Howard Gardner. Bila anda ingin mengetahui sedikit tentang Gardner, silahkan membaca review buku pertamanya yang berjudul &#8220;Frames of Mind,&#8221; yang tersedia juga di site ini.</p>
<p>“The Unschooled Mind” adalah buku ke-6 yang ditulis Gardner.<br />
Bab pertama dari buku ini (tentu saja) berjudul Introduction. Bab ini membicarakan konsep belajar secara umum. Termasuk pembahasan tentang konsep dasar “intuitive learning” (pembelajaran alami) dan “scholastic learning” (pembelajaran melalui lembaga pendidikan/terstruktur).<br />
Di bab ini Gardner juga menyebutkan tentang hadirnya suatu fenomena belajar saat sebagian anak yang memiliki kemampuan belajar secara intuitif yang sangat tinggi, menunjukkan kemampuan yang sangat berbeda pada saat dihadapkan pada situasi belajar scholastic.<br />
Situasi kebalikannya adalah saat seorang pelajar yang mampu mendemonstrasikan kemampuan akademik yang sangat tinggi dalam format ujian sekolah, gagal menunjukkan kemampuannya, bahkan untuk pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar, hanya karena bentuk pertanyaan atau lembar soalnya mengalami modifikasi.<br />
Menurut Gardner, di dunia belajar-mengajar juga terdapat perbedaan antara konsep &#8220;understanding&#8221; (sekedar ngerti, sesuai kondisi yang disituasikan), dengan &#8220;genuine understanding&#8221; (sungguh-sungguh mengerti, dan <span id="more-1397"></span>dapat mendemonstrasikan ilmu yang didapat pada situasi apapun). Keterbatasan pemahaman pada suatu konsep seperti ini disebut Gardner dengan istilah &#8220;Blind Spot&#8221; dalam proses belajar.(Hal 1-6)</p>
<div class="photo photo_right">
<div class="photo_img"><a href="http://indomemo.com/photo.php?pid=6014561&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=410838601720&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=410838601720&amp;id=285345906067"><img class="img" src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs551.snc3/30154_435072466067_285345906067_6014561_8310736_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<p>Tiga karakter yang akan banyak dipakai dalam berbagai pembahasan didalam buku ini:<br />
<strong>1.Pertama, &#8220;The intuitive learner.&#8221;</strong><br />
Sering juga dikenal sebagai pembelajar alami, naif, universal.<br />
<strong>2.Kedua, &#8220;The traditional learner&#8221; atau &#8220;Scholastic learner.&#8221;</strong><br />
Yaitu golongan usia muda, yaitu dari umur 7 sampai kira-kira 20 tahun yang berusaha untuk menguasai literatur, konsep, dan cabang-cabang keilmuan lain yang diberikan oleh sekolah yang merupakan lembaga dengan sistem pendidikan yang terstruktur.<br />
<strong>3.Tiga, &#8220;The disciplinary expert&#8221; (Skilled person).</strong><br />
Yaitu seseorang yang (pada usia berapapun) telah menguasai suatu konsep ilmu dan aplikasinya, dan dapat menerapkan konsep tersebut pada berbagai kondisi yang baru atau berbeda.<br />
(Hal 6-7)</p>
<p>Selepas dari bab I (Introduction) tadi, keseluruhan isi buku ini kemudian akan dikelompokkan menjadi tiga bagian besar.</p>
<p>Part I. Berjudul: The Natural Learner (Pembelajar Alami)<br />
Berisikan:<br />
Bab 2. Konseptualisasi perkembangan pikiran manusia<br />
Bab 3. Permulaan proses pembelajaran: Batasan dan kemungkinannya.<br />
Bab 4. Pengenalan dunia melalui simbol-simbol.<br />
Bab 5. Dunia anak usia prasekolah: Munculnya konsep pengertian intuitif.</p>
<p>Part II. Berjudul: Understanding Educational Institution ( Memahami Institusi Pendidikan)<br />
Berisikan:<br />
Bab 6. Nilai-nilai dan tradisi di dunia pendidikan.<br />
Bab 7. Sebuah Institusi yang bernama sekolah.<br />
Bab 8. Kesulitan-kesulitan yang terjadi di sekolah: Kesalah-fahaman yang terjadi di berbagai bidang ilmu pengetahuan.<br />
Bab 9. Lebih Jauh pada kesulitan-kesulitan yang terjadi di sekolah: Stereotipisme di bidang ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu humanistik (seni, bahasa, filosofi, dll)</p>
<p>Part III.Berjudul: Toward Education for Understanding (Menuju Pendidikan [berkonsep] Pemahaman)<br />
Berisikan:<br />
Bab 10. Pencarian solusi: Jalan yang buntu dan jalan yang menjanjikan<br />
Bab 11. Pendidikan dengan konsep pemahaman di tahun-tahun pertama anak.<br />
Bab 12. Pendidikan dengan konsep pemahaman di usia adolesen (usia peralihan anak ke dewasa)<br />
Bab 13. Menuju [konsep] pemahaman tingkat nasional dan global.</p>
<p>Didalam buku ini, Gardner juga mengingatkan kembali bahwa setiap pelajar akan memiliki cara terbaiknya masing-masing yang berbeda-beda satu sama lain dalam mempelajari, mengingat, menampilkan, dan memahami sesuatu konsep. Hal ini juga berhubungan dengan teorinya yang terkenal sebagai &#8220;tujuh kecerdasan manusia,&#8221; yang telah beliau perkenalkan didalam buku yang ditulis sebelumnya (Frames of Mind). Kekuatan masing-masing individu dalam setiap area kecerdasan ini berbeda-beda, dan dikenal dengan istilah &#8220;profil kecerdasan.&#8221; (Hal 12)</p>
<p><strong>Beberapa poin menarik bagi saya saat membaca buku ini: </strong></p>
<p>- <strong>Pembahasan tentang usia anak mulai bersekolah.</strong><br />
Terdapat di bab 5, dimana dikatakan; bahwa di Swedia banyak sekali anak-anak balita yang diikut-sertakan dalam program-program prasekolah. Namun di sana (paling tidak sampai pada saat buku ini ditulis), bahan-bahan pelajaran yang berhubungan dengan literasi sekolah, tidak akan diberikan sebelum anak mencapai umur 7 tahun. Sebaliknya di Cina (PRC/People Republic of China), pada usia sedini 3 tahun, anak-anak malah telah diajarkan notasi musik. Karakter tulis menulis juga telah diperkenalkan pada saat anak berusia 4 atau 5 tahun.<br />
Amerika Serikat sendiri menunjukkan tingkat keragaman yang sangat tinggi. Dimulai dari Glenn Doman&#8217;s Institute of Human Potential yang telah memulai mengajarkan anak untuk membaca dengan kartu bergambar bahkan sebelum seorang anak lancar berjalan. Sampai pada sekolah-sekolah yang berorientasi dan sangat percaya pada konsep perkembangan, dimana seorang anak tidak akan diajarkan membaca sampai mereka sendiri yang menunjukkan inisiatif untuk mulai melakukannya.(Hal 84)</p>
<p>- <strong>Keterbatasan pemahaman materi dapat menimbulkan bias.</strong><br />
Contohnya pada pelajaran sejarah, dimana pelajar (dan kebanyakan orang pada umumnya) akan membicarakan situasi kompleks internasional selama perang dunia (WWI &amp; WWII) dalam bentuk &#8220;lakon orang baik melawan orang jahat&#8221; semata, bahkan membanding-bandingkannya dengan adegan-adegan dalam film-film populer Hollywood (doh!..again). Contoh kedua adalah ketidakmampuan seseorang untuk membedakan hasil pekerjaan seorang amatir dan master, saat identitas dari pembuat karya tersebut di sembunyikan. (Hal 4)</p>
<p>Demikianlah sekelumit pandangan saya tentang isi buku ini. Bagi saya buku ini telah memberikan alternatif cara pandang tentang kondisi sistem pengajaran di dunia sekolah yang telah kita kenal. Dan seperti juga yang telah beliau siratkan pada buku-bukunya yang lain, Gardner selalu mampu membuat setiap pelajar, baik para pelajar lembaga pendidikan maupun &#8220;pelajar-pelajar kehidupan,&#8221; menjadi merasa spesial dan terpahami. Diakhir setiap masa sekolahi, terutama setelah dewasa, saya sendiri menemukan bahwa peribahasa yang pernah saya dengar berikut ini selalu benar adanya:</p>
<p><strong>&#8220;Hasil pendidikan itu adalah apa yang telah tertinggal di kepala kita, jauh sampai pada saat kita telah meninggalkan kelas..&#8221; (Albert Einstein)</strong></p>
<div class="photo photo_none">
<div class="photo_img"><a href="http://indomemo.com/photo.php?pid=6014372&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=410838601720&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=410838601720&amp;id=285345906067"><img class="  img" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs531.snc3/30154_435069436067_285345906067_6014372_4413489_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<p>Referensi:<br />
Gardner, Howard. The Unschooled Mind: How Children Think &amp; How School Should Teach. 1991. Basic Book: New York. 303+xii pages.<br />
*Foto pelajar oleh Des Syafrizal<br />
*Review buku ini ditulis juga untuk memenuhi permintaan teman saya, Vega, semoga membawa manfaat..<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indomemo.com/?feed=rss2&amp;p=1397</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>“Membaca Pikiran&#8221; Seorang Supermodel Top di Heidi Klum&#8217;s “Body of Knowledge” Book</title>
		<link>http://indomemo.com/?p=1390</link>
		<comments>http://indomemo.com/?p=1390#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Apr 2010 13:32:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Zoom (Galeri Fotografi)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indomemo.com/?p=1390</guid>
		<description><![CDATA[Insting saya mengatakan kalau buku ini kemungkinan besar tidak akan ada di tanah air.
Ada beberapa alasan mengapa saya menduga demikian. Yang pertama karena buku ini bukan termasuk tipe buku populer dengan subjek spesifik bisnis, psikologi, komik, politik, fiksi, cerita anak, atau berbagai subjek populer lain yang banyak diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan tersedia di toko-toko [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><span style="font-family: Lucida Sans;"><img class="alignright size-full wp-image-1391" title="klum" src="http://indomemo.com/wp-content/uploads/2010/04/klum.jpg" alt="klum" width="81" height="96" />Insting saya mengatakan kalau buku ini kemungkinan besar tidak akan ada di tanah air.<br />
Ada beberapa alasan mengapa saya menduga demikian. Yang pertama karena buku ini bukan termasuk tipe buku populer dengan subjek spesifik bisnis, psikologi, komik, politik, fiksi, cerita anak, atau berbagai subjek populer lain yang banyak diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan tersedia di toko-toko buku. Juga jelas sekali kalau buku ini juga bukan jenis buku formal tentang sains, pendidikan, atau subjek-subjek lain yang banyak dipakai disekolah-sekolah.<br />
Yang paling telak, buku ini nyatanya memang banyak mengandung foto-foto Klum sendiri sepanjang karirnya sebagai foto model. Banyak diantara foto-foto tersebut yang terlihat “weleh-weleh&#8230;” menurut ukuran budaya ketimuran, beberapa diantaranya secara mengagetkan malah berkategori “halaah!!!&#8230;”</span></em></p>
<p><em></em>Oh ya, saya juga tidak bisa berasumsi kalau semua pembaca review buku ini tahu Heidi Klum bukan? Maka saya akan jelaskan sedikit tentang penulis yang juga merupakan subjek buku ini. Heidi Klum adalah seorang supermodel Amerika kelahiran Jerman yang sudah sangat terkenal di bidang profesinya. Selain menjadi foto model, Klum juga menjalankan banyak bisnis. Bisnisnya banyak yang berhubungan dengan kecantikan, namun beberapa diantaranya tidak secara langsung berhubungan. Ia juga menjadi host sebuah tv reality show yang bernama “Project Runway,” dan merupakan salah satu model utama dari produk pakaian terkenal Victoria Secret.</p>
<p> </p>
<p>Sampai disini anda mungkin mulai bertanya:<br />
Kenapa (juga) saya menuliskan review buku ini? Dan apa pula gunanya?<span id="more-1390"></span></p>
<p>Mungkin saja iseng. Tapi yang jelas, hal yang pertama kali membuat mata saya berhenti pada buku ini adalah kata-kata “Body of Knowledge” yang terkandung di judul buku itu sendiri (oke, saya memang suka kata-kata “knowledge”). Rasa keingintahuan saya semakin bertambah saat membaca nama penulisnya; Heidi Klum, seorang supermodel yang sepanjang pengetahuan saya, notabenenya bukan seorang ilmuwan. Jadi macam pengetahuan apakah yang akan Klum sajikan dalam bukunya? Bilakah positif? Demikian saya bertanya dalam hati.</p>
<blockquote><p><strong>“Kau harus cukup berani/tegar untuk mengejar apa yang kau cita-citakan, cukup kreatif dalam menyusun strategi untuk melakukannya, dan cukup rendah hati untuk mengetahui bahwa kau dapat belajar banyak dari bertanya dengan orang-orang yang telah berpengalaman dan bijak&#8230;.Saya selalu mencoba untuk berbuat baik pada siapa saja yang bekerja bersama-sama dengan saya, karena seringkali mutiara kebijakan yang terbaik datang dari sumber yang tidak terduga-duga&#8230;” (Klum: 36)</strong></p>
<p>Poin manfaat dari buku ini saya dapat saat Klum menjabarkan bahwa kesuksesan seseorang dalam karir itu, sangat tergantung pada perilaku orang itu sendiri. Bagaimana Klum berperilaku di dalam dunia karirnya telah membedakannya, dan membuat Klum jauh lebih sukses dibanding ribuan model lain. Klum menamakannya dengan sebutan “model behavior.” Beberapa perilaku/karakter tersebut antara lain kerja keras, percaya diri, memiliki pikiran yang terbuka, dan kesediaan untuk bekerja sama. (Klum: <img src='http://indomemo.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Di balik segala kesuksesannya yang luar biasa sebagai model dan business woman, Klum merasa kalau secara fisik dia merasa berpenampilan biasa-biasa saja dibanding model-model yang lain. Dia merasa agak lebih pendek dari kebanyakan model yang lain, lebih berisi, dan terlalu banyak senyum. Ditambah lagi, dia sadar betul kalau bagian belakangnya (hal sangat penting bagi seorang model) adalah yang dia sebut dengan (maaf) bokong “tipe” Jerman, yang mungkin disebabkan oleh perilaku “kebanyakan makan kentang”. (Klum: <img src='http://indomemo.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Beberapa diantara petikan petuah dari Heidi Klum yang ada di dalam buku ini:<br />
“Hal yang paling penting untuk selalu kau bawa-bawa adalah optimisme”<br />
“Segala sesuatu yang tidak cukup menantangmu, akan melemahkanmu..”<br />
“Kalau kau gak minta, kau tidak akan mendapatkanya..”<br />
“Perjalanan/travelling akan meluaskan sudut pandangmu, dan memberimu semacam persona.. ”<br />
“Semakin banyak orang pinter yang berada di pihakmu, akan semakin baik kau jadinya..”</p>
<p>Hal-hal positif lain yang tertulis dalam buku ini, antara lain:<br />
- 8 perilaku menuju sukses.<br />
- Membangun semangat dan kegigihan.<br />
- Menangani kritik dan tetap positif setelah mengalami kegagalan.<br />
- Menemukan humor di segala situasi dan mengatasi “demam panggung”.<br />
- Rahasia kecantikannya sehari-hari dan menjaga ukuran badannya tanpa “menyengsarakan diri sendiri.”<br />
- Sembilan tempat favorit Klum di dunia, dan No.1: Bali..!!<br />
- Mengapa kita perlu rutin berolahraga, dan 30 menit “karena terpaksa” olahraga yg efektif.<br />
- Dan lain-lain.</p>
<p>Secara umum, ditinjau dari segi tulisan, buku ini menyajikan pesan-pesan dan pelajaran membangun tentang manajemen diri dalam meraih kesuksesan. Pesan-pesan tersebut saya akui, memang bersifat universal, dan dapat diterapkan di bidang apapun yang sedianya dipilih seseorang dalam perjalanannya menuju sukses. Sedangkan mengenai pilihan karir, Klum memang memilih area yang menurut penilaian pribadi ketimuran saya (tolong garis bawahi kata &#8220;penilaian pribadi&#8221;), signifikan liberal.<br />
Beberapa bagian dari buku ini juga menunjukkan sisi lain dari Klum sebagai seorang wanita “biasa.” Seperti telah saya singgung sebelumnya, yang membedakan Klum dengan banyak wanita lain “hanya” kemauannya yang kuat, dan perilakunya yang selalu positif. Tips-tips praktis yang disajikan di dalam buku ini juga begitu simpel, namun cukup esensial, dan mudah dijalani.</p>
<p>Namun teman pembaca, jangan meminta saya untuk menghadirkan buku ini di tanah air ya, alasannya karena&#8230;&#8230;yang tadi itulah!..:-)</p>
<p>Referensi:</p>
<p>Klum, Heidi &amp; Alexandra Postman (co-author). <em><span style="font-family: Lucida Sans;">Heidi Klum&#8217;s Body of Knowledge (to help you take off on the runway of life)</span></em>. 2004. Crown Publishers: New York, New York. 192hlm.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indomemo.com/?feed=rss2&amp;p=1390</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mengulas &#8220;Frames Of Mind, The Theory of Multiple Intelligences&#8221; of Howard Gardner. (Buku Pencetus Teori Kecerdasan Majemuk)</title>
		<link>http://indomemo.com/?p=1373</link>
		<comments>http://indomemo.com/?p=1373#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Mar 2010 02:30:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendidikan, Psikologi, Self-help]]></category>

		<category><![CDATA[Zoom (Galeri Fotografi)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indomemo.com/?p=1373</guid>
		<description><![CDATA[Anda juga jenius!
Satu hari dibulan Januari, teman saya, seorang guru dari Sumatera Utara mengingatkan saya tentang pentingnya membaca buku yang berkaitan dengan teori Multiple Intelligences/MI. Saat itu kami sedang membicarakan tentang teori kecerdasan yang lain, namun beliau menjelaskan kalau di lingkungan pendidikannya saat ini, teori MI inilah yang lebih banyak dipakai dan populer.  Demikianlah, saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Anda juga jenius!</strong></p>
<p><em>Satu hari dibulan Januari, teman saya, seorang guru dari Sumatera Utara mengingatkan saya tentang pentingnya membaca buku yang berkaitan dengan teori Multiple Intelligences/MI. Saat itu kami sedang membicarakan tentang teori kecerdasan yang lain, namun beliau menjelaskan kalau di lingkungan pendidikannya saat ini, teori MI inilah yang lebih banyak dipakai dan populer.  Demikianlah, saya cari buku yang “bertanggung jawab” atas pencetusan teori ini, dan syukurlah, saya temukan.</em></p>
<blockquote><p>Buku ini ditulis oleh Gardner, untuk memenuhi keinginan dari suatu lembaga yang memiliki semacam proyek yang bertujuan untuk mencari mengklarifikasi melalui penyelidikan yang seksama mengenai konsep “human potential.”</p></blockquote>
<div id="attachment_1374" class="wp-caption alignright" style="width: 145px"><img class="size-medium wp-image-1374 " title="whpl-slumber-art" src="http://indomemo.com/wp-content/uploads/2010/03/whpl-slumber-art-225x300.jpg" alt="berkarya" width="135" height="204" /><p class="wp-caption-text">berkarya</p></div>
<p>Review buku ini adalah salah satu dari rangkaian review buku perintis/pendobrak ide yang ingin saya sajikan. Pada tahun 1983, penerbitan buku inilah yang menandai peluncuran teori MI oleh pencetusnya. Dunia pendidikan saat itu masih dimonopoli oleh aplikasi teori Intelligence Quotient/IQ, sebagai tolak ukur kecerdasan sejak tahun 1900-an. Review kali ini juga lebih merupakan peletakan pondasi dasar dari review buku-buku yang akan datang. Di masa datang saya ingin membaca buku lebih baru yang berhubungan dengan MI dan berbagi infonya dengan anda, dan review ini dapat menjadi referensi bagi anda yg memerlukan informasi dasar teorinya.</p>
<p>Menurut penulisnya, penulisan buku ini diawali oleh sebab yang tidak biasanya.  Buku ini ditulis oleh Gardner, untuk memenuhi keinginan dari suatu lembaga yang memiliki semacam proyek yang bertujuan untuk mencari mengklarifikasi melalui penyelidikan yang seksama mengenai konsep “human potential.” Pada saat itu, Howard Gardner adalah salah satu personel dari Graduate School of Education di Harvard University. (ix)</p>
<p>Buku ini memiliki 14 bab, dan disajikan dalam 3 part:</p>
<p>Part I. Background (Latar Belakang).<br />
Terdiri dari 4 bab.  Berisikan tentang seluk beluk yang melatar belakangi pencetusan teori ini.  Bagian ini juga menjabarkan misi utama Gardner dalam penulisan buku ini, yaitu:</p>
<ul>
<li>Mewujudkan keinginannya untuk memperluas cakupan ilmu psikologi kognitif.</li>
<li>Menilai sisi implikasi dari teori ini dibidang pendidikan.</li>
<li>Untuk menginspirasi para antropologis, guna membuat penyesuaian tentang konsep kecerdasan yang  saat ini telah beredar di banyak negara dan banyak kultur.</li>
<li>Untuk menantang “dunia” <span id="more-1373"></span>termasuk para pelaku hukum dan politikus yang selama ini menerapkan teori-teori kecerdasan yang “cacat” atau tidak produktif. Bahwa konsep MI ini dapat diterapkan di dunia pendidikan dalam kondisi apapun, akan membantu mengeliminir kegagalan sistem yang buntu, dan menunjang kemajuan teori-teori yang memiliki kemungkinan untuk sukes.(9-10)</li>
</ul>
<p>Part II. The Theory (Teori)<br />
Terdiri dari 8 bab. Oleh Gardner disebut sebagai “jantungnya” buku ini, dibagian inilah dijelaskan satu persatu jenis-jenis kecerdasan yang tercakup dalam teori MI ini, dalam setiap babnya.</p>
<ul>
<li>Bab 5. Kecerdasan Linguistik.<br />
Kemampuan untuk mengolah bahasa</li>
<li>Bab 6. Kecerdasan Musikal<br />
Menurut Gardner adalah kecerdasan yang paling awal terlihat dalam proses perkembangan anak.</li>
<li>Bab 7. Kecerdasan Logik-Matematik.<br />
Gardner mengatakan bahwa kecerdasan ini umum mulai terlihat pada anak usia 18 bulan keatas.</li>
<li>Bab 8. Kecerdasan Spatial/Tata Ruang.<br />
Kemampuan untuk menciptakan gambaran mental visual suatu subjek dimensional, dan secara mental juga mampu melakukan modifikasi atau transformasi terhadap objek tersebut.</li>
<li>Bab 9. Kecerdasan Kinestetik<br />
Kemampuan menggunakan dan mengolah fisik/badan, baik motorik halus maupun kasar.</li>
<li>Bab 10. Kecerdasan Personal/Karakter.  Yang dibagi lagi menjadi dua, yaitu Kecerdasan Intrapersonal dan Kecerdasan Interpersonal.</li>
</ul>
<p>Dua bab terakhir dari part ini, berisikan perihal kritik dan perbandingan teori ini dgn teori lainnya (bab 11), dan sosialisasinya melalui berbagai sistem simbol yang ada di masyarakat (bab 12).</p>
<p>Part III. Implications and Applications (Implikasi dan Aplikasi)<br />
Terdiri dari bab 13 dan bab 14.  Berisikan seluk beluk dan aspek pelatihan dari masing-masing kecerdasan  serta aplikasinya.</p>
<p>Saya adalah supporter dari teori-teori kecerdasan alternatif, dalam hal ini termasuk teori Multiple Intelligences-nya Gardner ini (dicetuskan tahun 1983) dan teori Emotional Intelligence-nya Goleman (buku tentang ini diluncurkan tahun 1995).  Malah menurut hemat saya, teori EQ yang diluncurkan oleh Goleman, terdengar relevan sekali dengan jenis kecerdasan MI-nya Gardner yang ke 6 dan ke 7 , yaitu kecerdasan intra dan interpersonal.  Dua ilmuwan ini telah menggali dan memperdalam dimensi yang sama, yaitu sisi kekuatan dari karakter seseorang.</p>
<p>Goleman &amp; Gardner telah memberikan harapan yang positif di dunia pendidikan yang menjadikan kesuksesan murid sebagai tujuan utamanya.  Aplikasi teori mereka dapat memperbesar peluang siapa saja untuk menjadi sukses. </p>
<p>Untuk para orangtua, lihatlah secara jujur setiap potensi dari anak anda.  Perkenankan sang buah hati untuk menjadi ahli dibidangnya masing-masing. Paling tidak, kembangkanlah minat dan bakat mereka. “Genius” menurut kamus Merriam-Webster adalah: “ A single strongly marked capacity or aptitude&#8230;” Yang kalau diartikan adalah: “Sebuah kemampuan belajar/kapasitas yang sangat kuat terhadap sesuatu.” Tidak ada kata “jenis” tertentu disitu, yang ada adalah kata-kata “kuat” untuk sesuatu yang khusus .</p>
<p>Maka setiap orang akan memiliki kesempatan, untuk berprestasi dengan keunggulan yang dimilikinya masing-masing, yang telah diberikan Tuhan. Saya yakin, apa yang telah diberikan Tuhan pada setiap bayi yang lahir, adalah cukup untuk dirinya. Anugrah ini, bila digunakan dengan tujuan baik, akan membawa kebaikan baginya dan orang-orang disekitarnya.</p>
<p>Support anugrahNya pada anak anda yang pintar dan bercita-cita menjadi ahli matematik, bakat anak anda yang pintar membuat syair dan kepingin menjadi penyair, jangan lupa yang pintar olahraga karena ingin menjadi atlit, dan yang selalu ingin menjadi penulis, dan psikolog, dan pengabdi rakyat, dan guru, dan fotografer, dan perawat, dan seniman, dan wirausahawan, dan dokter, dan lain-lainnya..dan lain-lainnya..<br />
Referensi:<br />
Gardner, H., Frames Of Mind, The Theory of Multiple Intelligences, 1983, New York: Basic Books Inc., 440hlm + xiii<br />
Image from photobucket.com</p>
<p style="text-align: right;">For a child in you, with dreams to reach<br />
Shap</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indomemo.com/?feed=rss2&amp;p=1373</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;The Out-of-Sync Child&#8221; book, Berbicara Tentang Anak-Anak yang Tidak Seirama (Review Buku Spektrum Autisme 1)</title>
		<link>http://indomemo.com/?p=1364</link>
		<comments>http://indomemo.com/?p=1364#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Mar 2010 01:56:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kesehatan & Banyak Sisinya]]></category>

		<category><![CDATA[Pendidikan, Psikologi, Self-help]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indomemo.com/?p=1364</guid>
		<description><![CDATA[Ketika teman saya, seorang ibu, menceritakan perasaannya tentang buah hatinya yang dikhawatirkan menunjukkan gejala Sensory Integration Dysfunction, tidak ada kata lain yang bisa saya sampaikan, selain menyatakan kalau saya faham perasaannya.  Tidak juga ada yang lebih nyata lagi dalam menggambarkan rasa “faham” itu, selain dengan memutar kembali “kaset sendu” keluarga kami yang terekam beberapa tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Ketika teman saya, seorang ibu, menceritakan perasaannya tentang buah hatinya yang dikhawatirkan menunjukkan gejala Sensory Integration Dysfunction, tidak ada kata lain yang bisa saya sampaikan, selain menyatakan kalau saya faham perasaannya.  Tidak juga ada yang lebih nyata lagi dalam menggambarkan rasa “faham” itu, selain dengan memutar kembali “kaset sendu” keluarga kami yang terekam beberapa tahun yang lalu. Masih ingat rasanya, persis sesaat sebelum pesawat kami take off ke negeri orang, seorang kerabat kami mengucapkan:<br />
“Sa, kata istriku&#8230;anakmu autis..”</em></p>
<div id="attachment_1365" class="wp-caption alignleft" style="width: 204px"><img class="size-medium wp-image-1365  " title="jari" src="http://indomemo.com/wp-content/uploads/2010/03/img_0036-300x225.jpg" alt="touch" width="194" height="128" /><p class="wp-caption-text">touch</p></div>
<p>Pencarian saya akan buku-buku yang berhubungan dengan Sensory Integration Dysfunction (untuk mempersingkat, selanjutnya akan saya sebut “SID”), diawali dari internet untuk mencari tahu tentang apa yang saat ini sedang terjadi di dunia spektrum autisme secara umum. Setelah mendapatkan info awal, saya masukkan info tersebut ke katalog online jaringan perpustakaan kota kami dan seluruh wilayah sekitarnya. Buku yang berhubungan muncul banyak, beberapa diantaranya kelihatan cukup berharga untuk diburu, dan tersebar di beberapa kota tetangga. Pencarian kemudian saya akhiri dengan 4 buku ditangan, yang saya anggap paling baik untuk dipelajari.</p>
<p>Pada kesempatan ini, saya akan sajikan ulasan tentang buku yang pertama, berjudul “The Out-of-Sync Child: Recognizing and Coping with Sensory Integration Dysfunction.” Setelah membaca review ini, anda akan tahu mengapa saya memilih untuk menyajikan buku ini sebagai kandidat anjuran baca yang pertama.  Di rumah, sebelum saya baca, buku ini saya “skim”selama dua malam, sebagai perkenalan yang pertama. Hasilnya? Sampai pada saat saya menulis kalimat ini, sebenarnya saya belum tahu kata yang paling tepat untuk menggambarkannya, tapi hal ini justru yang mendorong saya untuk terus membacanya.</p>
<blockquote><p>&#8220;Orang tua dan guru sering merasa frustasi dalam menangani seorang anak yang memiliki gejala SID,..bagaimana perasaan anak itu sendiri bila hal itu sampai terjadi?&#8230;Sama.&#8221; (Kranowitz)</p></blockquote>
<p>Buku ini luar biasa.  Sekilas, buku ini kalah mentereng dari sisi fisiknya dibanding ketiga “temannya” yang memiliki kualitas kertas nomor satu yang berwarna putih cerah sampai terlihat agak kebiruan, dengan ilustrasi atau foto sampul yang berwarna cerah juga. Sedangkan buku ini memiliki kertas yang kalau saya boleh sebut: “semi kertas koran,” walaupun tidak setipis itu. Disampulnya, foto super close-up, wajah seorang anak, dengan warna general peach. Kertas buku ini berwarna agak buram, dan setelah saya cek ke toko buku, cetakan ulang yang terbarunya pun memiliki penampilan yang kira-kira sama. Sang penerbit rupanya tidak meng-upgrade-nya menjadi buku yang lebih “fancy.”</p>
<p>Sekarang, darimana sebaiknya saya memulai?<br />
Saat saya membaca sebuah buku, biasanya saya menemukan kalau dari seluruh isi buku, ada bagian-bagian yang berfungsi sebagai “inti,” dan ada <span id="more-1364"></span>bagian-bagian yang lebih merupakan tambahan atau perluasan detail saja.  Khusus pada buku ini, saya menemukan kalau hampir seluruh bagian dari buku ini merupakan “inti.”</p>
<p>Penulis buku ini adalah Carol Stock Kranowitz. <br />
Mrs. Kranowitz adalah lulusan Barnard College, dan mendapatkan M.A.in Education &amp; Human Development dari The George Washington University. Mengajar preschool sejak tahun 1976, beliau telah berpengalaman dalam mengamati anak-anak yang “out-of-sync” (terjemahan bebas: anak-anak yang “tidak seirama”) dan mempelajari teori sensory integration untuk mengetahui kehadirannya pada anak. Kranowitz juga mengusahakan tindakan “early intervention,”  yaitu penanganan gejala pada anak, diusia yang sedini mungkin. (Appendix)<br />
 <br />
Menurut penulisnya, tujuan utama buku ini adalah untuk menjabarkan konsep Sensory Integration dan lawannya, yaitu Sensory Integration Dysfunction. Disini juga, pembaca akan diperkenalkan pada istilah-istilah umum yang banyak dipakai oleh para professional dibidang ini, yang dianggap berguna.<br />
Jadi, seperti telah tersirat, buku ini bukan hanya ditujukan bagi para profesional, namun juga untuk para orang tua, atau siapa saja yang memerlukan bantuan dalam menghadapi dan mengatasi anak-anak dengan SID.  Termasuk juga didalamnya; guru, dokter, terapis, psikolog, para nenek/kakek, pengasuh anak, atau siapa saja yang berkesempatan merawat mereka.  Kranowitz juga menyarankan pembacanya untuk membaca buku ini secara keseluruhan dari awal sampai akhir, guna mendapatkan suatu gambaran yang menyeluruh tentang SID. (xxv-xxviii)</p>
<p>Definisi Sensory Integration Dysfunction itu sendiri adalah ketidakmampuan untuk memproses informasi yang diterima melalui sensasi tubuh.  Nama lain dari fenomena ini adalah “Sensory Integration Disorder,” atau “Sensory Integrative Dysfunction.” Dengan singkatan resmi SI Dysfunction (8)</p>
<p>Total terdiri dari 11 bab, semua bab yang terdapat dalam buku ini dikelompokkan dalam 2 part:<br />
 <br />
Part 1. Adalah bab-bab yang merupakan penjabaran dari SID itu sendiri dan akibat-akibat yang ditimbulkannya pada seorang anak.  Termasuk diantaranya adalah bagaimana mengetahui bila seorang anak memang memiliki gejala SID, bilakah memiliki problem dengan tactile sense (sentuhan), vestibular sense (keseimbangan), atau  proprioceptive sense (koordinasi gerakan), bahan-bahan/materi yang berhubungan, beserta penjabarannya.<br />
Part 2. Berisikan bab-bab tentang kriteria-kriteria, materi, dan panduan untuk mendapatkan diagnosa dan perawatan. Termasuk diantaranya: teknik penanganan dirumah, disekolah, emosi anak, meningkatkan kualitas hidup keluarganya, dan lain-lain.</p>
<p>Beberapa hal yang sangat menonjol dari buku ini adalah tingkat kedetail-an dari informasi dan alat bantu materi yang diberikan.  Sementara pada waktu yang sama, struktur penyajiannya yang tidak membuat pembacanya seperti membaca sebuah “kamus.”<br />
 <br />
Salah satu contoh alat bantu tersebut adalah tersedianya “Checklist Gejala-Gejala Umum SID” di halaman 11-17 dari buku ini. List ini kemudian diperinci dan dibagi lagi menjadi 2 bagian:<br />
1.List “Sensory Processing Problems,” gejala-gejala yang berhubungan dengan isu-isu yang merupakan inti dari SID itu sendiri. Antara lain yang ditunjukkan oleh anak-anak yang oversensitive/terlalu sensitif, undersensitive/kurang sensitive, atau oversensitive pada satu hal namun undersensitive pada hal yang lain.<br />
2.List “Behavioral Problems,” gejala-gejala yang berhubungan dengan isu-isu yang merupakan hasil dari ketidak-efisienan pemprosesan sensasi dalam tubuh atau masalah-masalah pertumbuhan lainnya. Termasuk didalamnya juga bagaimana menentukan apakah seorang anak memiliki gejala SID ringan, moderat, atau serius.   </p>
<p>Contoh detail topik lain yang tercakup:<br />
Gejala-gejala pada anak yang “hanya mirip SID” ?<br />
Kalau saja sekolah lebih seperti rumah&#8230;<br />
Mendorong kesuksesan anak di sekolah.<br />
Mencocokkan anak dan sekolah.<br />
Siapa saja yang perlu diceritakan??<br />
Dll.</p>
<p>Buku tentang SID termasuk jarang dibanding buku-buku tentang &#8220;learning disability&#8221; lainnya. Buku ini akan sangat membantu dalam menangani anak-anak dengan gejala SID, baik yang sudah didiagnosa maupun yang belum. Dicetak ulang terus menerus, sepanjang yang saya tahu, edisi cetak ulang terakhirnya adalah cetakan tahun 2006.</p>
<p>Semoga bermanfaat&#8230;</p>
<p>Referensi:<br />
Kranowitz, Carol, M.A. The Out-of -Sync Child, Recognizing and Coping with Sensory Integration Dysfunction. New York: Skylight Press, 1998. 322 + xxviii hlm</p>
<p>                                                                                                                                                                                                                                        Shap</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indomemo.com/?feed=rss2&amp;p=1364</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Review buku: &#8220;The Home School Manual&#8221; of Theodore E. Wade, Jr.</title>
		<link>http://indomemo.com/?p=1348</link>
		<comments>http://indomemo.com/?p=1348#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 23:50:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendidikan, Psikologi, Self-help]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indomemo.com/?p=1348</guid>
		<description><![CDATA[ 
Diantara teman-teman saya, paling tidak ada tiga keluarga yang memutuskan untuk menyekolahkan sendiri anaknya di rumah. Tanpa terhindar, sewaktu-waktu saya terpikir akan berbagai macam motivasi yang melatar belakangi pengambilan keputusan ini. Termasuk mengapa sampai timbul keperluan bagi sebuah keluarga untuk menyekolahkan putra-putrinya di rumah. Pro dan kontra dari teman-teman yang lainnya juga sangat beragam, baik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<div id="attachment_1351" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1351" title="dalam-perpus" src="http://indomemo.com/wp-content/uploads/2010/02/dalam-perpus-300x225.jpg" alt="Perpustakaan, tempat yang baik untuk belajar dan mengajar" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Perpustakaan, tempat yang baik untuk belajar dan mengajar</p></div>
<p>Diantara teman-teman saya, paling tidak ada tiga keluarga yang memutuskan untuk menyekolahkan sendiri anaknya di rumah. Tanpa terhindar, sewaktu-waktu saya terpikir akan berbagai macam motivasi yang melatar belakangi pengambilan keputusan ini. Termasuk mengapa sampai timbul keperluan bagi sebuah keluarga untuk menyekolahkan putra-putrinya di rumah. Pro dan kontra dari teman-teman yang lainnya juga sangat beragam, baik yang positif maupun negatif. Semua info “was-wis-wus” yang saya dengar, tidak berhasil membuat saya untuk bisa menarik kesimpulan sedikitpun tentang hal ini. Jadi bermodalkan rasa ingin tahu, saya memutuskan untuk mempelajari hal ini lebih jauh dari sumber yang lebih legitimate, buku panduannya.</p>
<blockquote><p>Para penulis buku ini jelas sadar betul, bahwa setiap orang memiliki tujuan yang berbeda-beda saat membaca buku ini. Untuk itu, buku ini disajikan dengan cara yang menurut saya kreatif, menolong, dan unik, dalam usaha menuntun setiap pembacanya mengeksplorasi isi buku. Cara tersebut dinamakan “Tour.”</p></blockquote>
<p style="margin-bottom: 0in;"> Sebelum melanjutkan, saya ingin anda mengetahui bahwa disamping alasan tadi, pada waktu yang sama, saya juga mempunyai misi yang sejalan. Dari interaksi saya dengan teman-teman di tanah air, banyak juga para orangtua di Indonesia yang saat ini berminat untuk mempelajari tentang seluk-beluk home school. Pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan hal ini bermunculan bagaikan jamur dimusim hujan (atau di kebun-kebun jamur di pegunungan). Tentu saja bagi teman pembaca di tanah air, buku ini <span id="more-1348"></span>tidak bisa begitu saja dipakai secara leterlek, dan lebih merupakan bahan perbandingan terhadap prinsip-prinsip home school yang ada di Indonesia. Mari belajar bersama, tentang homeschooling disisi lain dari belahan dunia dari tanah air kita tercinta.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Diantara buku-buku panduan home school yang ada di perpustakaan, saya membawa pulang buku ini. Buku ini saya pilih karena gampang terlihat dari ukurannya yang besar, tebal, dan sekilas daftar isinya paling lengkap (bukan alasan yang terakurat untuk memilih buku?). Saya pikir, saya akan belajar tentang home school mulai dari buku “setebal bantal” ini, dan berusaha mengerti sedikit banyak tentang isinya.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Menurut Theodore Wade dkk., buku ini ditulis untuk lebih memperbaiki dan menjelaskan secara lebih mendetail tentang hal-hal yang telah disajikan pada terbitan sebelumnya. Di bab awal, beliau juga mengajak para pemerhati home school dari golongan/agama apapun untuk menyatukan ide. Alasannya karena mereka yakin bahwa setiap orang dari latar belakang agama apapun, selama masih religius, pada dasarnya sering menempuh jalan yang sama dalam hal mendidik anak-anaknya.(12)</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Poin penting lain dari Mr. Wade dkk. adalah juga bahwa motivasi masing-masing keluarga di Amerika Serikat untuk menyekolahkan anaknya di rumah dapat berbeda-beda satu sama lainnya. Berbagai motivasi tersebut antara lain: Agama (65%), Pencapaian Akademik (22%), Perkembangan Sosial (11%), sebagai Alternatif/filosofi New Age (2%). Buku ini dengan kuat juga menyarankan para orang tua untuk mencoba menyelesaikan berbagai persoalan yang berhubungan dengan sekolah terlebih dahulu(bila ada). Seperti bekerja sama lebih baik dengan guru, sekolah, dan kepala sekolah, memberikan anak guru privat, atau memasukkan anak ke sekolah swasta yang sesuai. Termasuk juga di dalamnya, menyelesaikan perbedaan cara pandang/filosofi pendidikan antara keluarga dan sekolah, sebelum memutuskan untuk menyekolahkan anak dirumah (17)</p>
<p style="font-style: normal; margin-bottom: 0in;">Para penulis buku ini jelas sadar betul, bahwa setiap orang memiliki tujuan yang berbeda-beda saat membaca buku ini. Untuk itu, buku ini disajikan dengan cara yang menurut saya kreatif, menolong, dan unik, dalam usaha menuntun setiap pembacanya mengeksplorasi isi buku. Cara tersebut dinamakan “Tour.” Di halaman 12, disajikan daftar “Guided tours” yang akan mencakup seluruh isi buku.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Untuk menggunakan buku ini, ada 6 rute tour yang bisa ditempuh:</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Tour A: Diperuntukkan bagi siapa saja yang tertarik untuk sekedar menyelidiki dan memperoleh ide tentang home school.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Tour B: Diperuntukkan bagi siapa saja yang tertarik dalam hal pendidikan anak-anak usia preschool.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Tour C: Diperuntukkan untuk pembaca yang masih baru terhadap home school dan berencana untuk mengajar setingkat sekolah dasar.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Tour D: Untuk para orang tua yang telah memiliki pengalaman satu tahun atau lebih, dan masih melanjutkan pengajaran tingkat sekolah dasar.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Tour E: Untuk siapa saja yang tertarik untuk home-schooling anak setingkat sekolah menengah atas.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Tour F: Untuk pengajaran anak-anak dengan kebutuhan khusus. (13-14)</p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom: 0in;">Sekilas dari rute yang saya jajagi, dari daftar isi terlihat bahwa rute A termasuk rute yang lebih pendek dibanding rute-rute lainnya. Di rute ini di sajikan 16 bab, sementara rute-rute lainnya menyajikan sekitar 15 sampai 45 bab.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Rute A mencakup hal-hal sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Home school sebagai alternatif pendidikan.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Orang tua dan pendidikan.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Saat untuk tidak mencoba home schooling.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Berdamai dengan birokrasi.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Memperjuangkan hak orang tua untuk mengajar.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Menolong anak anda belajar.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Perencanaan mengajar.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;">Teknik-teknik mengajar</span><em>.</em></p>
</li>
<li>
<p style="font-style: normal; margin-bottom: 0in;">Memilih materi pengajaran.</p>
</li>
<li>
<p style="font-style: normal; margin-bottom: 0in;">Memperkaya materi pelajaran.</p>
</li>
<li>
<p style="font-style: normal; margin-bottom: 0in;">Perencanaan untuk anak-anak usia dini.</p>
</li>
<li>
<p style="font-style: normal; margin-bottom: 0in;">Pengajaran nilai-nilai kehidupan (termasuk agama).</p>
</li>
<li>
<p style="font-style: normal; margin-bottom: 0in;">Pengajaran sains.</p>
</li>
<li>
<p style="font-style: normal; margin-bottom: 0in;">“The Redwooded Headpecker”, kisah tentang sekolah di rumah.</p>
</li>
<li>
<p style="font-style: normal; margin-bottom: 0in;">Membangun disiplin diri.</p>
</li>
<li>
<p style="font-style: normal; margin-bottom: 0in;">Menyesuaikan sekolah untuk empat anak.(12)</p>
</li>
</ul>
<p style="font-style: normal; margin-bottom: 0in;">Rute B,C, D, E, F tentu saja menyajikan dengan lebih mendetail aspek-aspek yang berhubungan sesuai dengan tujuan masing-masing rute.</p>
<p style="font-style: normal; margin-bottom: 0in;">Setelah menyelesaikan tour singkat saya dan meneliti cakupannya, saya pribadi berkesimpulan bahwa buku ini jelas dapat menjadi bantuan yang berharga bagi para orang tua yang memutuskan untuk menyekolahkan anaknya di rumah. Tidak hanya itu, semua orang tua maupun para pengajar yang memiliki anak usia sekolah, dapat pula memetik manfaatnya, baik mereka yang memiliki anak yang pergi ke sekolah, maupun yang bersekolah dirumah. Saya sangat menghargai pemikiran dasar Mr. Wade, dkk. dengan tujuannya yang mulia perihal home school dalam buku ini. Saya setuju bahwa setiap orang tua berhak untuk memilih yang terbaik untuk anak-anaknya. Pada pelaksanaannya, tentu saja orang tua akan mempertimbangkan berbagai aspek dan sumber daya yang terkait, sebelum memutuskan sebuah cara yang terbaik bagi putra-putrinya untuk mendapatkan pendidikan.</p>
<p style="font-style: normal; margin-bottom: 0in;">Dibagian lampiran buku ini (appendix G) saya menemukan daftar lengkap bidang studi dari setiap mata pelajaran, di setiap tingkatan kelas. Sementara saya masih menyekolahkan anak ke sekolah umum, bagian ini akan sangat membantu saya untuk mengetahui apa yang sedang anak-anak saya pelajari setiap saatnya di sekolah. Hal ini akan mempermudah saya dalam menolong proses belajar mereka.</p>
<p style="font-style: normal; margin-bottom: 0in;">Secara fisik, buku ini tebalnya kira-kira 3 cm, berukuran 28 x 21 cm<span style="font-family: Times New Roman, serif;">², dan</span> memiliki 526 halaman. Tercakup juga di dalam buku ini bermacam lembar isian seperti: Lembar Evaluasi Individu, Kalender Kurikulum, Sumber Kurikulum, Lembar Kerja Per Unit/Subjek, Hasil Belajar Perminggu, Dokumentasi Kehadiran &amp; Nilai, Kumpulan Catatan Kehadiran &amp; Kesimpulan Evaluasi, Jadwal, Tugas Harian, Daftar Pekerjaan Rumah, Managemen Rumah Mingguan, Buku-buku yang Dibaca, Studi Lapangan, dan Dokumentasi Hasil Test.</p>
<p style="font-style: normal; margin-bottom: 0in;"> </p>
<p style="font-style: normal; margin-bottom: 0in;">Semoga bermanfaat,</p>
<p style="font-style: normal; margin-bottom: 0in;"> </p>
<p style="font-style: normal; margin-bottom: 0in;">Referensi:</p>
<p style="font-style: normal; margin-bottom: 0in;">Wade, T., Jr. dkk. <em>The Home School Manual: Plans, Pointers, Reasons, and Resources</em>. 6<sup>th</sup> ed. 1996. Gazelle Publication: Bridgman, MI: 526 hlm.</p>
<p style="font-style: normal; margin-bottom: 0in;"> </p>
<p style="font-style: normal; margin-bottom: 0in;" align="right"> </p>
<p style="font-style: normal; margin-bottom: 0in;" align="right">Shap</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indomemo.com/?feed=rss2&amp;p=1348</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca Snow White versi asli Jerman, bukan sang putri yang di “orbitkan” oleh Walt Disney. (Dari buku “Snow White And The Seven Dwarfs, A Tale From The Brothers Grimm” by Randall Jarrell)</title>
		<link>http://indomemo.com/?p=1341</link>
		<comments>http://indomemo.com/?p=1341#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 15:37:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Mengekspos Fiksi]]></category>

		<category><![CDATA[Pustaka dan plus, sebagai pendobrak ide]]></category>

		<category><![CDATA[Relax & Ringan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indomemo.com/?p=1341</guid>
		<description><![CDATA[ Adalah seorang putri, di negri antah-berantah yang telah kehilangan ibunya dimasa kecil. Ayahnya, sang raja, memilih untuk menikah lagi dengan seorang wanita yang sangat cantik. Sang wanita yang telah dipersunting menjadi ratu tersebut begitu cantiknya, namun kecantikannya rupanya tidak pernah membuatnya merasa “Pe-de.”
Setiap hari sang ratu bertanya pada cermin ajaibnya:
“Hai cermin ajaib&#8230;siapakah yang tercantik diseluruh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> Adalah seorang putri, di negri antah-berantah yang telah kehilangan ibunya dimasa kecil. Ayahnya, sang raja, memilih untuk menikah lagi dengan seorang wanita yang sangat cantik. Sang wanita yang telah dipersunting menjadi ratu tersebut begitu cantiknya, namun kecantikannya rupanya tidak pernah membuatnya merasa “Pe-de.”</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Setiap hari sang ratu bertanya pada cermin ajaibnya:</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">“Hai cermin ajaib&#8230;siapakah yang tercantik diseluruh negri..??”</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Setiap hari pula sang cermin menjawab dengan jujurnya:</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">“Engkaulah yang tercantik diseluruh negri, baginda ratu..”</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Demikianlah yang selalu berlangsung. Sang putri cilik tumbuh berkembang, hingga suatu hari, saat sang ratu bertanya pada cermin ajaibnya, tanpa disangkanya, sang cermin memberikan jawaban berbeda:</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">“Punteeen&#8230;baginda ratu, sekarang Putri Salju adalah yang tercantik..”</p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><em>Sang ratu sangat murka, dan menyusun rencana untuk membunuh anak tirinya itu&#8230;demikianlah, cerita kemudian berlanjut&#8230;</em></p>
<p style="font-style: normal;">Rupanya saya sedang rindu membaca buku dongeng. Waktu saya masih kecil, saya menyukai semua buku saya, namun secara khusus saya sangat suka membaca buku tentang dongeng tradisional, baik dari dalam maupun luar negri. </p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom: 0in;">Pssstt&#8230;ternyata Putri Salju tidak pernah di-sun sang pangeran..!!</p>
</blockquote>
<div id="attachment_1343" class="wp-caption alignright" style="width: 100px"><img class="size-full wp-image-1343" title="snow" src="http://indomemo.com/wp-content/uploads/2010/01/snow.jpg" alt="Putri Salju Jerman" width="90" height="124" /><p class="wp-caption-text">Putri Salju Jerman</p></div>
<p style="font-style: normal;">Bagi saya, dongeng sangat berbeda dengan buku cerita biasa yang kebanyakan menceritakan tentang kisah sehari-hari, atau cerita sejarah tentang kejadian beberapa waktu yang lalu. Dongeng dapat membawa saya menembus ruang dan waktu sangat jauh, ke dunia yang berbeda, pada masa yang jauh berbeda juga. Pada saat itu, buku dongeng yang saya miliki, sangat terbatas jumlahnya, sehingga cerita-cerita dongeng tersebut saya dengar dan dapatkan dari majalah anak-anak.</p>
<p><span style="font-style: normal;">Di negara-negara berbahasa Inggris, dongeng disebut juga </span><em>fairy tales</em><span style="font-style: normal;">. Lima hari yang lalu, sambil mencarikan buku untuk anak saya, saya juga mencari buku-buku jenis ini. Kebanyakan buku dongeng yang ada saat ini merupakan bentuk-bentuk adaptasi, seringkali telah dimodernisasi dari dongeng aslinya. Kemudian saya menemukan buku ini, </span><em>Snow White and The Seven Dwarfs.</em></p>
<p><span style="font-style: normal;">Di tanah air kita, </span><em>Snow White </em><span style="font-style: normal;">dikenal dengan nama “Putri Salju.” Buku yang saya temukan memuat kisah ini adalah; </span><em>Snow White and The Seven Dwarfs</em><span style="font-style: normal;"> yang bila diterjemahkan perkata akan menjadi “Putih Salju dan Tujuh Kurcaci.” Kata-kata “Putri” tidak pernah ada dijudulnya. <span id="more-1341"></span>Saya tidak tahu kapan mulainya, namun sampai sekarang, “Si Putri Salju” jauh lebih terkenal di tanah air kita dibanding “Si Putih Salju.” Mungkin karena sang gadis dalam cerita ini pada dasarnya memang seorang putri. </span></p>
<p><span style="font-style: normal;">Buku yang menarik perhatian saya ini bukan versi yang telah diadaptasikan oleh Disney, namun lebih merupakan versi Jerman, tempat asal dari cerita ini, yang telah diterjemahkan oleh Randall Jarrell kedalam bahasa Inggris pada tahun 1972. Dibanding buku-buku yang lain diperpustakaan, buku ini sudah terlihat agak tua. Walau demikian, buku ini memiliki keindahannya tersendiri. Ilustrasinya terlihat natural seperti lukisan tangan, warna-warnanya yang tidak terlalu mencolok seperti versi-versi baru. Buku ini merupakan salah satu buku yang menterjemahkan kisah ini langsung dari bahasa Jerman. Isi cerita dalam buku ini juga sama persis dengan versi Jerman yang berjudul </span><em>Kinder - und Hausmärchen (Berlin 1857), tale number 53</em>, yangmenjadi awal penyampaian dongeng ini dalam versi bahasa Inggris dan telah diterjemahkan oleh D. L. Ashliman.</p>
<p>Cuplikan kisah sang putri diawal review ini, adalah bagian awal dari dongeng ini. Cerita pada bagian ini masih sama, baik dari versi Jerman maupun versi Disney.</p>
<p>Setelah membaca buku yang indah ini, beberapa perbedaan pada alur cerita, membuat saya ingin berbagi pada anda, bahwa ada hal-hal yang berbeda antara cerita “Putri Salju” yang merupakan dongeng tradisional Jerman, dengan dongeng yang diceritakan menurut versi Walt Disney. Perbedaan tersebut ada beberapa, pada kesempatan ini saya akan menuliskan tiga perbedaan yang menurut saya paling menarik:</p>
<ul>
<li>Pertama, Snow White yang dibuang ke hutan, dibuku ini digambarkan berusia tujuh tahun, sedangkan di versi Disney, cenderung gadis muda tetapi bukan anak kecil.</li>
<li>Kedua, Snow White tidak langsung mati makan apel dikunjungan sang ratu yang pertama, melainkan didahului dua kunjungan yang lain, dengan benda-benda lain pula seperti renda yang menjerat dan sisir beracun, yang pada dasarnya gagal membunuh sang putri.</li>
<li>Ketiga, sang putri hidup kembali, bukan karena di”sun” sang pangeran..!!</li>
</ul>
<p>Bagaimana sang putri bisa bangun dari kematiannya di versi Jerman cerita ini? Jawabannya masih saya simpan&#8230;</p>
<p>Ada yang tahu&#8230;.???</p>
<p>Referensi<br />
Jarrell, R. (translator), Snow White And The Seven Dwarfs, A Tale From The Brothers Grimm. 2<sup>nd</sup> ed. 1973. Pearl Pressman Liberty: U.S.A.</p>
<p> Illustrasi buku dari <a href="http://www.applebybooks.net/">http://www.applebybooks.net/</a></p>
<p style="text-align: right;">Shap </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indomemo.com/?feed=rss2&amp;p=1341</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Mencicipi&#8221; The Coffee Book of Rosemary Moon</title>
		<link>http://indomemo.com/?p=1323</link>
		<comments>http://indomemo.com/?p=1323#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 22:19:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Nutrisi, The Good, The Bad, The Neutral, or Just Simply Recipes]]></category>

		<category><![CDATA[Relax & Ringan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indomemo.com/?p=1323</guid>
		<description><![CDATA[Di sela membaca buku yang serius-serius, boleh dong sekali-kali saya menikmati buku yang rupa dan judulnya membuat saya membayangkan&#8230;.duduk di tengah Starbuck Cafe yang nyaman, gangguan-free, diiringi sayup-sayup music jenis easy listening, ditemani laptop dan buku kesayangan, sepotong kue lezat pilihan, dan secangkir kopi hangat&#8230;
Coffee house  yang pertama?.. The Kaveh Kanes, terletak di sebuah mesjid di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Di sela membaca buku yang serius-serius, boleh dong sekali-kali saya menikmati buku yang rupa dan judulnya membuat saya membayangkan&#8230;.duduk di tengah Starbuck Cafe yang nyaman, gangguan-free, diiringi sayup-sayup music jenis easy listening, ditemani laptop dan buku kesayangan, sepotong kue lezat pilihan, dan secangkir kopi hangat&#8230;</em></p>
<blockquote><p><em>Coffee house </em> yang pertama?.. <em>The Kaveh Kanes</em>, terletak di sebuah mesjid di kota Mekkah, Saudi Arabia&#8230;</p></blockquote>
<p style="margin-bottom: 0in;">Buku itu bernama<em> The Coffee Book</em>. Penulisnya bernama Rosemary Moon. Foto yang dipasang di sampul bukunya terlihat melezatkan sekali. Terpampang hidangan terdiri dari segelas bening tinggi kopi hitam dengan busa halus tebal di puncaknya, secangkir cappucino lengkap dengan krim dan taburan coklat bubuk diatasnya, segelas bening berkaki ukir mocha shake, sepotong <em>cheese cake</em> yang telah disiram sirup rasa kopi, semangkuk <em>mocha mousse, coffee ice cream</em>, dan <em>coffee pastry</em> (yuum&#8230;.).</p>
<div id="attachment_1324" class="wp-caption alignleft" style="width: 155px"><img class="size-full wp-image-1324" title="coffeebook" src="http://indomemo.com/wp-content/uploads/2010/01/coffeebook.jpg" alt="The Coffee Book" width="145" height="150" /><p class="wp-caption-text">The Coffee Book</p></div>
<p style="margin-bottom: 0in;">Buku ini mencakup segala sesuatu tentang kopi. Secara artistik disajikan bab-bab yang menerangkan apa itu kopi, sejarah tentang kopi, kedai kopi/<em>coffee house</em>, kebun-kebun kopi diseluruh dunia, proses lengkap pengolahan biji kopi, 40 resep makanan dan minuman yang terbuat dari kopi, dan lain-lain, sampai pada cara terbaik menikmatinya. Kualitas gambar di dalam buku ini mengagumkan. Setiap halaman dibagi menjadi 2 kolom yang ditata apik, dan tidak kelihatan berlebihan. Setiap halamannya memberikan pengetahuan tentang kopi dengan tingkat kejelian tinggi.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Sedikit mendetail lagi tentang buku ini?</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Bahwa kopi merupakan minuman populer yang sudah dinikmati manusia lebih dari seribu tahun. Kopi berasal dari timur tengah. Kopi banyak sekali ragam jenisnya, dan selalu ada<span id="more-1323"></span> jenis varietas baru yang ditemukan dan dieksplorasi. Di buku ini dipaparkan paling tidak 21 negara utama penghasil kopi unggulan dunia. Kopi juga selalu menjadi salah satu komoditi perdagangan yang paling penting di bidang perdagangan internasional. Menyandang peringkat nomor 2, persis dibawah minyak bumi. (6)</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Banyak sekali informasi yang saya dapat tentang kopi dari buku ini, yang membuat saya menyadari, betapa sedikitnya pengetahuan saya tentang serba-serbi minuman yang sehari-harinya sering saya minum ini.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Beberapa informasi favorit saya?</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Bahwa kata <em>Mocha</em> itu sebenarnya adalah nama sebuah kota di negara Yaman.(8)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Sebelum tersebar di seluruh pelosok dunia seperti sekarang ini, <em>coffee house</em> yang pertama adalah <em>The Kaveh Kanes</em>, terletak di sebuah mesjid di kota Mekkah, Saudi Arabia.(12)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Bagaimana mengetahui bahwa anda barusan menyeduh kopi dengan cara yang tepat? Dengan munculnya <em>Crema</em>, yang nampak seperti busa tipis sangat halus dipermukaan minuman. (34)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">The Coffee Legend, sebuah kisah yang cukup religius, dari tahun 1250 AD, tentang bagaimana minuman kopi “diturunkan” pada seorang murid yang ditinggal mati guru spiritualnya, tugas suci, konfrontasi, dan wabah penyakit yang melanda the people of Mocha. (8) </p>
</li>
</ul>
<div id="attachment_1329" class="wp-caption alignright" style="width: 176px"><img class="size-full wp-image-1329" title="kopi" src="http://indomemo.com/wp-content/uploads/2010/01/kopi.jpg" alt="kopi.." width="166" height="129" /><p class="wp-caption-text">kopi..</p></div>
<p style="margin-bottom: 0in;">Teman-teman, semakin saya menelusuri setiap halaman dari buku ini, terutama bagian hidangan dan resep-resepnya, semakin saya merasakan dorongan kuat untuk bangkit dan pergi ke dapur demi menyeduh secangkir “minuman suci” (baca: kopi) atau mungkin secangkir “minuman dewa” (baca: coklat panas). Mata saya juga terpaku ke meja makan membayangkan sepotong cheese cake ada di situ. Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba membuat secangkir kopi dengan harapan ada <em>crema</em> yang muncul menjelma saat diaduk, dan <em>voila!!</em>..saya juga girang sekali karena tiba-tiba saya ingat kalau kemarin saya baru dikasih teman sepotong <em>black forest cake, </em><span style="font-style: normal;">hmm..bolehlah&#8230;</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Referensi:</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Moon, R., <em>The Coffee Book</em>, 1998, USA 1<sup>st</sup> Publication, Courage Books: Philadelphia, PA. 80Hlm</p>
<p style="text-align: right; margin-bottom: 0in;"> Shap</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indomemo.com/?feed=rss2&amp;p=1323</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Demam High IQ versus High EQ..? Kembali pada buku yang mengawali semuanya. (Dari buku “Emotional Intelligence, Why It Can Matter More Than IQ.” by Daniel Goleman)</title>
		<link>http://indomemo.com/?p=1299</link>
		<comments>http://indomemo.com/?p=1299#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 23:56:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendidikan, Psikologi, Self-help]]></category>

		<category><![CDATA[Pustaka dan plus, sebagai pendobrak ide]]></category>

		<category><![CDATA[Zoom (Galeri Fotografi)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indomemo.com/?p=1299</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa saya menulis review buku ini?  
Pertama, karena buku ini adalah “mbahnya” dari semua buku tentang teori EQ yang sekarang ini telah luas beredar. Kemudian buat saya, topik ini sangat menarik untuk dipelajari. Teori ini menghembuskan udara optimisme/positif dalam usaha memberikan bekal bagi anak-anak kita. Seperti membuktikan bahwa setiap anak dengan latar belakang pendidikan orangtua apapun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengapa saya menulis review buku ini?<em> </em> </p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Pertama, karena buku ini adalah “mbahnya” dari semua buku tentang teori EQ yang sekarang ini telah luas beredar. Kemudian buat saya, topik ini sangat menarik untuk dipelajari. Teori ini menghembuskan udara optimisme/positif dalam usaha memberikan bekal bagi anak-anak kita. Seperti membuktikan bahwa setiap anak dengan latar belakang pendidikan orangtua apapun memiliki harapan untuk sukses. Saya berencana untuk secara bertahap membaca dan memberikan review dari buku-buku yang berhubungan dengan teori ini, oleh karena itu adalah penting bagi saya untuk meletakkan pondasinya bagi artikel-artikel terkait yang akan datang.</p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom: 0in;">Daniel Goleman Ph.D., adalah seorang psikolog, penulis buku, dan jurnalis dibidang sains. Goleman dilahirkan di Stockton, California pada tahun 1946. Saat ini beliau menetap di negara bagian Massachusetts. Goleman mengajar dan mendapatkan gelar Ph.D. dari Harvard University. Sang profesor juga merupakan penulis tetap dari artikel-artikel sains tentang otak dan perilaku di harian <em>The New York Times</em>. Selain itu, beliau juga pernah menjabat sebagai Senior Editor pada majalah <em>Psychology Today</em>.</p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom: 0in;">Seperti telah kita ketahui, dunia psikologi sekarang ini seperti menemukan “mainan baru.” Mainan baru tersebut dikenal dengan nama teori Emotional Intelligence/Kecerdasan Emosi.  Istilah ini diperkenalkan oleh Daniel Goleman salah satunya dengan meluncurkan buku ini pada tahun 1995.   Sebelum istilah Emotional Intelligence (atau Emotional Quotient/ EQ) muncul, dunia pengukuran kecerdasan manusia dimonopoli oleh istilah Intelligence Quotient /IQ, yang mengukur kecerdasan manusia berdasarkan rangkaian tes dari aspek <em>verbal, working memory, visual-spatial, </em><span style="font-style: normal;">dll.</span></p>
<p style="text-align: left;">Sampai saat ini, saya belum punya cukup informasi cukup tentang seberapa jauh pengetahuan dan pemahaman masyarakat kita tentang EQ ini. Namun saya yakin bahwa pemahaman yang baik tentang EQ akan sangat membantu dunia pendidikan dan masyarakat pada umumnya dimasa depan.</p>
<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align: center;">
<dl id="attachment_1302" class="wp-caption aligncenter" style="width: 220px;">
<dt class="wp-caption-dt"><img class="size-medium wp-image-1302 " title="bermain bersama" src="http://indomemo.com/wp-content/uploads/2010/01/eq1-300x225.jpg" alt="bermain bersama" width="210" height="158" /></dt>
<dd class="wp-caption-dd">bermain bersama</dd>
</dl>
</div>
<blockquote>
<p style="text-align: left;"> Menurut Goleman, EQ mencakup 5 area sebagai berikut&#8230;</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Ciri-ciri pribadi dengan IQ dan EQ tinggi berbeda-beda pada pria dan wanita, ciri-ciri&#8230;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0in;">Buku ini telah ditulis berdasarkan terobosan baru dalam penelitian-penelitian tentang otak dan perilaku manusia. Di dalam buku ini Goleman menekankan bahwa Intelligence Quotient/IQ bukan akhir dari takdir yang akan menentukan masa depan seseorang. Hal ini karena di dunia nyata terlihat bahwa orang-orang yang ber-IQ tinggi tidak semuanya menunjukkan prestasi tinggi. Demikian pula sebaliknya, ada orang-orang yang ber-IQ biasa-biasa saja, mencapai sukses yang sangat signifikan. Jadi jelaslah bahwa ada faktor-faktor lain yang ikut “bermain” dalam menentukan tingkat keberhasilan seseorang.</p>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0in;">Adalah fakta, bahwa saat badai emosi menguasai seseorang, <span id="more-1299"></span>kecerdasan IQ bisa menjadi tidak berarti. Seseorang yang memiliki EQ tinggi akan mampu memiliki pikiran yang jernih didalam situasi buruk sekalipun. Namun ketenangan dalam situasi krisis sering tidak cukup, sehingga diperlukan juga masukan data/fakta ilmiah untuk menentukan langkah terbaik yang akan diambil.</p>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0in;">Buku ini menunjukkan secara persis bahwa siapa saja dapat memupuk/mengembangkan dan memperkuat kecerdasan emosi masing-masing. Goleman juga menerangkan dengan detail proses-proses yang terjadi didalam tubuh kita termasuk organ-organ yang berkenaan dengan kondisi emosi tertentu.</p>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0in;">Menurut Goleman, EQ dibagi dalam 5 area:</p>
<ol style="text-align: left;">
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Pemahaman atas diri sendiri (secara emosi). Kecakapan mengenali perasaan sendiri, yang merupakan kunci dari EQ.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Pengaturan emosi. Kemampuan untuk mengelola emosi yang sedang berlangsung, termasuk mengatasi tekanan dan kecepatan untuk bangkit dari kesedihan/ kekecewaan.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Memotivasi diri sendiri. Kemampuan untuk memotivasi diri sendiri untuk tetap tampil prima dan produktif di dalam segala macam situasi.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Mengenali emosi orang lain. Kita sering menyebutnya dengan istilah empati, yaitu kemampuan untuk memahami situasi emosi yang sedang berlangsung dalam diri orang lain.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Pemeliharaan hubungan. Adalah kemampuan seseorang untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain/orang banyak dengan baik. Seseorang yang memiliki kemampuan ini, akan tampil baik pada setiap situasi yang melibatkan interaksi cukup baik dengan orang banyak dan menjadi populer/bintang pergaulan. (43-44)</p>
</li>
</ol>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0in;">Derajat kemampuan masing-masing pribadi didalam tiap area tersebut bisa berbeda-beda. Namun sistem syaraf manusia itu fleksibel sekali, hal ini adalah salah satu alasan yang menyebabkan berbagai kemampuan ini dapat selalu dipelajari dan ditingkatkan.(43-44)</p>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0in;">Ciri-ciri seseorang ber-IQ tinggi versus seseorang ber-EQ tinggi:</p>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0in;">IQ tinggi pria: </p>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0in;">Ambisius, produktif, mudah ditebak, persisten, tidak mengkhawatirkan keadaan diri sendiri, teliti, kritis, bangga, kurang ekspresif, dingin, dll</p>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0in;">IQ tinggi wanita:</p>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0in;">Mampu menyampaikan pemikirannya dengan jelas dan yakin, menghargai segala sesuatu yang berbau intelektual, punya ketertarikan yang luas pada ilmu pengetahuan dan aspek keindahan. Juga cenderung introspektif, gampang gelisah, menyesali/menyalahkan diri sendiri, sulit untuk mengutarakan perasaannya secara terbuka.</p>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0in;">EQ tinggi pria:</p>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0in;">Luwes dalam pergaulan, ceria, berinisiatif, tidak mudah takut/menyesal. Peduli pada kesulitan masyarakat, mampu mengambil tanggung jawab, etis, simpatik, dan menjaga hubungan.</p>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0in;">EQ tinggi wanita:</p>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0in;">Terbuka, mampu mengutarakan perasaanya secara terbuka, merasa positif, hidup terasa berarti. Juga berinisiatif, tahan stress, trampil menangani orang-orang baru, spontan, terbuka dalam masalah seksual.</p>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0in;">(45)</p>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0in;">Selain hal-hal tersebut di atas, buku ini juga sangat kaya akan informasi tentang:</p>
<ul style="text-align: left;">
<li>
<div style="margin-bottom: 0in;">Bagaimana mengenali diri sendiri dalam berbagai situasi.</div>
</li>
<li>
<div style="margin-bottom: 0in;">Keberadaan beberapa tahun yang merupakan “umur penentu” di dalam masa pertumbuhan anak yang dapat menentukan masa depan EQ-nya.</div>
</li>
<li>
<div style="margin-bottom: 0in;">Mengasah kemampuan belajar.</div>
</li>
<li>
<div style="margin-bottom: 0in;">Mengatasi “cacat sosial.”</div>
</li>
<li>
<div style="margin-bottom: 0in;">Aplikasi EQ.</div>
</li>
<li>
<div style="margin-bottom: 0in;">Managemen hati dan kepemimpinan.</div>
</li>
<li>
<div style="margin-bottom: 0in;">Hubungan antara keadaan emosi dan kesehatan.</div>
</li>
<li>
<div style="margin-bottom: 0in;">Mempelajari dan mengasah ketrampilan emosi, dll.</div>
</li>
</ul>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0in;">Demikianlah tangkapan saya tentang buku “kitab kesaktian emosi” ini.  Banyak juga lika-liku masalah emosi ya&#8230;:-)</p>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0in;"> </p>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0in;">Referensi:</p>
<p style="text-align: left; margin-bottom: 0in;">Goleman, D. <em>Emotional Intelligence, Why It Can Matter More Than IQ</em>. 1995. Bantam Books: New York, New York. xiv + 352.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indomemo.com/?feed=rss2&amp;p=1299</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Waktu Si Pinter Gagal&#8221; dari buku &#8220;When Smart People Fail,&#8221; by Carole Hyatt &amp; Linda Gottlieb</title>
		<link>http://indomemo.com/?p=1012</link>
		<comments>http://indomemo.com/?p=1012#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 20:42:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendidikan, Psikologi, Self-help]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indomemo.com/?p=1012</guid>
		<description><![CDATA[Tema buku ini simply terlalu menarik bagi saya untuk tidak dibuat reviewnya, hehehe&#8230;.
Carole Hyatt sebelumnya adalah salah satu pemilik Hyatt/Esserman Research Assoc. dan memiliki banyak klien perusahaan dari jajaran Fortune 500, sebelum partner usahanya  tiba-tiba meninggal karena serangan jantung, dan menghancurkan kesuksesannya.  Linda Goettlieb dikenal sebagai seseorang yang sangat percaya diri dan agresif sebagai senior vice-president Highgate Pictures [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Tema buku ini simply terlalu menarik bagi saya untuk tidak dibuat reviewnya, hehehe&#8230;.</em></p>
<blockquote><p>Carole Hyatt sebelumnya adalah salah satu pemilik Hyatt/Esserman Research Assoc. dan memiliki banyak klien perusahaan dari jajaran Fortune 500, sebelum partner usahanya  tiba-tiba meninggal karena serangan jantung, dan menghancurkan kesuksesannya.  Linda Goettlieb dikenal sebagai seseorang yang sangat percaya diri dan agresif sebagai senior vice-president Highgate Pictures (perusahaan tv dan film pendidikan), prestasinya sangat mengagumkan boss perusahaan yang dia sendiri ikut &#8220;membidani&#8221; kelahiran dan kejayaannya.  Goettlieb tidak pernah mengalami kegagalan, sampai suatu hari, perusahaan yang menjadi ladang emas prestasi baginya, memecatnya. Setelah menulis buku ini, Carole Hyatt menjalani karir sebagai penulis buku, motivator, dan career dev. consultant yang bereputasi internasional dengan perusahaan bernama Carole Hyatt &amp; Assoc. Linda Gottlieb telah menerima 5 nominasi untuk Daytime Emmy Awards, memenangkan 3 Outstanding Drama Series.</p></blockquote>
<div id="attachment_1277" class="wp-caption alignright" style="width: 190px"><img class="size-medium wp-image-1277 " title="layangan" src="http://indomemo.com/wp-content/uploads/2010/01/img_0241-225x300.jpg" alt="bagaikan layangan nyangkut ??" width="180" height="240" /><p class="wp-caption-text">Bagaikan layangan nyangkut ??</p></div>
<p>Ih serem banget judulnya&#8230;<br />
Yup, kenapa? Karena judul buku ini mengandung suatu kata yang paling kita takuti, yaitu &#8220;Fail&#8221; alias &#8220;Gagal&#8221;.</p>
<p>Tapi tahukah anda sesuatu yang unik dari kata (yang kadang menyebutkannya saja) dapat mempengaruhi emosi kita ini?<br />
Yaitu, semua orang tidak menyukai kata ini,  tapi semua orang pasti pernah mengalaminya.  Kita bisa berusaha menghindari pemakaian kata ini dalam kehidupan sehari-hari,tapi kita tidak akan bisa menghindarinya saat karena suatu sebab yang kita ketahui atau tidak, kita harus mengalami kegagalan.</p>
<p>Jadi tidak perduli umur, jenis kelamin, warna kulit, kedudukan, dan keadaan saat ini, semua manusia pasti pernah mengalami kegagalan.  Jadi sia-sialah jika anda berusaha untuk mencari seseorang yang benar-benar tidak pernah gagal, bayi merah saja pernah gagal (saat tersedak mencoba minum pertama kali? ini contoh konyol bukan?).  Jadi kenapa ada orang yang disebut sukses, dan ada orang yang disebut gagal?  Terus kenapa ada orang yang kelihatannya sukses terus alias bergelimang kesuksesan, dan ada orang yang bergelimang kegagalan?</p>
<p>Sekilas kata lain yang digaris bawahi adalah &#8220;pinter/cerdas&#8221;. Saya yakin anda sudah pernah mendengar bahwa standar kecerdasan tunggal IQ (Intelligence Quotience) yang digaung-gaungkan orang dulu, kini sudah menjelang &#8220;basi&#8221;. Prinsip kecerdasan manusia yang sekarang populer adalah kecerdasan multi aspek yang dikenal dengan istilah MI (Multiple Intelligent). Prinsip MI lebih membuka banyak potensi untuk mengeksplorasi dan mengoptimalkan berbagai kemampuan yang dimiliki manusia. Selain itu muncul juga jenis kecerdasan lain yaitu EQ (Emotion Quotience) yang sama penting pengaruhnya dalam kehidupan seseorang.</p>
<blockquote><p>Saya pikir bagus sekali bagi kita untuk belajar untuk bangkit dari setiap kegagalan, karena pada dasarnya selama ini kita semua pernah mengalami, akan tetapi kita hanya diajarkan hanya untuk mengalami sukses.  Bagaimana dengan ilmu untuk bangkit dari kegagalan untuk menjadi sukses?</p>
<p>&#8230;&#8230;.saat hasil usaha kita tidak secara ajaib langsung jadi (bagaikan minta pada lampu aladdin), maka secara prematur kita langsung berpikir; “Ini suatu kesalahan..mari langsung mundur”.  Padahal sekali lagi, yang sukses diantara kita semua itu bukan yang tidak pernah gagal, tapi mereka adalah orang-orang yang melihat kegagalan “sebagai salah satu tahapan saja”, dan memilih untuk tidak berhenti di posisi itu..</p></blockquote>
<p>Balik  ke kata pertama, kalau kata &#8220;Gagal&#8221; itu begitu menakutkan, kenapa (juga) kita bicarakan?</p>
<p>Nah dari sini <span id="more-1012"></span>saya akan mulai membahas buku menarik ini, karena buku ini mengetengahkan pemikiran cemerlang bahwa kunci sukses seseorang itu sebenarnya bukan dari tidak pernah mengalami kegagalan, tapi dari bagaimana sikapnya saat mengalami kegagalan.</p>
<p>Menurut Hyatt dan Gottlieb, &#8220;Failure&#8221; atau &#8220;Kegagalan&#8221; adalah:</p>
<p>&#8220;A judgement about an event,&#8221;<br />
Hasil dari suatu kejadian, yang menggambarkan suatu tahapan, bukan kondisi yang permanen, cacat watak, apalagi penyakit menular.<br />
Karena merupakan tahapan dari suatu proses, kita bisa memilih.  Mau menghentikan “game” di tahap ini dengan hasil yang sekarang, atau mau bangkit dan melanjutkan babak selanjutnya dalam permainan ikhtiar ini. Jadi SIKAP seseorang dalam menanganinyalah yang akan menentukan apa yang akan terjadi pada orang tersebut, akan menjadi apa dan siapanya, jadi BUKAN KEGAGALAN itu sendiri. (page 38-39)</p>
<p>Saya pikir bagus sekali bagi kita untuk belajar untuk bangkit dari setiap kegagalan, karena pada dasarnya selama ini kita semua diajarkan hanya untuk mengalami sukses.  Peristiwa “kegagalan” baik kecil maupun agak besar ditengah-tengah usaha menuju sesuksesan itu menjadi hal yang asing bagi kebanyakan kita semua (loh&#8230; kata Pak atau Bu Abcde kalau kita mau usaha, pasti bakal sukses?).  Jadi saat hasil usaha kita tidak secara ajaib langsung jadi (bagaikan minta pada lampu aladdin), maka secara prematur kita langsung berpikir; “Ini suatu kesalahan..mari langsung mundur”.  Padahal sekali lagi, yang sukses diantara kita semua itu bukan yang tidak pernah gagal, tapi mereka adalah orang-orang yang melihat kegagalan “sebagai salah satu tahapan saja”, dan memilih untuk tidak berhenti di posisi itu.</p>
<p>Memang tahapan ini bukan tahapan yang paling nyaman, sebagaimana yang dijabarkan buku ini dibagian tentang anatomi kegagalan, tepatnya tahap-tahap proses kedukaan sesaat seseorang baru mengalaminya.  Di halaman ini ditekankan bahwa perasaan kaget, takut, dan lain-lain sampai perasaan meranapun pada saat itu normal.  Kelihatannya memang negatif, tapi proses berduka ini dapat mempersiapkan kita untuk menghadapi tahap KEBANGKITAN diri kita. (Hal 40)</p>
<p>Bangkit &amp; Perbaharui Diri Anda</p>
<p>Untuk bangkit kembali yang diperlukan adalah introspeksi, melihat secara jujur posisi kita, temukan dan jangan ulangi kesalahannya.  Intrepretasikan detail kejadiannya, cari poin positifnya, dan tekankan di situ.  Beri label yang baik pada diri anda.  Setiap orang secara terbuka atau tidak telah memberi “label” pada dirinya sendiri, bila label itu baik dan memberi harapan, maka hasilnya akan demikian.  Bila belum apa-apa anda sudah mengultimatum diri dengan “label” yang buruk, maka hasilnya ya …(you probably know). (Hal 149-151)</p>
<p>Bergeser dari pemikiran sebagai korban, ke pemikiran seorang “Pelaku Aktif”.</p>
<p>(Nah termasuk saya sendiri, sepertinya suka kelamaan pura-pura jadi korban, hayo ngaku!).  Karena mungkin lebih sedikit resikonya, atau alasan lain yang tidak jelas.</p>
<p>Beberapa cara membuka peluang baru menurut Hyatt &amp; Gottlieb:</p>
<p>-Daur ulang kemampuan unggulan yang anda dapat dari bekerja [atau dari sekolah, pengalaman berorganisasi, dan lain sebagainya].<br />
-Merubah hobi menjadi profesi.<br />
-Memulai bisnis sendiri, tidak semua pebisnis unggul memulai karirnya dari sekolah bisnis atau berasal dari keluarga bisnis.  Banyak diantaranya yang terinspirasi dari keadaan.<br />
-Belajar sesuatu yang baru.<br />
-Belajar dari seseorang.<br />
-Cari ide dari berbagai media massa. [termasuk, baca koran!]<br />
-Merealisasikan &#8220;Satu-satunya&#8221; ide yang &#8220;Diturunkan&#8221; Tuhan dikepala anda, baik hal baru atau yang selama ini anda hindari. Mungkin itulah &#8220;Panggilan hidup&#8221; yang akan membahagiakan anda. (158-175)</p>
<p>Selain beberapa cuplikan diatas, buku ini juga berisi antara lain:</p>
<ul>
<li>Beberapa karakteristik kegagalan, seperti anatomi kegagalan, &#8220;ripple effect&#8221; (semacam efek domino) dari kegagalan, perbedaan dari sisi pria dan wanita.</li>
<li>Proses-proses memperbaharui diri.</li>
<li>9 penyebab utama kegagalan.</li>
<li>Bagaimana supaya tidak &#8220;stuck&#8221; alias mentok dalam berusaha.</li>
<li>Proses menuju kesuksesan.</li>
</ul>
<p>Begitulah sebagian yang saya tangkap dari isi buku ini.  Bagi saya buku ini telah membantu mengingatkan bahwa setiap usaha dalam hidup ini akan selalu ada jatuh bangunnya.  Hidup ini tetap mengandung pilihan dalam posisi terendah sekalipun.  Saya juga belajar untuk melihat kejadian dari berbagai sisi, baik positif maupun negatifnya.  Setiap tahapan dalam hidup adalah bahan pembangun karakter kita.  “Banyak jalan menuju Roma” mungkin merupakan kalimat yang tepat untuk mewakili cara buku ini membimbing kita dalam mengatasi kegagalan, asal kita mau untuk terus berjalan dan bersedia menerima dan mengoptimalkan apa yang tersedia di “tangan” kita. Bagi saya petunjuk sederhana bahwa kita harus “terus berjalan” adalah bangunnya badan kita dari tidur setiap pagi, saat itu Tuhan menunjukkan bahwa kita masih punya kesempatan.</p>
<p>Referensi:</p>
<p><img class="size-full wp-image-1294 alignleft" title="when-smart" src="http://indomemo.com/wp-content/uploads/2010/01/when-smart.jpg" alt="foto buku diambil dari amazon.com" width="68" height="68" /></p>
<p>Hyatt, Carole &amp; Linda Gottlieb. When Smart People Fail.  New York: Penguin Books, 1993.</p>
<p>(foto buku: amazon.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indomemo.com/?feed=rss2&amp;p=1012</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
