“Waktu Si Pinter Gagal” dari buku “When Smart People Fail,” by Carole Hyatt & Linda Gottlieb
Tema buku ini simply terlalu menarik bagi saya untuk tidak dibuat reviewnya, hehehe….
Carole Hyatt sebelumnya adalah salah satu pemilik Hyatt/Esserman Research Assoc. dan memiliki banyak klien perusahaan dari jajaran Fortune 500, sebelum partner usahanya tiba-tiba meninggal karena serangan jantung, dan menghancurkan kesuksesannya. Linda Goettlieb dikenal sebagai seseorang yang sangat percaya diri dan agresif sebagai senior vice-president Highgate Pictures (perusahaan tv dan film pendidikan), prestasinya sangat mengagumkan boss perusahaan yang dia sendiri ikut “membidani” kelahiran dan kejayaannya. Goettlieb tidak pernah mengalami kegagalan, sampai suatu hari, perusahaan yang menjadi ladang emas prestasi baginya, memecatnya. Setelah menulis buku ini, Carole Hyatt menjalani karir sebagai penulis buku, motivator, dan career dev. consultant yang bereputasi internasional dengan perusahaan bernama Carole Hyatt & Assoc. Linda Gottlieb telah menerima 5 nominasi untuk Daytime Emmy Awards, memenangkan 3 Outstanding Drama Series.

Bagaikan layangan nyangkut ??
Ih serem banget judulnya…
Yup, kenapa? Karena judul buku ini mengandung suatu kata yang paling kita takuti, yaitu “Fail” alias “Gagal”.
Tapi tahukah anda sesuatu yang unik dari kata (yang kadang menyebutkannya saja) dapat mempengaruhi emosi kita ini?
Yaitu, semua orang tidak menyukai kata ini, tapi semua orang pasti pernah mengalaminya. Kita bisa berusaha menghindari pemakaian kata ini dalam kehidupan sehari-hari,tapi kita tidak akan bisa menghindarinya saat karena suatu sebab yang kita ketahui atau tidak, kita harus mengalami kegagalan.
Jadi tidak perduli umur, jenis kelamin, warna kulit, kedudukan, dan keadaan saat ini, semua manusia pasti pernah mengalami kegagalan. Jadi sia-sialah jika anda berusaha untuk mencari seseorang yang benar-benar tidak pernah gagal, bayi merah saja pernah gagal (saat tersedak mencoba minum pertama kali? ini contoh konyol bukan?). Jadi kenapa ada orang yang disebut sukses, dan ada orang yang disebut gagal? Terus kenapa ada orang yang kelihatannya sukses terus alias bergelimang kesuksesan, dan ada orang yang bergelimang kegagalan?
Sekilas kata lain yang digaris bawahi adalah “pinter/cerdas”. Saya yakin anda sudah pernah mendengar bahwa standar kecerdasan tunggal IQ (Intelligence Quotience) yang digaung-gaungkan orang dulu, kini sudah menjelang “basi”. Prinsip kecerdasan manusia yang sekarang populer adalah kecerdasan multi aspek yang dikenal dengan istilah MI (Multiple Intelligent). Prinsip MI lebih membuka banyak potensi untuk mengeksplorasi dan mengoptimalkan berbagai kemampuan yang dimiliki manusia. Selain itu muncul juga jenis kecerdasan lain yaitu EQ (Emotion Quotience) yang sama penting pengaruhnya dalam kehidupan seseorang.
Saya pikir bagus sekali bagi kita untuk belajar untuk bangkit dari setiap kegagalan, karena pada dasarnya selama ini kita semua pernah mengalami, akan tetapi kita hanya diajarkan hanya untuk mengalami sukses. Bagaimana dengan ilmu untuk bangkit dari kegagalan untuk menjadi sukses?
…….saat hasil usaha kita tidak secara ajaib langsung jadi (bagaikan minta pada lampu aladdin), maka secara prematur kita langsung berpikir; “Ini suatu kesalahan..mari langsung mundur”. Padahal sekali lagi, yang sukses diantara kita semua itu bukan yang tidak pernah gagal, tapi mereka adalah orang-orang yang melihat kegagalan “sebagai salah satu tahapan saja”, dan memilih untuk tidak berhenti di posisi itu..
Balik ke kata pertama, kalau kata “Gagal” itu begitu menakutkan, kenapa (juga) kita bicarakan?
Nah dari sini saya akan mulai membahas buku menarik ini, karena buku ini mengetengahkan pemikiran cemerlang bahwa kunci sukses seseorang itu sebenarnya bukan dari tidak pernah mengalami kegagalan, tapi dari bagaimana sikapnya saat mengalami kegagalan.
Menurut Hyatt dan Gottlieb, “Failure” atau “Kegagalan” adalah:
“A judgement about an event,”
Hasil dari suatu kejadian, yang menggambarkan suatu tahapan, bukan kondisi yang permanen, cacat watak, apalagi penyakit menular.
Karena merupakan tahapan dari suatu proses, kita bisa memilih. Mau menghentikan “game” di tahap ini dengan hasil yang sekarang, atau mau bangkit dan melanjutkan babak selanjutnya dalam permainan ikhtiar ini. Jadi SIKAP seseorang dalam menanganinyalah yang akan menentukan apa yang akan terjadi pada orang tersebut, akan menjadi apa dan siapanya, jadi BUKAN KEGAGALAN itu sendiri. (page 38-39)
Saya pikir bagus sekali bagi kita untuk belajar untuk bangkit dari setiap kegagalan, karena pada dasarnya selama ini kita semua diajarkan hanya untuk mengalami sukses. Peristiwa “kegagalan” baik kecil maupun agak besar ditengah-tengah usaha menuju sesuksesan itu menjadi hal yang asing bagi kebanyakan kita semua (loh… kata Pak atau Bu Abcde kalau kita mau usaha, pasti bakal sukses?). Jadi saat hasil usaha kita tidak secara ajaib langsung jadi (bagaikan minta pada lampu aladdin), maka secara prematur kita langsung berpikir; “Ini suatu kesalahan..mari langsung mundur”. Padahal sekali lagi, yang sukses diantara kita semua itu bukan yang tidak pernah gagal, tapi mereka adalah orang-orang yang melihat kegagalan “sebagai salah satu tahapan saja”, dan memilih untuk tidak berhenti di posisi itu.
Memang tahapan ini bukan tahapan yang paling nyaman, sebagaimana yang dijabarkan buku ini dibagian tentang anatomi kegagalan, tepatnya tahap-tahap proses kedukaan sesaat seseorang baru mengalaminya. Di halaman ini ditekankan bahwa perasaan kaget, takut, dan lain-lain sampai perasaan meranapun pada saat itu normal. Kelihatannya memang negatif, tapi proses berduka ini dapat mempersiapkan kita untuk menghadapi tahap KEBANGKITAN diri kita. (Hal 40)
Bangkit & Perbaharui Diri Anda
Untuk bangkit kembali yang diperlukan adalah introspeksi, melihat secara jujur posisi kita, temukan dan jangan ulangi kesalahannya. Intrepretasikan detail kejadiannya, cari poin positifnya, dan tekankan di situ. Beri label yang baik pada diri anda. Setiap orang secara terbuka atau tidak telah memberi “label” pada dirinya sendiri, bila label itu baik dan memberi harapan, maka hasilnya akan demikian. Bila belum apa-apa anda sudah mengultimatum diri dengan “label” yang buruk, maka hasilnya ya …(you probably know). (Hal 149-151)
Bergeser dari pemikiran sebagai korban, ke pemikiran seorang “Pelaku Aktif”.
(Nah termasuk saya sendiri, sepertinya suka kelamaan pura-pura jadi korban, hayo ngaku!). Karena mungkin lebih sedikit resikonya, atau alasan lain yang tidak jelas.
Beberapa cara membuka peluang baru menurut Hyatt & Gottlieb:
-Daur ulang kemampuan unggulan yang anda dapat dari bekerja [atau dari sekolah, pengalaman berorganisasi, dan lain sebagainya].
-Merubah hobi menjadi profesi.
-Memulai bisnis sendiri, tidak semua pebisnis unggul memulai karirnya dari sekolah bisnis atau berasal dari keluarga bisnis. Banyak diantaranya yang terinspirasi dari keadaan.
-Belajar sesuatu yang baru.
-Belajar dari seseorang.
-Cari ide dari berbagai media massa. [termasuk, baca koran!]
-Merealisasikan “Satu-satunya” ide yang “Diturunkan” Tuhan dikepala anda, baik hal baru atau yang selama ini anda hindari. Mungkin itulah “Panggilan hidup” yang akan membahagiakan anda. (158-175)
Selain beberapa cuplikan diatas, buku ini juga berisi antara lain:
- Beberapa karakteristik kegagalan, seperti anatomi kegagalan, “ripple effect” (semacam efek domino) dari kegagalan, perbedaan dari sisi pria dan wanita.
- Proses-proses memperbaharui diri.
- 9 penyebab utama kegagalan.
- Bagaimana supaya tidak “stuck” alias mentok dalam berusaha.
- Proses menuju kesuksesan.
Begitulah sebagian yang saya tangkap dari isi buku ini. Bagi saya buku ini telah membantu mengingatkan bahwa setiap usaha dalam hidup ini akan selalu ada jatuh bangunnya. Hidup ini tetap mengandung pilihan dalam posisi terendah sekalipun. Saya juga belajar untuk melihat kejadian dari berbagai sisi, baik positif maupun negatifnya. Setiap tahapan dalam hidup adalah bahan pembangun karakter kita. “Banyak jalan menuju Roma” mungkin merupakan kalimat yang tepat untuk mewakili cara buku ini membimbing kita dalam mengatasi kegagalan, asal kita mau untuk terus berjalan dan bersedia menerima dan mengoptimalkan apa yang tersedia di “tangan” kita. Bagi saya petunjuk sederhana bahwa kita harus “terus berjalan” adalah bangunnya badan kita dari tidur setiap pagi, saat itu Tuhan menunjukkan bahwa kita masih punya kesempatan.
Referensi:

Hyatt, Carole & Linda Gottlieb. When Smart People Fail. New York: Penguin Books, 1993.
(foto buku: amazon.com)
Input & Opini