Bilakah saya belajar berdamai dengan siapa saja..??? Dari buku “Make Peace With Anyone” by D.J. Lieberman
….pada dasarnya dengan melayani ego setiap individu, kita dapat mendapatkan “kunci” menuju hati seseorang. Namun, tidak layaklah bagi kita secara moral untuk menggunakan “titik-titik kemanusiaan” tersebut untuk mendapatkan apa yang kita inginkan secara sepihak. Hal lain juga yaitu standar moral kejujuran kita sendiri, karena buku ini juga mengisyaratkan bahwa kalau kita mau, kita dapat/sah-sah saja untuk “membelokkan” kebenaran….

personal, do not enter?
Pribadi yang merasa nyaman dengan lingkungan sekitarnya, pada dasarnya adalah pribadi-pribadi yang merasa nyaman dan menerima diri sendiri apa adanya. Pribadi yang merasa nyaman dengan dirinya sendiri pada dasarnya adalah pribadi-pribadi yang memiliki keseimbangan psikologis antara rasa penerimaan diri sendiri dan kesadaran yang mendalam akan realita kehidupan. Perpaduan yang harmonis dari dua hal ini menghasilkan perasaan kontrol diri yang baik, sementara tetap mampu menikmati dan mengoptimalkan kehidupan yang berlangsung, seperti apa adanya.
Sewaktu-waktu, saya menilai diri saya sendiri sebagai seseorang yang kurang percaya diri, namun pada waktu yang sama, saya juga berpikir bahwa masalah rasa kurang percaya diri saya ini bukan merupakan suatu kunci mati. Saya yakin setiap orang dalam derajat tertentu, pada suatu waktu dalam hidupnya, pasti pernah merasakannya. Jadi jelas bahwa saya tidak sendiri. Karena kebiasaan saya “mojok” dengan buku, maka untuk mengatasi berbagai hambatan yang berhubungan dengan interaksi dengan pribadi yang lain, saya juga “pake buku”, yaitu buku-buku tentang seni hubungan antar manusia. Walaupun kedengarannya teoritis, tapi buat saya cara ini membantu.
Dalam pencarian buku yang berisi tuntunan seni interaksi antar manusia inilah, suatu hari di perpustakaan, mata saya tertumbuk pada sebuah buku yang judulnya kelihatan seperti naif, seperti sebuah teori yang hanya ada di dalam khayalan. Buku itu berjudul “Make Peace With Anyone” (Berdamai dengan Siapa Saja) by David J. Lieberman, Ph.D.
Sebagian orang akan langsung menjadi skeptis hanya dengan membaca judulnya. Hal tersebut adalah karena pada dasarnya, hal-hal seperti ini bila dibicarakan ditengah orang banyak, akan terdengar begitu lemah, cengeng, berlebihan, bahkan memprihatinkan. “Kenapa sih gitu aja dipikirin…?” Atau, “ What the heck, kita kan gak bakal bisa bikin semua orang hepi anyway…”
Membaca sepertiga isi buku ini, saya menemukan bahwa buku ini sebenarnya mengandung banyak anjuran-anjuran yang begitu sederhana dan bisa dijalankan, tapi begitu efektif. Saya mengatakan efektif karena saya melihat pada teman-teman saya yang “pandai membawa diri”, sebenarnya prinsip-prinsip tersebut telah mereka gunakan. Teman-teman yang sukses membawa diri tersebut, menyadari atau tidak, telah menjalankannya. Mungkin mereka telah terlebih dahulu mempelajarinya, atau belajar dari pengalaman hidup, dari sifat-sifat bawaan dan/atau cara pengasuhan orangtua yang tepat sehingga mereka terlatih untuk berinteraksi dengan baik.
…kunci “pembuka hati” itu pada prinsipnya didasarkan pada bagaimana kita dapat mengelola sifat-sifat yang sangat mendasar pada manusia, dan bagaimana kita dapat “melayani” kebutuhan psikologis dari orang yang ingin kita “dekati”…
Make Peace With Anyone” memberikan “kunci-kunci” untuk merebut hati orang lain. Kunci-kunci “pembuka hati” itu pada prinsipnya didasarkan pada bagaimana kita dapat mengelola sifat-sifat yang sangat mendasar pada manusia, dan bagaimana kita dapat “melayani” kebutuhan psikologis dari orang yang ingin kita “dekati”. Aspek-aspek mendasar tersebut adalah:
- Self-Esteem. Rasa penerimaan yang baik terhadap diri sendiri. Dalam hal ini bagaimana kita di dalam pergaulan, dapat memberikan perasaan self-esteem tersebut pada orang lain.
- Self-Respect. Perasaan dihargai/dihormati, dan bagaimana kita dapat membuat orang lain merasa dihormati.
- Ego. Bagaimana kita dapat memenuhi kebutuhan ego orang lain.
Kontrol diri. Bagaimana kita dapat membantu teman kita tersebut untuk tetap memiliki rasa kontrol diri.
(3-10)
Saat saya membaca perihal pelaksanaan dari prinsip-prinsip yang tersaji, satu-persatu diantaranya mengingatkan saya akan teman-teman saya sendiri, dan berbagai perilaku positif yang mereka tunjukkan sehari-hari. Bagaimana kita memperlakukan orang lain dalam kaitannya dengan pengelolaan aspek-aspek tersebut adalah esensi dari pergaulan itu sendiri. Bab-bab selanjutnya dari buku ini menyajikan contoh penggunaannya, kasus-perkasus.
Contohnya adalah seperti pada Bab 5, yang berjudul “How to Ignore Someone’s Advice Without Causing Hurt Feeling” (Bagaimana menolak nasihat/anjuran orang lain tanpa menyakiti). Di bab ini dijabarkan pemecahan situasi tersebut melalui 4 fase (contoh cerita sudah saya adaptasikan), yaitu:
- FASE 1. Menunjukkan Apresiasi/penghargaan kepada orang yang memberikan nasehat. Penghargaan ini diberikan segera setelah anda menerima input tersebut.
Contoh:
“Pak Sam, klinik kita ini sebaiknya kita cat warna oranye Pak…saya rasa semuanya akan kelihatan lebih ceria ya Pak…” Kata sekretaris anda.
“Kedengarannya merupakan ide baru ya Zen, saya akan pikirkan malam ini…” Jawab anda. - FASE 2. Memberikan dua alasan, satu tentang mengapa anda setuju, dan yang kedua mengapa anda tidak setuju. Alasan-alasan/tanggapan ini sebaiknya diberikan setelah tenggang waktu tertentu (misalnya satu atau dua hari).
Contoh:
“Zen, setelah saya pikirkan, warna oranye sepertinya akan menarik perhatian lebih dari biasanya, sementara orang-orang tua disini suka akan ketenangan. Tapi saya pikir memang ada baiknya memang klinik kita ini dicat ulang, seperti saran anda, supaya kelihatan lebih bersih, tentu saja setelah dananya tersedia” - FASE 3. Sampaikan terima kasih atas pemikirannya. Katakan padanya bahwa anda telah mempertimbangkan untuk mengadakan suatu perubahan (yang lain), dan pemikiran dialah yang menjadi pemicunya. Dia akan berpikir bahwa semua itu merupakan bagian dari suatu proses mempertimbangkan keputusan sehingga tidak akan tersinggung.
Contoh:
“Terima kasih loh atas pemikirannya waktu itu Zenia, yang mengingatkan saya untuk memperhatikan penampilan dan kenyamanan orang-orang yang kita rawat di sini…” - FASE 4. Tanyakan pendapatnya tentang hal yang lain. Untuk melengkapi sikap anda, tanyakanlah pendapat dia tentang hal yang lain, baik berhubungan maupun tidak, ini akan memberikan kesan respek padanya.
Contoh:
“Omong-omong, gimana menurut pendapatmu kalau kita mengadakan semacam Hari Kerja Bakti Klinik Sejahtera dengan menyajikan musik dan snack bagi yang hadir…?”
Pada contoh-contoh kasus di bab-bab selanjutnya, saya menilai bahwa teknik-teknik yang digunakan dapat berpotensi menjadi sangat manipulatif…Nah, di titik ini, memang standar moral kitalah yang akan menentukan seberapa jauh kita akan menggunakannya. Hati anda akan sangat berperan dalam pelaksanaannya di dunia nyata.
Semua proses tersebut dapat membantu anda untuk “bernegosiasi” dengan orang lain. Buku ini bahkan mengingatkan bahwa, teknik-teknik ini dapat menjadi sangat efektif termasuk dalam menghadapi seseorang yang cukup perasa/sensitif. Kunci “pembuka hati” itu pada prinsipnya didasarkan pada bagaimana kita dapat mengelola sifat-sifat yang sangat mendasar pada manusia, dan bagaimana kita dapat “melayani” kebutuhan psikologis dari orang yang ingin kita “dekati”. Dengan kata lain, jangan disalahgunakan untuk memperoleh keuntungan pribadi atau mengendalikan orang lain, dalam konotasi yang negatif. (27-29).
Menurut saya, prinsip-prinsip yang diberikan Lieberman dalam buku ini memang dapat menjadi suatu alat yang kita gunakan dalam pergaulan. Hanya, satu hal yang menurut saya sangat penting diperhatikan, yaitu motivasi dan ketulusan. Adalah sangat penting bagi kita untuk memperlakukan orang lain tidak hanya dengan cara yang “baik” tetapi juga dengan tujuan yang baik. Karena pada dasarnya dengan melayani ego setiap individu, kita dapat mendapatkan “kunci” menuju hati seseorang. Namun, tidak layaklah bagi kita secara moral untuk menggunakan “titik-titik kemanusiaan” tersebut untuk mendapatkan apa yang kita inginkan secara egois. Hal lain juga yaitu standar moral kejujuran kita sendiri, karena buku ini juga mengisyaratkan bahwa kalau kita mau, kita dapat/sah-sah saja untuk “membelokkan” kebenaran.
Pada contoh-contoh kasus di bab-bab selanjutnya, saya menilai bahwa teknik-teknik yang digunakan dapat berpotensi menjadi sangat manipulatif. Hal tersebut menurut saya (lagi) berbahaya bagi kesehatan moral kita, bila tidak tertangani dengan baik dan bijaksana. Nah, di titik ini, memang standar moral kitalah yang akan menentukan seberapa jauh kita akan menggunakannya. Hati anda akan sangat berperan dalam pelaksanaannya di dunia nyata. Saya pribadi dalam hal ini menyarankan anda untuk memperlakukan orang lain sebagai suatu pribadi, dengan penekanan moral di dalamnya, bukan semata-mata sebagai objek dalam pergaulan antar manusia.
Sebagai penutup, bila anda adalah seseorang yang senantiasa merasa perlu untuk belajar berinteraksi dan memahami orang lain, dalam usaha membawa diri di dalam pergaulan, maka buku ini saya sarankan, sebagai bahan inspirasi dan perbandingan. Sementara bagi anda yang sama sekali tidak memiliki masalah dalam berinteraksi, atau tidak terlalu merasa perlu memikirkannya, maka bersyukurlah (yaay..!), karena anda jadi tidak punya PR..!
Referensi:
Lieberman, Ph.D. Make Peace With Anyone. St. Martin’s Press: New York. 2002
shap
Input & Opini