Welcome to Indomemo.com

Awalnya sederhana sekali. Saya sangat suka membaca, dan menulis review tentang buku yang saya baca, sangat membantu saya untuk mengingat dan memahaminya. Saya tinggal di negri uncle sam, tempat dimana literatur relatif mudah didapat. Lewat website ini, saya ingin sekali berbagi kelimpahan itu. Juga bila anda memiliki usulan subjek literatur atau pertanyaan yang berkaitan dengan materi, silakan klik "leave a comment" atau email saya. Teman-teman net-reader, selamat bersantai sambil menambah info di indomemo, semoga anda juga mendapatkan manfaatnya (Shap).

Dari Waktu ke Waktu

podjokcoklat.com

Cerahkan hari anda, dengan kelezatan cokelat, cake/cookies, & parcel dari podjokcoklat.com. Dengan harga terjangkau, kami memberi anda lebih dari sekadar cokelat bermutu yang dibuat khusus untuk anda. Pesan sekarang (021) 701-895-40, (021) 701-895-35 atau 0816-132-3161

klikmelilea.com

Memadukan 3 Fungsi: Makanan Organik -Naturopati -Penyembuhan Alami. Kesehatan anda, adalah segalanya.. Kirim email ke: klikmelilea@yahoo.com

Demam High IQ versus High EQ..? Kembali pada buku yang mengawali semuanya. (Dari buku “Emotional Intelligence, Why It Can Matter More Than IQ.” by Daniel Goleman)

Mengapa saya menulis review buku ini?  

Pertama, karena buku ini adalah “mbahnya” dari semua buku tentang teori EQ yang sekarang ini telah luas beredar. Kemudian buat saya, topik ini sangat menarik untuk dipelajari. Teori ini menghembuskan udara optimisme/positif dalam usaha memberikan bekal bagi anak-anak kita. Seperti membuktikan bahwa setiap anak dengan latar belakang pendidikan orangtua apapun memiliki harapan untuk sukses. Saya berencana untuk secara bertahap membaca dan memberikan review dari buku-buku yang berhubungan dengan teori ini, oleh karena itu adalah penting bagi saya untuk meletakkan pondasinya bagi artikel-artikel terkait yang akan datang.

Daniel Goleman Ph.D., adalah seorang psikolog, penulis buku, dan jurnalis dibidang sains. Goleman dilahirkan di Stockton, California pada tahun 1946. Saat ini beliau menetap di negara bagian Massachusetts. Goleman mengajar dan mendapatkan gelar Ph.D. dari Harvard University. Sang profesor juga merupakan penulis tetap dari artikel-artikel sains tentang otak dan perilaku di harian The New York Times. Selain itu, beliau juga pernah menjabat sebagai Senior Editor pada majalah Psychology Today.

Seperti telah kita ketahui, dunia psikologi sekarang ini seperti menemukan “mainan baru.” Mainan baru tersebut dikenal dengan nama teori Emotional Intelligence/Kecerdasan Emosi.  Istilah ini diperkenalkan oleh Daniel Goleman salah satunya dengan meluncurkan buku ini pada tahun 1995.   Sebelum istilah Emotional Intelligence (atau Emotional Quotient/ EQ) muncul, dunia pengukuran kecerdasan manusia dimonopoli oleh istilah Intelligence Quotient /IQ, yang mengukur kecerdasan manusia berdasarkan rangkaian tes dari aspek verbal, working memory, visual-spatial, dll.

Sampai saat ini, saya belum punya cukup informasi cukup tentang seberapa jauh pengetahuan dan pemahaman masyarakat kita tentang EQ ini. Namun saya yakin bahwa pemahaman yang baik tentang EQ akan sangat membantu dunia pendidikan dan masyarakat pada umumnya dimasa depan.

bermain bersama
bermain bersama

 Menurut Goleman, EQ mencakup 5 area sebagai berikut…

Ciri-ciri pribadi dengan IQ dan EQ tinggi berbeda-beda pada pria dan wanita, ciri-ciri…

Buku ini telah ditulis berdasarkan terobosan baru dalam penelitian-penelitian tentang otak dan perilaku manusia. Di dalam buku ini Goleman menekankan bahwa Intelligence Quotient/IQ bukan akhir dari takdir yang akan menentukan masa depan seseorang. Hal ini karena di dunia nyata terlihat bahwa orang-orang yang ber-IQ tinggi tidak semuanya menunjukkan prestasi tinggi. Demikian pula sebaliknya, ada orang-orang yang ber-IQ biasa-biasa saja, mencapai sukses yang sangat signifikan. Jadi jelaslah bahwa ada faktor-faktor lain yang ikut “bermain” dalam menentukan tingkat keberhasilan seseorang.

Adalah fakta, bahwa saat badai emosi menguasai seseorang, kecerdasan IQ bisa menjadi tidak berarti. Seseorang yang memiliki EQ tinggi akan mampu memiliki pikiran yang jernih didalam situasi buruk sekalipun. Namun ketenangan dalam situasi krisis sering tidak cukup, sehingga diperlukan juga masukan data/fakta ilmiah untuk menentukan langkah terbaik yang akan diambil.

Buku ini menunjukkan secara persis bahwa siapa saja dapat memupuk/mengembangkan dan memperkuat kecerdasan emosi masing-masing. Goleman juga menerangkan dengan detail proses-proses yang terjadi didalam tubuh kita termasuk organ-organ yang berkenaan dengan kondisi emosi tertentu.

Menurut Goleman, EQ dibagi dalam 5 area:

  1. Pemahaman atas diri sendiri (secara emosi). Kecakapan mengenali perasaan sendiri, yang merupakan kunci dari EQ.

  2. Pengaturan emosi. Kemampuan untuk mengelola emosi yang sedang berlangsung, termasuk mengatasi tekanan dan kecepatan untuk bangkit dari kesedihan/ kekecewaan.

  3. Memotivasi diri sendiri. Kemampuan untuk memotivasi diri sendiri untuk tetap tampil prima dan produktif di dalam segala macam situasi.

  4. Mengenali emosi orang lain. Kita sering menyebutnya dengan istilah empati, yaitu kemampuan untuk memahami situasi emosi yang sedang berlangsung dalam diri orang lain.

  5. Pemeliharaan hubungan. Adalah kemampuan seseorang untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain/orang banyak dengan baik. Seseorang yang memiliki kemampuan ini, akan tampil baik pada setiap situasi yang melibatkan interaksi cukup baik dengan orang banyak dan menjadi populer/bintang pergaulan. (43-44)

Derajat kemampuan masing-masing pribadi didalam tiap area tersebut bisa berbeda-beda. Namun sistem syaraf manusia itu fleksibel sekali, hal ini adalah salah satu alasan yang menyebabkan berbagai kemampuan ini dapat selalu dipelajari dan ditingkatkan.(43-44)

Ciri-ciri seseorang ber-IQ tinggi versus seseorang ber-EQ tinggi:

IQ tinggi pria: 

Ambisius, produktif, mudah ditebak, persisten, tidak mengkhawatirkan keadaan diri sendiri, teliti, kritis, bangga, kurang ekspresif, dingin, dll

IQ tinggi wanita:

Mampu menyampaikan pemikirannya dengan jelas dan yakin, menghargai segala sesuatu yang berbau intelektual, punya ketertarikan yang luas pada ilmu pengetahuan dan aspek keindahan. Juga cenderung introspektif, gampang gelisah, menyesali/menyalahkan diri sendiri, sulit untuk mengutarakan perasaannya secara terbuka.

EQ tinggi pria:

Luwes dalam pergaulan, ceria, berinisiatif, tidak mudah takut/menyesal. Peduli pada kesulitan masyarakat, mampu mengambil tanggung jawab, etis, simpatik, dan menjaga hubungan.

EQ tinggi wanita:

Terbuka, mampu mengutarakan perasaanya secara terbuka, merasa positif, hidup terasa berarti. Juga berinisiatif, tahan stress, trampil menangani orang-orang baru, spontan, terbuka dalam masalah seksual.

(45)

Selain hal-hal tersebut di atas, buku ini juga sangat kaya akan informasi tentang:

  • Bagaimana mengenali diri sendiri dalam berbagai situasi.
  • Keberadaan beberapa tahun yang merupakan “umur penentu” di dalam masa pertumbuhan anak yang dapat menentukan masa depan EQ-nya.
  • Mengasah kemampuan belajar.
  • Mengatasi “cacat sosial.”
  • Aplikasi EQ.
  • Managemen hati dan kepemimpinan.
  • Hubungan antara keadaan emosi dan kesehatan.
  • Mempelajari dan mengasah ketrampilan emosi, dll.

Demikianlah tangkapan saya tentang buku “kitab kesaktian emosi” ini.  Banyak juga lika-liku masalah emosi ya…:-)

 

Referensi:

Goleman, D. Emotional Intelligence, Why It Can Matter More Than IQ. 1995. Bantam Books: New York, New York. xiv + 352.

1 comment to Demam High IQ versus High EQ..? Kembali pada buku yang mengawali semuanya. (Dari buku “Emotional Intelligence, Why It Can Matter More Than IQ.” by Daniel Goleman)

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>