Persiapan Anak Untuk Memasuki Sekolah Kindergarten/ Taman Kanak-Kanak di Amerika Serikat (Part 2. Aspek Membaca, Menulis, & Kecakapan Fisik)

…bercakap-cakap dengan anak perihal namanya, dan huruf-huruf yang termasuk di dalamnya. Cantumkan nama anak anda sedapat mungkin, pada gambar atau foto-foto anak anda…
Halo pembaca, demikian ini akan saya sajikan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Selamat membaca, semoga membawa manfaat.
Persiapan anak untuk memasuki kindergarten/taman kanak-kanak di Amerika Serikat, menurut “Connecticut State Department of Education”:
II. Aspek Membaca dan Menulis.
Sebelum memasuki sekolah taman kanak-kanak, anak sebaiknya sudah mampu untuk:
-
Menunjukkan ketertarikan pada kegiatan membaca
-
Memilih buku yang disukai dan mengutarakan mengapa ia menyukainya. Menceritakan kembali cerita yang disukai.
-
Menangani buku dengan wajar.
-
Mengenali beberapa huruf.
-
Mengenali dan menuliskan nama panggilannya (kata pertama namanya).
-
Menggunakan pensil, spidol, dan krayon untuk menggambar dan menulis.
Yang dapat dilakukan orangtua untuk mempersiapkan kemampuan ini:
-
Menunjuk dan menyebutkan papan-papan nama yang familiar/populer/mudah dikenali anak atau label-label yang terdapat di sebuah toko.
-
Membacakan buku beberapa kali kepada anak, dan memberikan pertanyaan tentang isi cerita dalam buku tersebut. Bermain peran tentang cerita yang ada di dalam buku, menggunakan boneka manusia, binatang, atau puppet.
-
Membaca buku sesering mungkin bersama anak, sehingga anak belajar untuk memegang dan menggunakan buku dengan baik. Ijinkan anak untuk berpura-pura membacakan anda cerita favoritnya dari buku tersebut.
-
Tunjukkan huruf-huruf yang terdapat dalam nama anak pada papan-papan nama di sekitar yang dikenali anak. Tanyakan pada anak, bila ia mengenali huruf-huruf tersebut di dalam sebuah kata. Letakkan magnet-magnet hiasan berbentuk huruf di pintu lemari pendingin.
-
Bercakap-cakap dengan anak perihal namanya, dan huruf-huruf yang termasuk di dalamnya. Cantumkan nama anak anda sedapat mungkin, pada gambar atau foto-foto anak anda. Dorong anak anda untuk “menuliskan namanya” dengan menuliskan bentuk-bentuk yang menyerupai huruf.
-
Sediakan pensil, spidol, krayon, dan ijinkan anak untuk mencoret-coret dan menggambar. Sediakan kesempatan bagi anak untuk melihat anda menulis, seperti pada saat anda membuat daftar belanja atau surat-menyurat.
III. Aspek Kecakapan Fisik.
Sebelum memasuki sekolah taman kanak-kanak, anak sebaiknya sudah mampu untuk:
-
Memilih aktivitas yang memerlukan penggunaan anggota tubuh.
-
Memakai pakaian sendiri.
-
Menggunakan badannya untuk mengekspresikan sesuatu.
Yang dapat dilakukan orang tua untuk mempersiapkan kemampuan ini:
-
Beri semangat bagi anak untuk menggunakan perosotan, ayunan, berlari-lari di lapangan, melompat, atau berjalan-jalan bersama anda
-
Berlatih berpakaian bersama anak, seperti memakai baju, mengancingkan, dan menggunakan resleting.
-
Ajarkan anak untuk menari, bermain peran, dan bereksplorasi dengan menggunakan beraneka materi yang dapat digunakan seperti krayon dan cat warna, untuk mengekspresikan pemikirannya.
Baca artikel lanjutannya:
-
Persiapan Anak Untuk Memasuki Sekolah Kindergarten/ Taman Kanak-Kanak di Amerika Serikat (Part 3. Aspek Kemampuan Matematis)
Baca artikel sebelumnya:
-
Persiapan Anak Untuk Memasuki Sekolah Kindergarten/ Taman Kanak-Kanak di Amerika Serikat (Part 1. Aspek Berbicara & Mendengar)
Referensi:

Booklet Connecticut State Department Of Education
Connecticut State Department of Education. Getting Your Child Ready for Kindergarten. Hartford: The Connecticut Science Center, 2009.
Shap.
Sebaiknya umur berapa anak mulai dimasukkan ke sekolah?
Halo bunda Zilah,
Menurut pendapat saya, umur berapa anak mulai disekolahkan itu dapat dilihat dari berbagai sudut. Seorang anak dapat disekolahkan pada umur tertentu karena merupakan perwujudan dari dari rencana pendidikan dari orangtuanya. Namun umum juga terjadi, bahwa anak disekolahkan karena orangtuanya memiliki tuntutan harus keluar rumah untuk bekerja atau keperluan lainnya yang sangat penting bagi keluarga.
Perlu diingat juga bahwa pendidikan yang terbaik dari seorang anak berawal dari sang ibu. Bunda atau ibu adalah “sekolah pertama dan utama” bagi seorang anak.
Ibu Yuningtyas Satiti (Connecticut, Amerika Serikat)seorang ibu lulusan program Magister Psikologi Universitas Gajah Mada, memberikan pendapatnya sebagai berikut:
Keputusan tentang kapan orangtua akan menyekolahkan anaknya sebaiknya ditekankan pada kesiapan anak itu sendiri. Kesiapan tersebut termasuk kesiapan fisik dan mental.
Kesiapan mental anak sebaiknya diutamakan dalam pengambilan keputusan ini.
Seorang anak dinilai telah siap mentalnya untuk bersekolah bila anak tersebut sudah terlihat nyaman dan terbiasa dalam menghadapi orang banyak.
Namun disisi lain, seorang anak yang mengalami kesulitan dalam menghadapi orang banyak, biasanya terbantu dengan memasukkannya ke sekolah, selama orangtua bersifat supportif terhadap perkembangan anaknya.
Ibu Yuningtyas juga berpendapat bahwa usia 3 tahun masih termasuk dini bagi seorang anak untuk bersekolah. Terutama bila sekolah yang dimaksud adalah sekolah-sekolah dengan tuntutan akademik (matematik, bahasa inggris, dll)yang tinggi.
Orangtua sebaiknya menyadari bahwa untuk usia tersebut, sekolah adalah tempat untuk bermain, beradaptasi, dan mendapatkan teman.
Namun untuk ibu bekerja, sekolah merupakan pilihan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan meninggalkan anak di rumah menonton tv dengan seorang pengasuh. Bila hal tersebut terpaksa dilakukan, sebaiknya pengasuh tersebut memiliki kemampuan yang memadai untuk membimbing dan mendidik anak dikesehariannya.
Demikian jawaban panjang lebar dari kami Bunda Zilah, semoga bermanfaat, amin..:-)